0

Tak Akan Lama Lagi


dfRasanya sudah tak akan lama lagi. Aku akan duduk sambil menggenggam tanganmu pada suatu pagi. Dengan senyum lepas dan secangkir kopi. Engkau akan mulai mengulangi cerita yang telah sekian ratus kali kau kisahkan, di sini, di buku, menjelang tidurku, dan kau telah lupa. Aku akan tersenyum memandang matamu yang mulai berkabut halus dan mengusap rambutmu yang tanpa hitam lagi.

Apapun itu. Aku mencintaimu.

0

Setidaknya Saya Punya Sajadah…


SHIMI+-+Sujud+Tanda+Syukur

Hamba ingin berbicara dengan isak dan tangis di sini ya Allah. Di selembar kain bersih suci yang bisa mendentumkan doa dan kepayahan hamba langsung kepada Engkau. Dengan kepala yang tanpa kebanggaan dan rasa sombong, dengan hati yang merendah dan berpasrah. Bergantung pada selain Engkau hanya fatamorgana, benar menipu dan menorehkan luka. Jika gerimis dan kegamangan dalam hati ini belum reda, hamba mohon mampukanlah hamba berdamai dengannya. Hamba samasekali miskin papa, tidak memiliki tempat mengadu dan menyembah selain kepada Engkau. Usap perasaan hamba dan angkatlah beban darinya. Rabbighfirli…

1

Sekedar Reformasi Sudah Basi!


cx_VVDLLEBu-3UGKWVmuCmt_Twd9bK9jhJowfc9UahZohJHpZdtDhLfst3lVjiLcSXvOYPsYXkoGS3pXKXdB6JjbDKwUEinzXhBTHFcN15loNsU32nAPFb6pr-rbcBbOAzAgI1vKjIK30ECej4okMxzmTCekeMKhPYnlArr4Xck=w485-h303-nc

Gemar blusukan tidak berarti pro pada rakyat. Hal ini terbukti pada Jokowi dan kabinet yang dipimpinnya. Baru 100 hari menjabat, tiga rapor merah sudah disandang. Survey dari LSI (Lembaga Survey Indonesia) mengantongi data ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi. Ketidakpuasan 53.11% di bidang hukum, 53,86% di bidang sosial, dan 49.72% di bidang politik. Angka harapan dan kepuasan atas Jokowi yang melambung hingga 71.73% semasa pemilu 2014 kemarin, langsung melempem ke angka 42.29%, kepercayaan masyarakat menguap lebih dari 25%.

Wacana reformasi sedemikian gencar meski media enggan memberitakan. Bagaimana tidak, belum 100 hari berjalan, Jokowi sudah menghadiahi kenaikan tarif bbm nyaris 100% menjadi 9500 rupiah. Bunuh diri politik pertama terjadi saat seluruh harga bahan pokok melambung meski harga bbm diturunkan hingga mendekati harga awal. Rupiah menyentuh kurs 13 ribu per dolar, devaluasi terparah sejak mata uang ini diciptakan. Daya beli masyarakat turun, angka kemiskinan versi BPS melonjak. Perpanjangan kontrak Freeport hingga 2041 menjadi prestasi merah berikutnya. Analisis pengamat politik terbukti bahwa keberadaan Sudirman Said di ESDM hanya perpanjangan tangan mafia Berkeley sebelumnya. Continue reading

0

Siapa?


10920900_10203343824228485_8011416328921135162_n

“Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasat mata?” (Pertanyaan retoris Agustinus Wibowo terkait identitasnya sebagai bangsa China yang tidak dianggap baik di Indonesia maupun di China sendiri)

4

Teori Relativitas Dalam Kepala Kecil Saya


relativitas

“Eres, surat permohonan audiensi dan peliputan untuk media X, Y, Z sudah jadi. Hari ini diusahakan sudah diantar semua ya. Jazakillaah khayran katsiir, adik sayang..”

Saya yang sedang menekuri Pegunungan mistis Kailas di Tinggian Tibet dalam travelogue Agustinus tiba-tiba ngegeblak balik ke udara panas kota Jogja. Langsung terbayang jalanan terik dan berdebu karena pantat mobil di tengah jalan. Males? Jujur iya, tapi kan namanya amanah ya langsung dikerjain.

“Mbak Eres, jangan lupa nanti ngawasin responsi anak 2011 ya. Soal ujianya jangan lupa di bawa”

Lain waktu rekan asdos kampus mengabari tugas saya. Kembali terbayang perjalanan yang harus saya tempuh mulai pinggir barat kota Jogja hingga pinggir timur nun jauh di sana. Mendadak hidung saya terasa penuh debu knalpot, meski itu cuma dalam pikiran saja. Berat? Iya, tapi namanya tugas, ya harus dijalankan. Continue reading

0

Goodbye, Gecko!!


10433095_10203238784082547_1853282437459087826_n

Sudah lima tahun sejak akhir 2009, kontrakan kami terutama bagian dapur, dimeriahkan dengan kehadiran tokek. Dulu, dia single fighter. Menempati atap dapur sendirian, tanpa pendamping, tanpa sahabat. Dia sukses membuat malam-malam kontrakan yang tenang tanpa suara TV menjadi sedikit lebih meriah dengan suara khasnya. Meski di banyak malam, dia berhasil membuat kami ngeri untuk beranjak ke dapur, karena jelas dia bukan cicak yg gampang kabur, atau tikus yg gampang diusir, atau kodok yang gampang digusah. Kalau dia sudah nampang dalam horison pandang kami, maka dia susah move on. Kami jadi suka mematung sambil main mata dan pandang-pandangan sama si tokek ini, hingga akhirnya kami ngeri sendiri dan batal beraktivitas di dapur dan kamar mandi.

Dia asli pendiam. Deadly cool, mbakbroh. Saking diemnya, kami sampe gak sadar bahwa atap dapur jadi saksi dia menemukan partner hidup hingga beranak-pinak. Makin meriahlah malam-malam kami di kontrakan. Apalagi si tokek dan anak anaknya gemar berkunjung ke kamar mbak Nju dan membuat mbak Nju kehilangan mood untuk tidur, harus siap siaga takut sewaktu-waktu si tokek bikin markas baru di kamarnya. Continue reading

0

Monolog Sana Sini


boneka-danbo-10-b

Ia tergenggam. Di tangan si wanita.
Pada jemari yang tanpa sela. Dalam dekapan yang tanpa celah.
Angan mereka berkelana. Di daratan bulan dengan ceruk hitam berpasir. Di paparan sahara yang gersang dan membakar. Di kutub selatan dengan salju abadi yang mematikan sendi.
Mereka saling melempar senyum. Menangis dan tertawa dari jauh. Menari di lantai kasar yang bukan pualam. Bernyanyi dengan gitar dari kayu mahoni dan senar layangan yang baru putus. Jembatan yang mereka tapaki penuh kabut. Mata memandang tak lebih dua meter. Tapi senyum tetap merekah di bibir tipis.

Langkah wanita terhenti. Tangannya kaku dan melenggang sendiri. Harusnya tangannya tidak sendiri. Tidak. Ia menoleh ke belakang. Matanya diserbu kabut. Pandangannya tidak lebih dua meter. Bibirnya tersenyum namun matanya basah. Kakinya tegak namun bahunya resah.

Wanita itu ingin melepas. Tapi ada yang tak mau terlepas.
Setiap hati harus berpulang. Dan wanita itu bukan tempatnya kembali.
Sekarang ia ingin pergi. Ia harus pergi.

“Kamu pergi ya. Please. Sudah cukup. Saya harus punya ruang baru dan bersih di dalam hati. Karena ada yang lebih siap dan pantas untuk menempati. Pergi ya. Pergi!”

*Monolog