0

Kabar Bahagia Untuk Para Warrior Gangguan Mental Emosional


15776930_10207807295252471_6744336934280030606_o

Saya tau betapa sulit dan pengap ketika kita memiliki gangguan mental emosional. Entah depresi, anxiety, atau gangguan mental dengan diagnosis beragam yang lain. Saya penyintas gangguan mental juga, dengan diagnosis depresi paska melahirkan dan bipolar siklotimia (i dont do self-diagnosis surely). Meskipun saya sudah sembuh sekarang, tapi saya tidak akan pernah menganggap enteng apalagi sampai mengerdilkan apa yang dialami rekan-rekan sekalian yang saat ini masih bergelut dengan sakit mentalnya. Tidak ada yang tau betapa gelap, sibuk, acak adutnya pikiran dan perasaan kita, karena gangguan ini tidak kasat mata. Kita tetap tersenyum, berbicara, dan mencoba tampak senormal mungkin dalam menjalani rutinitas kita. Banyak sekali berita yang menunjukkan bahwa saking tidak tampaknya penyakit ini, orang-orang yang kita sayangi bisa dengan tiba-tiba pergi karena melakukan self harm atau suicidal action karena ternyata mereka memiliki gangguan mental emosional. Untuk anda yang sedang bergulat dan berjuang dengan cobaan gangguan mental emosional yang begitu menyita energi, fokus, perasaan dan menimbulkan penurunan kualitas hidup, izinkan saya memberikan semangat, pesan cinta, dan kabar bahagia:

1. Anda sungguh luarbiasa dan kuat, tidak semua orang diberi ujian sakit yang tak kasat mata dan dianggap mengada-ada, padahal sakit ini telah menyita kekuatan anda dan bahkan membanting anda di titik terendah hidup anda. Well, you are awesome, barakallahufiikum.

2. Percayalah, semua sakit ada penawarnya, setiap kesusahan berjodoh dengan dua kemudahan. Penyakit mental emosional anda adalah penyakit yang bisa disembuhkan hingga tuntas ke akar. Continue reading

Advertisements
0

A No No Country (Irony)


the-man-behind-the-mask1

Keep on wonder how people now posessed n obsessed on a label but never really pay atention on crucial point and implementation.

One says “I am nationalist, being hater for anycountry who defeat his national football team, but really dont care when almost hundred percent of his natural source stolen by United of Snakes”

One says “I am Pancasilais, being so rampant n giving too much prejudice when a citizen of INA can’t spell pancasila perfectly, but keeping on cool when facts say that NONE of those values in Pancasila are ever done. NONE.”

One says “I am Anti capitalist, banned every well-known branded food, label, cosmetic-stuff, etc but live good n never feel annoy with all derivative thoughts from that rubbish ideology. You keep on believe in democracy, freedom of speech, united nations, etc? Yes? :D”

One says “I am scientist, give high appreciation on scientific research, never accept any idea in a rush, appreciate mostly to objectional view and smart discussion, BUT believe there’s no such almighty -calls GOD- who creates every single thing. Deeply believe to irrational n dogmatic evolution theory. Keep on say that LIFE comes from random accident without anything create it. (See how even they (evolusionist) cant make any logic evidence why it’s always LEVO protein build up the living thing)”

One says “I’m muslim, goes well to mosque five times a day, give hysteria effect to a song sung by maher Zain, but being a freak when someone else shout out TERAPKAN SYARIAH dan KHILAFAH”.

Whats going on here? Just tell me, anybody… ANYBODY!

 

*Semburat Jingga*

 

 

0

Sasa dan Saroh (Time Flies!)


webjongillustrations101gg

Pagi hari 8 Agustus 13 belas tahun yang lalu, saya yang saat itu baru naik kelas 3 SMP tergopoh-gopoh masuk ke rumah bulik (adiknya mama). Embun belum purna menguap, matahari belum sepenuhnya keriap. Rumah itu kosong melompong, tapi saya tau ada gadis cilik 4 tahun yang masih pulas tertidur di kamarnya. Dengan hati yang sesak oleh rasa gembira dan haru, saya membangunkan putri tidur itu.

“Saroh, adek wis lair..”

Yang tidur hanya bergerak siput. Saya sentuh pahanya, dan basah. Semalaman celananya basah karena ompol dan tidak ada yang sempat mengganti. Saya bangunkan berulang kali hingga akhirnya dia membuka mata, menangis, dan berteriak mencari ayah ibunya. Dia tidak terbiasa membuka mata di pagi hari dengan melihat sosok lain selain ayah ibu, maka kehadiran saya di kamarnya membuat dia jengkel dan merasa ditinggalkan.

Continue reading

0

Nothing Lasts Forever


1375175_4797057664087_1355639294_n

Di manapun, kehilangan dan perpisahan akan selalu menyakitkan. Sekuat apapun kita berusaha untuk tegar, tersenyum dan tabah, tetap saja mata ini akan mendanau. Saya sering merasakan perpisahan dengan kerabat atau sahabat, baik karena momen pindah tempat ataupun karena pindah dunia. Perpisahan pertama yang membuat hati saya benar-benar ngilu adalah saat kami sekeluarga harus pindah ke Perumahan Sumberlele, meninggalkan hunian lama di Kebonagung. Saat itu usia saya tidak lebih dari enam tahun. Masih cuek keluar rumah dengan mata berbelek dan hidung berkerak ingus. Saya menangis meraung-raung saat harus meninggalkan dua nenek yang selama ini selalu menjaga saya jika mama dan papa pergi kerja. Mereka tidak punya hubungan darah samasekali dengan saya, tapi saya mendapat pengasuhan yang tulus dan mulus di tangan mereka.

Momen kedua yang tidak kalah menyakitkan adalah ketika saya sekeluarga harus pindah. Lagi. Entah kepindahan untuk keberapa kali. Bukan pindah desa, kecamatan, atau kabupaten. Tapi provinsi. Saya menyudahi episode kehidupan saya dari Kraksaan, kota mini di kawasan utara Jawa di timur sana, beralih ke Purwokerto, tempat sejuk yang dekat dari Gunung Slamet. Saya sudah remaja saat itu. Sudah mampu memilih teman. Mampu berorganisasi. Bahkan sudah jatuh cinta untuk kali pertama. Continue reading

3

Cinta Adik Buat Abangnya


*Kesederhanaan membalut selaksa kasih yang tiap saat ku merasainya, sejak pertama ia mencondongkan bibir mungilnya saat aku merangsek keluar dan menghirup dunia hingga kelak purna usianya. Tidak perlu jatuh untuk mencintainya…*

“Abaaaaaaaang…”,

Dengan rengekan manja inilah aku kisut dalam kelelahanku, menyerah dari jilatan siang. Dan engkau segera berbalik menatapku. Kau pun lelah, keringatmu juga menetes. Tapi sebisa mungkin kau hadirkan sebuah senyum, menyodorkan kedewasaan yang teramat. Setelah menarik nafas panjang satu dua kali, maka kau gendong tas sekolah yang tadi kubuang. Tanganmu yang basah meraih kuat tanganku, membuatku tak punya alasan untuk meneruskan ‘acara ngambek’ yang dengan gamblang kupertontonkan hampir setiap hari di 600 meter trotoar panas yang membentang antara sekolah dan rumah.

“Abaaaaaang…..!”

Gesit kutarik sejumput kaos belakangmu, kucubit kuat-kuat lengan ringkihmu, hanya karena aku sungguh tak rela melihat kau mengambil sepotong roti keju kesukaanku. Aku yang mampu melihat ubun-ubun kepalamu -bahkan saat kau berjinjit sekalipun- merasa tak cukup hanya dengan mencubit lengan, aku segera tarik rambutmu hingga terlepas sekian helai. Ada bulir bening yang terbit dari mata sipit itu, kau hanya menatapku sekejap tanpa berkata-kata, menahan sederet ketakrelaan yang mungkin teralamatkan padaku. Tapi kau diam. Dan aku berbalik, tanpa kasihan, tanpa menyesal. Continue reading

1

Bidadari Dalam Kanvas Sederhana


 

Aku sama sekali tak pernah membayangkan bahwa di bumi tempatku berpijak, bumi di mana kebanyakan para musafir melupakan tujuan hakikinya, aku mampu melihat BIDADARI!

Bagiku gambaran bidadari dalam Al-Qur’an adalah final

Mereka sempurna!

Tak mungkin kujumpai bidadari dengan wujud yang lain.

 

Itu dulu, sebelum kutemui bahwa kehidupan dunia mampu menyuguhkan sosok bidadari yang lain.

Bidadari yang kutemui itu tak bermata jeli, tak selalu perawan, tak selalu muda, tak selalu putih mulus kulitnya, tak semua semampai.

Bidadari-bidadari itu terlukis dalam kanvas yang sederhana

Terekam dalam jejak kehidupan yang sederhana

Terpotret dalam kenangan yang sederhana

Tercatat dalam peristiwa sederhana

Continue reading

2

MAU tapi TAK MAU (berusaha)


Adakah jalan taqwa itu manis? Nyaman? Tentram? Santai?

Adakah jalan menuju jannah itu mudah? Bebas? Semaunya?

Jika BENAR surga itu MURAH dan MUDAH, mengapa Rasulullah tak berhenti meski siksaan datang bertubi? Mengapa keluarga Yasir tak mengakui saja sekutu Allah? Mengapa Bilal bin Rabah al-Habsyi tidak kafir dari keimanannya saja? Mengapa Mush’ab bin Umair meninggalkan harta, tahta, dan kejayaannya? MENGAPA?

Yap, jawabannya : karna surga itu MAHAL !! ^___^

Kok MAHAL? Allah kan Maha Pemurah, Maha Pengasih, Tak ada ZAT yang melebihi KEMURAHAN ALLAH dalam memberikan kasih sayang dan rahmat. TAK ADA! Lalu mengapa surga itu MAHAL? ^_^ Continue reading