0

Syarat Terakhir


“Bu, masih basah di sini. Masih perih,, sakit.”

Fal meraba dadanya dengan tangan ringkih, matanya menjamah perempuan beruban yang asik mematahkan helai kangkung dari batangnya. Fal menghela, kali ini lebih menyentak dan miris. “Bagaimana mungkin ibu kuat? Perempuan pun manusia, memiliki keterbatasan. Ibu tidak mampu menembus batas itu, terlalu memaksa.”

“Menurutmu begitu?”, perempuan yang dipanggil Fal dengan ‘Ibu’ itu bangkit. Menyingkirkan nampan dan pisau dari pangkuannya. Tubuhnya memburu bingkai jendela, menyesap sinar yang masuk melewati lubang-lubang tirai berbahan tile. “Kadang, sebuah pemakluman bisa berlaku tidak untuk satu atau dua kali perlakuan buruk dan kata-kata kasar, Fal. Ia bisa berlangsung dalam rentang yang panjang, bahkan mungkin selamanya”, perempuan itu membalik badan dan memandang Fal, “Meski semuanya bisa jadi tidak berhulu dari perasaan cinta. Tapi keterbiasaan dan pengabdian terkadang menjadi alasan yang cukup.” Continue reading

Advertisements
1

HIKS, KUPIKIR ITU SUNGGUHAN!


*Flash Story By Tere Liye

 Awal dari semua kerumitan masalah ini adalah suatu malam, saat Puteri begitu semangatnya bercerita kalau dia baru saja bertemu dengan Rio, di salah-satu tempat makan tenda tepi jalan paling ramai dekat kampus kami.

“Kenapa lama sekali, Put?” Sari, teman satu kontrakan bertanya, kami sedang mengerjakan tugas desain interior di ruang tengah, bersama tiga teman cewek satu jurusan lainnya, sibuk melototin laptop.

Putri hanya tersenyum simpul.

“Bukannya lu bilang mau makan di rumah? Nggak jadi dibungkus ikan gorengnya?”Aku ikut bertanya, menoleh, “Aduh, gue kira tadi bakalan bisa ngambil bungkusan lu, Put. Laper, nih.”

“Ngambil? Perasaan selama ini yang ada ngerampok, maksa minta.” Sari menyikutku, tertawa.

Aku nyengir.

Putri masih tersenyum simpul, loncat duduk di sofa, menyalakan televisi. Continue reading

0

The Street Arts


Waj’alnannahara ma’aatsa. Dan Kami jadikan siang untuk mencari kehidupan. [An-Naba’:11]

 

Penduduk Jakarta bisa jadi adalah populasi makhluk hidup yang paling paham ayat ini. Jauh sebelum kelopak jingga bertebaran di cakrawala, maka si sopir angkot sudah harus memegang setir dan menjalankan angkot sewaannya, si pemilik warteg sudah harus mampu menyandingkan oseng kangkung dan tempe goreng di etalase kaca sederhananya, karyawan dan anak sekolah sudah harus kenyang perutnya dan bersiap menanti kendaraan umum, pengemis dan anak jalanan sudah harus mangkal di prapatan. Kalau tidak, maka uang, ilmu, waktu yang berputar di ibukota bisa jadi tidak akan menghampiri mereka.

Seperti biasa, Metromini 71 jurusan Blok M-Bintaro sudah terkapar dengan sopan di hampir setengah badan jalan, membuat klakson alphard menjerit bersamaan dengan motor bebek 80an, angkot, dan mulut-mulut pejalan kaki. Semua melengking membentuk balada khas yang teranomali dari kidung alam yang senyap dan syahdu. Maka halaman ruko dan polsek di samping kiri metromini menjadi jalan ‘alternativ’ bagi mereka yang tergencet di belakang. Sang sopir santai mengepulkan asap rokok sambil mengupas kacang rebus basi peninggalan acara begadangnya tadi malam meski jeritan klakson dan serapah tak berhenti singgah di telinganya. Belum 20 meter beranjak dari metromini, pengguna jalan ekstra sederhana itu dihadang palang melintang merah-putih. YES! Bisa dibayangkan ketika palang itu terangkat, maka jalanan akan mirip pusaran air bah jika dipotret dari atas. Penuh, nyaris tak bisa bergerak. Continue reading

1

SALAH SIAPA INI??!!



Hujan belum reda. Gertak tegas bayu menampar-nampar bulir air yang hendak jatuh ke bumi, memapah mereka sekian senti, dan membiarkannya jatuh. Tuk tuk! Iramanya teratur, membentuk balada khas musim penghujan zona equator yang kini telah bergeser ke bulan April. Canda sang air merayu akar-akar kokoh yang menyembul di antara belukar, memaksa tanah menghempas molekulnya ke udara. Hingga bau khas itu tercium. Aroma tanah basah yang menyeruak dan tertangkap indra penciuman seorang lelaki yang terduduk di samping akar kokoh. Ia bergumam, “Aku suka bau ini. Aku suka.” Continue reading

2

Menjauhlah…..!


Menjauhlah. Hadirmu mengHIDUPkan namun musnahmu menguatkan. Adamu melejitkan tapi kupilih TIADAmu yang menentramkan….

Sekian bulan lalu bisa jadi Ipus akan merasa dadanya meletup-letup jika hari selasa tiba. Ia punya alasan untuk merasa bahwa hari itu akan menjadi hari yang istimewa baginya. Hmm, tapi tidak lagi untuk saat ini. Selasa yang menghampirinya tiap minggu sama saja, tak ubahnya seperti hari senin, rabu hingga minggu. Padat agenda, sibuk bolak-balik kampus, mengerjakan tugas, mengkaji ilmu islam, dan dinas di kantor.

Ipus memandangi sebuah miniatur menara yang pada keempat sisinya terukir dua nama dan sebuah perjuangan yang tadinya mengikat komitmen pemilik nama-nama itu. Ketika kesadaran utuh menghampiri otaknya, Ipus segera meraih menara itu dan ‘kraaaaakk!’, ia mematahkannya. Hatinya berdesir saat menyadari benda yang ada di tangannya sudah tidak tegak lagi, sudah patah menjadi beberapa bagian. Tadinya Ipus berencana menyesalai tindakan bodohnya itu. Namun setelah berfikir jernih sekian detik, Ipus memutuskan untuk tidak kecewa atas tindakannya tadi. Ia kenakan jubah army kesayangannya, ia sandang backpack hitam di bahu kanannya, ia raih kunci motor, menstater kendaraan tak bergigi itu dan ia biarkan dirinya melaju menyapa angin dan tenggelam dalam rangkaian majelis ilmu bersama adik-adik kajiannya. Continue reading

0

Aku Bukan Aku yang Dulu…


Matahari yang naik sepenggalah sempat menciumi mataku hingga ia berserak dalam benderang yang menyilaukan. Tanganku tak berkutik hingga kumampu merasai sepasang kaki yang membatu di tanah tempat ia berpijak. Apalagi yang tereja dari bibir, selain kekaguman teramat pada perkasa sang bola pijar. Aku tak berlari meraih kehangatan dan kemilau itu, ia yang memegang sulur-sulur yang tergenggam di jemariku lalu menariknya perlahan, hingga aku bisa menikmati luruhnya batas ruang di antara kami, hasta demi hasta, rinci tiap detiknya.. Continue reading