2

Untukmu, Sayang…


Sayang…mari sini bicara, dengan hati, empat mata…
Tatap mataku mesra, kau bisa lihat hanya luap kasih yang terpancar di sana (uhukk)
Berilah ijin bibirku mengucap segala yang sebenarnya telah sering kukata
Karena kau sama paham, padamu aku cinta…

Sayang…singgasanamu kini telah terestafet sekian kali
Banyak wajah telah mengisi dengan ragam target dan janji
Kau lihat kan sayang? Semua kursi adalah amanah bagi sesiapa yang telah terdedikasi
Puluhan juta berpartisipasi, tak hendak berfikir lewat satu kali
Tak mampu kita pungkiri, mereka butuh solusi Continue reading

Advertisements
1

SALAH SIAPA INI??!!



Hujan belum reda. Gertak tegas bayu menampar-nampar bulir air yang hendak jatuh ke bumi, memapah mereka sekian senti, dan membiarkannya jatuh. Tuk tuk! Iramanya teratur, membentuk balada khas musim penghujan zona equator yang kini telah bergeser ke bulan April. Canda sang air merayu akar-akar kokoh yang menyembul di antara belukar, memaksa tanah menghempas molekulnya ke udara. Hingga bau khas itu tercium. Aroma tanah basah yang menyeruak dan tertangkap indra penciuman seorang lelaki yang terduduk di samping akar kokoh. Ia bergumam, “Aku suka bau ini. Aku suka.” Continue reading