1

Pendakian Gunung Batur: Tiga Juta Rasanya!


IMG_20141114_004824

24 Desember 2006

Saya menangis seperti anak kecil. Bibir saya kering. Kerongkongan saya gersang. Nafas saya sudah memburu. Bahu dan paha saya nyaris kram. Saya menyesali ide ini. Benar-benar menyesal. Saya kesal pada siapapun yang menjerumuskan saya untuk ikut dalam perjalanan ini. Saya sudah tidak mampu lagi mendaki, saya pikir begitu. Dengan air mata berurai, dan lebih parahnya lagi dengan semangat yang tak bersisa, saya merengek pada beberapa senior yang menjadi pendamping perjalanan saya.

                “Saya sudah tidak sanggup, Kak. Saya mau pulang”

                “Kalau Eres menyerah sekarang, Eres tetap harus berjalan untuk turun, akan tetap capek. Dan Eres gak akan pernah tau keajaiban seperti apa yang menunggu di depan…”, Kak Nona Ohoimas berkata lirih.

Continue reading

Advertisements
0

Nothing Lasts Forever


1375175_4797057664087_1355639294_n

Di manapun, kehilangan dan perpisahan akan selalu menyakitkan. Sekuat apapun kita berusaha untuk tegar, tersenyum dan tabah, tetap saja mata ini akan mendanau. Saya sering merasakan perpisahan dengan kerabat atau sahabat, baik karena momen pindah tempat ataupun karena pindah dunia. Perpisahan pertama yang membuat hati saya benar-benar ngilu adalah saat kami sekeluarga harus pindah ke Perumahan Sumberlele, meninggalkan hunian lama di Kebonagung. Saat itu usia saya tidak lebih dari enam tahun. Masih cuek keluar rumah dengan mata berbelek dan hidung berkerak ingus. Saya menangis meraung-raung saat harus meninggalkan dua nenek yang selama ini selalu menjaga saya jika mama dan papa pergi kerja. Mereka tidak punya hubungan darah samasekali dengan saya, tapi saya mendapat pengasuhan yang tulus dan mulus di tangan mereka.

Momen kedua yang tidak kalah menyakitkan adalah ketika saya sekeluarga harus pindah. Lagi. Entah kepindahan untuk keberapa kali. Bukan pindah desa, kecamatan, atau kabupaten. Tapi provinsi. Saya menyudahi episode kehidupan saya dari Kraksaan, kota mini di kawasan utara Jawa di timur sana, beralih ke Purwokerto, tempat sejuk yang dekat dari Gunung Slamet. Saya sudah remaja saat itu. Sudah mampu memilih teman. Mampu berorganisasi. Bahkan sudah jatuh cinta untuk kali pertama. Continue reading

1

TUNAS PERADABAN GEMILANG


Unik & cerdas. Cuma itu yang sering terlintas di benakku jika kudengar celotehan dan cerita-cerita lucu dari jundi-jundi cilik penyemarak kehidupan rumahtangga musyrifah dan rekan perjuanganku. Kenapa unik? Tentu karena jundi-jundi itu tidak lahir dari orang-orang yang ber-mindset kebanyakan, tapi lahir dari rahim wanita-wanita pengemban mabda islam. Ibu yang terdidik dengan mabda dan tsaqofah islam tentu memiliki thariqah dan uslub yang khas dalam mendidik anak-anak mereka. Bukan pendidikan ala kadarnya ataupun jenis pendidikan yang umum diterapkan ibu-ibu era sekarang, tidak. Tapi jenis pendidikan yang sarat akan aqidah dan tsaqofah islam, melalui proses pendidikan yang panjang, sabar, telaten.

Kenapa cerdas? Karena meski cuma berceloteh, namun kandungan dari celotehan itu mencerminkan bahwa aqidah islam telah terpancang kuat dalam benak dan menjadi qiyadah dalam pola berfikir mereka. Jundi-jundi ini terbiasa mengaitkan segala fakta dan realitas yang mereka temukan dengan nilai-nilai islam. Mereka akan bertanya banyak hal dengan polos namun menuntut akal mereka terpuaskan. Continue reading

2

Hilvan Bin Said


Kenal ???

Wajar kalo ga kenal, karena dia bukan salah satu sahabat nabi. Namun bukan berarti anda tak perlu mengenalnya. Yuk,,,kenalan?

Hilvan bin said adalah anak kelas 5 SD. Berbeda dengan kebanyakan anak pada umumnya. Mereka akan marah ketika teman2 sekolahnya memanggil-manggil nama bapaknya, tapi tidak dengan Hilvan. Dia begitu bangga dengan sosok sang ayah, sehingga dengan bangga dia sematkan nama bapaknya di belakang namanya pada setiap buku-buku sekolahnya. Bahkan buku penghubung sekolahpun tertulis HILVAN BIN SAID. Tau gak? Saking bangganya, ketika diskusi di kelas dia seringkali pake dalil, “Kata Abahku Ustadzah.” Wah,,,kalo sudah begini “Nyerah Dah….”.

Serangkaian kegiatan sang bapak dia ikuti, dari mulai pengajian sampai aksi di jalan. Hilvan bin said begitu menikmati. Hingga suatu ketika dia ingin beramal layaknya sang ayah, “bagi2 Al Islam”. Hari itu libur tanggal merah dia bersepeda bersama adiknya untuk bagi2 Al Islam. Dengan izin dari orang tua, dibawalah beberapa eksemplar bulletin Al Islam berjudul “ Teror Amerika: Teror Hakiki Dan Ancaman Terbesar Dunia” yang hendah ia bagi2kan ke tetangga2nya. Continue reading

8

Rinai Hujan Di Sahara


Sebaris kisah manis yang aku rangkum dari dua belas bulan kebersamaanku dengannya di Maktab Al-Adhwa’-

Sosok itu kulihat pertama kali dua tahun lalu. Ia duduk di tangga masjid sambil tersenyum memandangi kehadiranku. Bibirnya tertarik halus seraya menyapaku ramah. Sungguh tidak ada yang istimewa dari penampilan fisiknya. Dia memiliki tinggi tak lebih dari 147 cm, badannya kering, matanya belo, dan hanya sandal jepit atau selop biasa yang diinjak kakinya kemanapun ia pergi. Sosok yang sangat biasa bukan? Ya memang sebiasa dan sesederhana itulah aku mengenalnya sebagai seorang sahabat sejati, kakak tercinta, teman seperjuangan, dan teman berbagi dalam lara dan ceria. Tapi sungguh keistiqomahan dan derita yang dialaminya membuatnya tampak sangat luarbiasa di mataku. Continue reading

3

Cinta Untuk Bunda


mama

BUNDA. Banyak tulisan yang menumpuk tentangnya di buku dan laptopku, tapi sekarang aku ingin membagi satu masa dalam hidupnya. Sebuah fase di mana kesabarannya sebagai seorang hamba benar-benar diuji. Jikalaulah tak ada iman, mungkin lain cerita sekarang. Bisa jadi aku tidak di sini sekarang dan merenda tulisan ini. Tapi tidak, bundaku memilih tegar, bukan menyerah ataupun pasrah. Ku begitu mencintai dan menghormatinya…

Bundaku tak pernah mengajari aku dan abang tentang apa itu kebencian, apa itu amarah. Sama seperti ia tak pernah mendidikku untuk membenci dan mudah marah. Maka tiap pahit yang ia tuai dalam hidupnya, tak pernah ia membaginya dengan aku maupun abang –kecuali jika memang kami melihatnya sendiri-. Continue reading