0

Hujan Bulan Juni dan Cengkrama Sore Hari


Hei Juni, kamu datang lagi. Dan ada hujan mulai pagi hingga petang. Hujan bulan Juni memang menepati janji. Aku punya secangkir teh dan satu papan biskuit manis, bisa kita bersanding dan bercengkerama sebentar?

Aku terbaring lelah di ranjang dengan jendela yang terbuka lebar kemarin sore, menghirup bau tanah dan sesekali menyentuh hujan. Di luar gerimis, dalam hati juga gerimis. Continue reading

Advertisements
0

Realita Di Depan Mata


Screen-Shot-2014-08-27-at-4.09.4

“Dan dampak dari berzina bukan saja kerugian di dunia. Bukan cuma malu, bukan cuma rasa ketidaksiapan menjadi ibu dan ayah di masa sekolah, bukan cuma rasa takut dan waswas akan masa depan yang entah makin tidak jelas, bukan cuma menerima kekecewaan dari orang tua dan keluarga besar, bukan cuma itu.

Lebih jauh, anak yang dilahirkan di luar nikah menjadi tanpa nasab. Tidak ada hak pengasuhan apalagi warisan atasnya dari garis ayah. Dia tanpa nasab. Apalagi bila perempuan, maka dia tidak ber-binti. Dia akan menikah dengan wali hakim. Bayangkan bila semua tidak sadar akan hukum ini, dan si ayah biologis memaksa menjadi wali nikahnya, maka pernikahan sang anak menjadi tidak sah pula, menjadi tanpa nasab pula anak-anaknya.

Kengerian ini terus berlanjut, tanpa disadari tanpa diminta. Bila tidak ada yang mau peduli dan mempelajari islam, maka akan bagaimana keadaan keluarga muslim?

Ini belum hitung-hitungan dosa dan dimensi akhirat. Subhanallaah. Ini kengerian berzina. Nikmatnya sekejap, durjananya tiada tara…”

Minggu pagi itu aku larut dalam berbagi kemirisan liberalisme yang menjadi sumber borok keliaran pergaulan remaja. Sakit di hati. Saat pulang dan bergegas ke tempat parkir, seorang pemudi dengan mata berkaca-kaca memelukku tiba-tiba. Bahunya berguncang.

Lirih dia berbisik, “harus bagaimana aku mbak…aku dan adikku dilahirkan di luar pernikahan…”

Aku menarik pelan wajahnya, dan mataku jadi sama basahnya. Allahu Rabbana!

*Eresia Nindia W

0

Tak Akan Lama Lagi


dfRasanya sudah tak akan lama lagi. Aku akan duduk sambil menggenggam tanganmu pada suatu pagi. Dengan senyum lepas dan secangkir kopi. Engkau akan mulai mengulangi cerita yang telah sekian ratus kali kau kisahkan, di sini, di buku, menjelang tidurku, dan kau telah lupa. Aku akan tersenyum memandang matamu yang mulai berkabut halus dan mengusap rambutmu yang tanpa hitam lagi.

Apapun itu. Aku mencintaimu.

0

Setidaknya Saya Punya Sajadah…


SHIMI+-+Sujud+Tanda+Syukur

Hamba ingin berbicara dengan isak dan tangis di sini ya Allah. Di selembar kain bersih suci yang bisa mendentumkan doa dan kepayahan hamba langsung kepada Engkau. Dengan kepala yang tanpa kebanggaan dan rasa sombong, dengan hati yang merendah dan berpasrah. Bergantung pada selain Engkau hanya fatamorgana, benar menipu dan menorehkan luka. Jika gerimis dan kegamangan dalam hati ini belum reda, hamba mohon mampukanlah hamba berdamai dengannya. Hamba samasekali miskin papa, tidak memiliki tempat mengadu dan menyembah selain kepada Engkau. Usap perasaan hamba dan angkatlah beban darinya. Rabbighfirli…

1

Sekedar Reformasi Sudah Basi!


cx_VVDLLEBu-3UGKWVmuCmt_Twd9bK9jhJowfc9UahZohJHpZdtDhLfst3lVjiLcSXvOYPsYXkoGS3pXKXdB6JjbDKwUEinzXhBTHFcN15loNsU32nAPFb6pr-rbcBbOAzAgI1vKjIK30ECej4okMxzmTCekeMKhPYnlArr4Xck=w485-h303-nc

Gemar blusukan tidak berarti pro pada rakyat. Hal ini terbukti pada Jokowi dan kabinet yang dipimpinnya. Baru 100 hari menjabat, tiga rapor merah sudah disandang. Survey dari LSI (Lembaga Survey Indonesia) mengantongi data ketidakpuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi. Ketidakpuasan 53.11% di bidang hukum, 53,86% di bidang sosial, dan 49.72% di bidang politik. Angka harapan dan kepuasan atas Jokowi yang melambung hingga 71.73% semasa pemilu 2014 kemarin, langsung melempem ke angka 42.29%, kepercayaan masyarakat menguap lebih dari 25%.

Wacana reformasi sedemikian gencar meski media enggan memberitakan. Bagaimana tidak, belum 100 hari berjalan, Jokowi sudah menghadiahi kenaikan tarif bbm nyaris 100% menjadi 9500 rupiah. Bunuh diri politik pertama terjadi saat seluruh harga bahan pokok melambung meski harga bbm diturunkan hingga mendekati harga awal. Rupiah menyentuh kurs 13 ribu per dolar, devaluasi terparah sejak mata uang ini diciptakan. Daya beli masyarakat turun, angka kemiskinan versi BPS melonjak. Perpanjangan kontrak Freeport hingga 2041 menjadi prestasi merah berikutnya. Analisis pengamat politik terbukti bahwa keberadaan Sudirman Said di ESDM hanya perpanjangan tangan mafia Berkeley sebelumnya. Continue reading

0

Siapa?


10920900_10203343824228485_8011416328921135162_n

“Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasat mata?” (Pertanyaan retoris Agustinus Wibowo terkait identitasnya sebagai bangsa China yang tidak dianggap baik di Indonesia maupun di China sendiri)

4

Teori Relativitas Dalam Kepala Kecil Saya


relativitas

“Eres, surat permohonan audiensi dan peliputan untuk media X, Y, Z sudah jadi. Hari ini diusahakan sudah diantar semua ya. Jazakillaah khayran katsiir, adik sayang..”

Saya yang sedang menekuri Pegunungan mistis Kailas di Tinggian Tibet dalam travelogue Agustinus tiba-tiba ngegeblak balik ke udara panas kota Jogja. Langsung terbayang jalanan terik dan berdebu karena pantat mobil di tengah jalan. Males? Jujur iya, tapi kan namanya amanah ya langsung dikerjain.

“Mbak Eres, jangan lupa nanti ngawasin responsi anak 2011 ya. Soal ujianya jangan lupa di bawa”

Lain waktu rekan asdos kampus mengabari tugas saya. Kembali terbayang perjalanan yang harus saya tempuh mulai pinggir barat kota Jogja hingga pinggir timur nun jauh di sana. Mendadak hidung saya terasa penuh debu knalpot, meski itu cuma dalam pikiran saja. Berat? Iya, tapi namanya tugas, ya harus dijalankan. Continue reading