0

Genggam Gadget, Genggam Dunia


HP

Sharing WAG Ashabul Kahfi
Sabtu, 14 Januari 2018
Oleh Eresia Nindia

Assalamualaykum wr wb sobat muslimah. Semoga kesehatan dan kesyukuran selalu meliputi keseharian kita ya aaamiiin. Mari kita senantiasa bersyukur atas nikmat iman, islam, dan hidup yang Allah kasih ke kita hingga detik ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah untuk junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Aamiiin.

Terimakasih sudah diizinkan untuk sharing malam minggu ini. Malam minggu yang dulu mungkin saya habiskan dengan kesia-siaan karena jahilnya saya, tapi di sini, rekan-rekan semua berkumpul untuk saling upgrade ‘ilmu. Saya iri karena dulu saya ndak punya teman seperti rekan sekalian, tapi tetap bersyukur karena pada akhirnya saya diberikan teman shalihah juga hingga sekarang.

Nah, rekan sekalian. Smartphone, bukan hal yang aneh sekarang. Empat belas tahun lalu, jaman saya kelas 2 SMA, punya hp Nokia tipe 3315 itu luarbiasa keren. Meski itu hape bentuknya segede gaban, tapi yang pegang dan punya hape itu berasa langsung jadi Song Joong Ki, mendadak jadi pusat perhatian dan berasa tenar gitu. Karena dulu, hape itu muahal. Simcard juga mahal. Simcard pertama yang dipunyai oleh rekan sekolah saya tahun 2000 itu harganya 500ribu loh, walhasil penggunaannya terbatas di kalangan kaum berada saja.

Seiring makin canggihnya teknologi dan ketatnya persaingan bisnis digital, sekarang, handphone adalah suatu yang biasa. Hampir semua orang punya. Hampir semua orang main hape. Hampir semua orang punya sosmed. Gadget/gawai/smartphone ini jadi sesuatu yang gak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Kalo diibaratkan surat-menyurat jaman baheula, gadget itu ibarat perangko, nempeeel mulu sama kita. Kalo lupa dibawa langsung dicari. Iya apa iya? Continue reading

Advertisements
0

Belajar Mengatur Keuangan Keluarga Dengan Konsisten Menyiapkan Homemade Food Part 3


PhotoGrid_1443367310139Tips I

Setelah menu seminggu disusun, dan daftar belanja sudah dibuat, jangan lupa untuk membuat bumbu dasar pamungkas. Ada tiga bumbu dasar, yaitu putih, kuning dan merah. Ada satu lagi sebenarnya warna oranye, tp saya lebih suka mencampur bumbu kuning dan merah untuk menghasilkan bumbu oranye. Hehe..

Apa yang membuat masak di dapur jadi terasa ribet dan lama dan berantakan dan capek? Nyiapin bumbu! Apalagi kalau masakan yang akan kita buat itu bervariasi, ya sudah deh, akan habis nih waktu di dapur untuk kupas bawang, ngulek, dll. Iya apa iya? Continue reading

0

Belajar Mengatur Keuangan Keluarga Dengan Konsisten Menyiapkan Homemade Food Part 2


IMG_20150315_162557

Di part I, saya sudah menuliskan bahwa hal pertama untuk konsisten menyajikan homemadefood adalah dengan merancang menu mingguan. Kenapa mingguan? Karena untuk pegawai seperti saya, saya hanya free saat weekend, jadi mulai senin-jumat saya sudah ndak perlu lagi repot belanja, mengiris ayam, membersihkan udang atau tetek bengek mengolah bahan mentah lainnya.

Saya masak di sore hari sepulang kerja, untuk makan malam, sarapan, dan bekal makan siang keesokan harinya. Sayur dibuat saat sore. Pagi masak sayur yang sama untuk bekal, karena saya dan suami hampir ndak pernah sarapan nasi+lauk saat weekday, kami hanya konsumsi buah saja. Yes sayur masak dua kali karena gak akan bagus bertahan lewat 6 jam. Continue reading

4

Belajar Mengatur Keuangan Keluarga dengan Konsisten Menyiapkan Homemade Food Part 1


PhotoGrid_1443182943980

Ah alhamdulillah pindah ke tangerang punya banyak sekali hal untuk dipelajari, belajar adaptasi, belajar kenalan, belajar pola hidup, pola tidur, pola kerja dan lainnya. Masih banyak sekali hal yang harus ditata dan diperbaiki, ada kepingan2 yang masih belum pada tempatnya, dan terus putar otak untuk menyiasati. Sekarang punya jam kerja reguler senin-jumat, berbeda saat dinas di Jogja dengan sistem shift yang jauh lebih fleksibel. Di sini harus berangkat pagi, sampe rumah menjelang maghrib. Alokasi untuk membaca buku, tatabbu’, mutholaah, dan agenda lain masih belum menemukan tempat yang selayaknya. Semoga terus diberikan kesehatan dan kemampuan menghandel semua dengan baik. aamiin. Continue reading

1

Cinta Itu…


????????????????????????????????????

air matanya jatuh sebelum, ketika, dan selepas aqad – 26 Januari 2015.

Mencintai bukan tentang sekedar berpandang mata lalu tersenyum selamanya, di atas itu kita tau ada segenap konsekuensi untuk saling menopang dan berbagi. Apalagi cinta itu digenggam dengan pernikahan, maka paripurna sudah. Setiap hati yang terikat di sana harus punya bahu yang tangguh untuk saling bersandar, hati yang lapang untuk menerima perbedaan, nyali yang tegar untuk berhadapan dengan masalah, dan tentu saja tangan yang kokoh untuk selalu berpengangan. Sejak tujuan bahtera pernikahan adalah bersandar di jannah Allah, maka ketaatan pada Pencipta Alam merupakan sesuatu yang mutlak. Semutlak kebutuhan manusia akan oksigen, yang tanpanya maka berhentilah degup jantungnya. Dan aku telah memiliki keduanya, cinta yang dipupuk dalam pernikahan..

Untuk lelaki yang padanya aku pasrahkan surga dan nerakaku, terimakasih. Terimakasih telah gigih beristikharah hingga namaku yang muncul di akhir pengharapanmu. Aku tau tidak ada hati yang perawan dari rasa cinta, maka terimakasih telah memilihku dari deretan nama yang dulu pernah membuat hatimu pingsan dan kepayang. Aku sudah menuliskan apa kelebihanku dalam biodata, yang kutulis adalah: TIDAK ADA kalaupun ada, maka kelebihanku adalah BERAT BADAN. Pun demikian, engkau tetap maju, pantang menggulung layarmu yang sudah terkembang. Continue reading

0

Hujan Bulan Juni dan Cengkrama Sore Hari


Hei Juni, kamu datang lagi. Dan ada hujan mulai pagi hingga petang. Hujan bulan Juni memang menepati janji. Aku punya secangkir teh dan satu papan biskuit manis, bisa kita bersanding dan bercengkerama sebentar?

Aku terbaring lelah di ranjang dengan jendela yang terbuka lebar kemarin sore, menghirup bau tanah dan sesekali menyentuh hujan. Di luar gerimis, dalam hati juga gerimis. Continue reading

0

Realita Di Depan Mata


Screen-Shot-2014-08-27-at-4.09.4

“Dan dampak dari berzina bukan saja kerugian di dunia. Bukan cuma malu, bukan cuma rasa ketidaksiapan menjadi ibu dan ayah di masa sekolah, bukan cuma rasa takut dan waswas akan masa depan yang entah makin tidak jelas, bukan cuma menerima kekecewaan dari orang tua dan keluarga besar, bukan cuma itu.

Lebih jauh, anak yang dilahirkan di luar nikah menjadi tanpa nasab. Tidak ada hak pengasuhan apalagi warisan atasnya dari garis ayah. Dia tanpa nasab. Apalagi bila perempuan, maka dia tidak ber-binti. Dia akan menikah dengan wali hakim. Bayangkan bila semua tidak sadar akan hukum ini, dan si ayah biologis memaksa menjadi wali nikahnya, maka pernikahan sang anak menjadi tidak sah pula, menjadi tanpa nasab pula anak-anaknya.

Kengerian ini terus berlanjut, tanpa disadari tanpa diminta. Bila tidak ada yang mau peduli dan mempelajari islam, maka akan bagaimana keadaan keluarga muslim?

Ini belum hitung-hitungan dosa dan dimensi akhirat. Subhanallaah. Ini kengerian berzina. Nikmatnya sekejap, durjananya tiada tara…”

Minggu pagi itu aku larut dalam berbagi kemirisan liberalisme yang menjadi sumber borok keliaran pergaulan remaja. Sakit di hati. Saat pulang dan bergegas ke tempat parkir, seorang pemudi dengan mata berkaca-kaca memelukku tiba-tiba. Bahunya berguncang.

Lirih dia berbisik, “harus bagaimana aku mbak…aku dan adikku dilahirkan di luar pernikahan…”

Aku menarik pelan wajahnya, dan mataku jadi sama basahnya. Allahu Rabbana!

*Eresia Nindia W