0

A No No Country (Irony)


the-man-behind-the-mask1

Keep on wonder how people now posessed n obsessed on a label but never really pay atention on crucial point and implementation.

One says “I am nationalist, being hater for anycountry who defeat his national football team, but really dont care when almost hundred percent of his natural source stolen by United of Snakes”

One says “I am Pancasilais, being so rampant n giving too much prejudice when a citizen of INA can’t spell pancasila perfectly, but keeping on cool when facts say that NONE of those values in Pancasila are ever done. NONE.”

One says “I am Anti capitalist, banned every well-known branded food, label, cosmetic-stuff, etc but live good n never feel annoy with all derivative thoughts from that rubbish ideology. You keep on believe in democracy, freedom of speech, united nations, etc? Yes? :D”

One says “I am scientist, give high appreciation on scientific research, never accept any idea in a rush, appreciate mostly to objectional view and smart discussion, BUT believe there’s no such almighty -calls GOD- who creates every single thing. Deeply believe to irrational n dogmatic evolution theory. Keep on say that LIFE comes from random accident without anything create it. (See how even they (evolusionist) cant make any logic evidence why it’s always LEVO protein build up the living thing)”

One says “I’m muslim, goes well to mosque five times a day, give hysteria effect to a song sung by maher Zain, but being a freak when someone else shout out TERAPKAN SYARIAH dan KHILAFAH”.

Whats going on here? Just tell me, anybody… ANYBODY!

 

*Semburat Jingga*

 

 

0

Sasa dan Saroh (Time Flies!)


webjongillustrations101gg

Pagi hari 8 Agustus 13 belas tahun yang lalu, saya yang saat itu baru naik kelas 3 SMP tergopoh-gopoh masuk ke rumah bulik (adiknya mama). Embun belum purna menguap, matahari belum sepenuhnya keriap. Rumah itu kosong melompong, tapi saya tau ada gadis cilik 4 tahun yang masih pulas tertidur di kamarnya. Dengan hati yang sesak oleh rasa gembira dan haru, saya membangunkan putri tidur itu.

“Saroh, adek wis lair..”

Yang tidur hanya bergerak siput. Saya sentuh pahanya, dan basah. Semalaman celananya basah karena ompol dan tidak ada yang sempat mengganti. Saya bangunkan berulang kali hingga akhirnya dia membuka mata, menangis, dan berteriak mencari ayah ibunya. Dia tidak terbiasa membuka mata di pagi hari dengan melihat sosok lain selain ayah ibu, maka kehadiran saya di kamarnya membuat dia jengkel dan merasa ditinggalkan.

Continue reading

0

Nothing Lasts Forever


1375175_4797057664087_1355639294_n

Di manapun, kehilangan dan perpisahan akan selalu menyakitkan. Sekuat apapun kita berusaha untuk tegar, tersenyum dan tabah, tetap saja mata ini akan mendanau. Saya sering merasakan perpisahan dengan kerabat atau sahabat, baik karena momen pindah tempat ataupun karena pindah dunia. Perpisahan pertama yang membuat hati saya benar-benar ngilu adalah saat kami sekeluarga harus pindah ke Perumahan Sumberlele, meninggalkan hunian lama di Kebonagung. Saat itu usia saya tidak lebih dari enam tahun. Masih cuek keluar rumah dengan mata berbelek dan hidung berkerak ingus. Saya menangis meraung-raung saat harus meninggalkan dua nenek yang selama ini selalu menjaga saya jika mama dan papa pergi kerja. Mereka tidak punya hubungan darah samasekali dengan saya, tapi saya mendapat pengasuhan yang tulus dan mulus di tangan mereka.

Momen kedua yang tidak kalah menyakitkan adalah ketika saya sekeluarga harus pindah. Lagi. Entah kepindahan untuk keberapa kali. Bukan pindah desa, kecamatan, atau kabupaten. Tapi provinsi. Saya menyudahi episode kehidupan saya dari Kraksaan, kota mini di kawasan utara Jawa di timur sana, beralih ke Purwokerto, tempat sejuk yang dekat dari Gunung Slamet. Saya sudah remaja saat itu. Sudah mampu memilih teman. Mampu berorganisasi. Bahkan sudah jatuh cinta untuk kali pertama. Continue reading

3

Cinta Adik Buat Abangnya


*Kesederhanaan membalut selaksa kasih yang tiap saat ku merasainya, sejak pertama ia mencondongkan bibir mungilnya saat aku merangsek keluar dan menghirup dunia hingga kelak purna usianya. Tidak perlu jatuh untuk mencintainya…*

“Abaaaaaaaang…”,

Dengan rengekan manja inilah aku kisut dalam kelelahanku, menyerah dari jilatan siang. Dan engkau segera berbalik menatapku. Kau pun lelah, keringatmu juga menetes. Tapi sebisa mungkin kau hadirkan sebuah senyum, menyodorkan kedewasaan yang teramat. Setelah menarik nafas panjang satu dua kali, maka kau gendong tas sekolah yang tadi kubuang. Tanganmu yang basah meraih kuat tanganku, membuatku tak punya alasan untuk meneruskan ‘acara ngambek’ yang dengan gamblang kupertontonkan hampir setiap hari di 600 meter trotoar panas yang membentang antara sekolah dan rumah.

“Abaaaaaang…..!”

Gesit kutarik sejumput kaos belakangmu, kucubit kuat-kuat lengan ringkihmu, hanya karena aku sungguh tak rela melihat kau mengambil sepotong roti keju kesukaanku. Aku yang mampu melihat ubun-ubun kepalamu -bahkan saat kau berjinjit sekalipun- merasa tak cukup hanya dengan mencubit lengan, aku segera tarik rambutmu hingga terlepas sekian helai. Ada bulir bening yang terbit dari mata sipit itu, kau hanya menatapku sekejap tanpa berkata-kata, menahan sederet ketakrelaan yang mungkin teralamatkan padaku. Tapi kau diam. Dan aku berbalik, tanpa kasihan, tanpa menyesal. Continue reading

1

Bidadari Dalam Kanvas Sederhana


 

Aku sama sekali tak pernah membayangkan bahwa di bumi tempatku berpijak, bumi di mana kebanyakan para musafir melupakan tujuan hakikinya, aku mampu melihat BIDADARI!

Bagiku gambaran bidadari dalam Al-Qur’an adalah final

Mereka sempurna!

Tak mungkin kujumpai bidadari dengan wujud yang lain.

 

Itu dulu, sebelum kutemui bahwa kehidupan dunia mampu menyuguhkan sosok bidadari yang lain.

Bidadari yang kutemui itu tak bermata jeli, tak selalu perawan, tak selalu muda, tak selalu putih mulus kulitnya, tak semua semampai.

Bidadari-bidadari itu terlukis dalam kanvas yang sederhana

Terekam dalam jejak kehidupan yang sederhana

Terpotret dalam kenangan yang sederhana

Tercatat dalam peristiwa sederhana

Continue reading

2

MAU tapi TAK MAU (berusaha)


Adakah jalan taqwa itu manis? Nyaman? Tentram? Santai?

Adakah jalan menuju jannah itu mudah? Bebas? Semaunya?

Jika BENAR surga itu MURAH dan MUDAH, mengapa Rasulullah tak berhenti meski siksaan datang bertubi? Mengapa keluarga Yasir tak mengakui saja sekutu Allah? Mengapa Bilal bin Rabah al-Habsyi tidak kafir dari keimanannya saja? Mengapa Mush’ab bin Umair meninggalkan harta, tahta, dan kejayaannya? MENGAPA?

Yap, jawabannya : karna surga itu MAHAL !! ^___^

Kok MAHAL? Allah kan Maha Pemurah, Maha Pengasih, Tak ada ZAT yang melebihi KEMURAHAN ALLAH dalam memberikan kasih sayang dan rahmat. TAK ADA! Lalu mengapa surga itu MAHAL? ^_^ Continue reading

0

Saudariku, tersenyumlah…



(Special For My beloved Sista, Adhim Salamiani, yang kini telah menjadi istri dari Kak Syawaldin Ridha) ^__^

Mata ini telah menyaksi sebuah alur panjang perjuangan akal melawan hati, medan gelut yang tak pernah lelah menokohkan cinta dan dakwah di laga nyali. Pernah mata ini tersadar di kala shubuh siap mematuk kelam, mendengar sesenggukan tangis yang pecah antara sesak yang memuncak dengan keyakinan yang tak terlekangkan. Sepasang mata lain telah terjerembab dalam genangan isak yang dalam, memohon kekuatan pada Sang Pencipta Malam. Sajadahnya basah, doanya tumpah ruah. Continue reading