Siapa Jingga?


Nafas wanita itu luruh, jaraknya pendek, cepat, menghentak. Dan ketika suara tangis mungil menyeruak, fase hidup dan mati yang baru saja dialami seolah bukan apa-apa. Mama…

Wanita beriman yang melahirkan pasti merasakan ini, bahwa bertumpuk-tumpuk nyeri yang menjemput ketika janinnya mencium dunia adalah bukan apa-apa. Terbayar ketika mendengar tangis bayinya pecah. Dan itu juga yang terbit di hati mama. Ketika jutaan muslim terkantuk-kantuk dalam sahur ramadhan pertamanya, mama terengah-engah mengumpulkan energi agar saya menyudahi hidup dalam rahimnya. 18 April 1988. Dan mama memberi saya nama Eresia Nindia Winata.🙂

Memang, hingga kini jika ditanya apa arti nama itu, mama selalu tersenyum. Tidak tahu. Tiga rangkaian kata yang terlalu asing dan nyentrik untuk ukuran orang Jawa dalam kurun itu. Saya  ketika mulai duduk di bangku sekolah sering kebingungan dan kecewa tiap kali guru memberi tugas untuk menuliskan arti di balik nama yang kita punya. Mama selalu punya cara untuk mengutak atik nama saya agar seolah-olah punya makna (untuk menghentikan kekesalan saya akan tugas itu). “Eresia itu sebenarnya dari Eurasia, persatuan lempeng Asia dan Eropa, artinya agung, besar, luas. Nindia itu sebenarnya dari Widya, perpustakaan. Artinya ilmu pengetahuan. Nah kalau Winata itu nama moyangmu, kakek dan kakek buyutmu punya ‘Winoto’ di ujung namanya.” Dan saya menerimanya bulat-bulat, tanpa curiga. Hehe.. Parahnya lagi, mama dan papa sering menjejak tanah baru, berpindah, melanglang. Hingga acara menuliskan arti nama ini akan sering sekali saya temui di tiap sekolah yang baru. Dan tentu saja hal ini sangat menjengkelkan.🙂

Tapi ketika tumbuh dewasa, rasanya tak penting lagi untuk memaksa mama memberi arti yang dibuat-buat untuk nama saya. Biarlah. Memang nama adalah tempat di mana segala pengharapan berhimpun, tapi saya pikir mungkin kini saya yang harus memberikan arti untuk nama ini. Bukan arti secara harfiah, namun lebih kepada makna yang berhasil saya ukir atas nama itu. Kini saya lebih setuju dengan ungkapan ‘apalah arti sebuah nama’. (Anda boleh kok untuk tidak sekata dengan pendapat saya)

Papa adalah orang madura campuran jawa, sedang mama mewarisi jawa tulen dalam darahnya. Namun tiga belas tahun lebih saya tumbuh di pesisir utara Jawa Timur. Daerah tempat kami berpindah-pindah di sepanjang pantai utara, Kalianget-Besuki-Sumberagung-Kraksaan-Probolinggo. Medio 2001, mama mutasi dinas ke Purwokerto, kampung halamannya. Sejak itu kami diharuskan menanggalkan bahasa madura dan belajar melafalkan kata dalam dialek ngapak. Kental. Meliuk-liuk. Mblukuthuk..mblukuthuk.😀

Mama dan papa memiliki saya sebagai anak bungsu dan putri satu-satunya, karena saya hanya punya satu saudara kandung, bang Adam Syuhada. Beliau lahir tepat setahun sebelum saya (3 April 1987), wah terkadang tidak terbayang bagaimana ‘jempalitannya’ mama sudah hamil saya saat anak pertamanya baru berusia 3 bulan.😀

Abang sudah jadi polisi sejak tahun 2005, sudah menikah di tahun 2010. Lelaki dewasa dan tampan (aww, abang saya memang sangat tampan ;P) yang menopang dan melindungi saya setelah mama. Orang yang bahkan rela selama 6 tahun membebani pundaknya dengan barang bawaan saya (karena saya selalu meninggalkan tas sekolah saya setiap hari, hehe..). Orang yang saya tahu penjagaan dan pengorbanannya atas mama dan saya sangat luarbiasa. I love him, A LOT. Yang karena cintanya, saya baru mampu menerima wanita lain dalam hidupnya selain mama dan saya, setahun setelah pernikahannya. Hehe…

Tamat dari SMA 1 Purwokerto tahun 2005, saya melanjutkan ke Teknik Industri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Namun di tahun 2006, saya berhasil menjadi taruni di sebuah akademi ikatan dinas di Jakarta, Akademi Meteorologi dan Geofisika.  Bebas dari kungkungan mama dan pengawasan papa, saya menjadi wanita yang ekspresif, lincah, tertantang mencoba beragam hal, mengeksplor banyak hal.

Namun yang paling berkesan adalah ketika saya ditarik dalam medan magnet yang begitu kuat. Terhisap dalam pusaran orang-orang yang luar biasa. Subhanallah. Ini tarikan magnet yang tidak biasa, tidak serupa dengan melesatnya partikel elektron solarwind yang tergesek di muka magnetosphere lalu menimbulkan gesekan yang keras dan panas. Tidak serupa itu. Tarikan ini dahsyat. Menyeruput hidup saya yang begitu abu-abu ke dalam wadah yang indah, kokoh, dan mulia.

Yap, saya ikut halqah. Saya mengaji. Saya menuntut ilmu islam. Saya berkumpul dengan orang-orang shalih. Saya menemukan tujuan hidup. Untuk kesekian kalinya, saat itulah saya hidup. Benar-benar hidup. Alhamdulillah… pencarian saya dalam rimba euforia masa muda ternyata menemui bukti. Insya Allah saya akan tetap ada di jalan ini, di jalan dakwah, di jalannya orang-orang yang menyeru. Serupa Abu Dzarr, serupa Khaulah binti Azwar, serupa Bilal, serupa Mush’ab, serupa Yasir, serupa Sumayyah. Berdiri tegak untuk kemuliaan Islam. Insya Allah.

Kini saya punya rumah kedua di Yogyakarta, sebuah kantor tempat saya bekerja. Stasiun Geofisika BMKG Yogyakarta. Hmm, bagi akhwat yang berkenan datang, dengan senang hati saya persilahkan.

Inilah saya. Semburat Jingga. Penggila suasana saat fajar dan senja. Saya bukan apa-apa di mata orang lain. Tapi saya akan berusaha menjadi sesuatu di hadapan Tuhan saya, Allah Azza Wa Jalla.

Lakukanlah semaumu asal Allah suka. Ini quote berharga saya. Kebebasan yang masuk akal dan tak terbantahkan logika. Bahwa percuma melakukan banyak hal, membicarakan banyak hal, merencanakan banyak hal, memimpikan banyak hal, namun Allah tak suka. Dan tentu saja, ketika DIA tak suka, tak mungkin ada ridha yang menyapa anda. Maka mulailah bertindak, bergerak, berbicara sesuai dengan batasan dan standar yang sudah ditentukan olehNya, yaitu hukum syara’.

Selamat bertualang, semoga Allah mencintai saya, anda, kita. Aaamiin.

Salam hormat saya,

~Semburat JINGGA~



55 thoughts on “Siapa Jingga?

  1. aku salut dengan tulisan mu,, slam kenal ibu jingga,,, aku kan selau me maknai setiap titik goresan pena mu..!!

    • diiih, mbakkuw sayang mampir euy…pasti mba, pasti aku akan bikin buku, sekarang aku lagi banyak baca, memperkaya diksi, pengetahuan, sudut pandang,,ntar kalo ilmunya dirasa cukup, aku akan nulis…hehehe…

    • nggeh pak, karena mau dicari2 kaya apa juga nama saya tetep ga ada artinya. cuma kemarin2 sempat iseng search nama2 bahasa yunani, dan ternyata eresia itu punya arti kumpulan aturan dalam sebuah sistem dalam bahasa yunani. lumayanlah…🙂

  2. syukron ukhti atas motivasi ” KAMI MENOLAK MENYERAH! “…tulisan itu sangat menggambarkan diri saya, dan dari tulisan itu pula saya temukan jawabanya…” SAYA JUGA MENOLAK MENYERAH “

  3. Kata-katanya membius, membuatku sabar menitih langka kata, dari setiap penggal makna. Namun inti dari hati dan paragraf ini tidak terasa kabur. Khilafah sebuah sistem yang kaffah yang akan membuat kita muliya.

  4. Pingback: Free Piano

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s