2

Tiga Perempuan (Short Story By Novi Khansa)


Rico Hendarwan menandai foto Anda

Rico Hendarwan mengomentari foto Anda

Salamah Dwi mengomentari foto Anda

Rien W mengomentari foto Anda

Agung mengomentari foto Anda

Lyn memerhatikan lima notifikasi di Facebook-nya. Banyak nama-nama yang tak dikenalnya di sana. Tak lama notifikasi terus bertambah dan bertambah. Hanya nama Rico yang dikenalinya. Teman Lyn semasa SMU dulu. Hmm, lebih dari sekadar teman tadinya, pikir Lyn, tapi semua harus selesai ketika ada sesuatu yang menghalangi mereka berdua untuk bersatu. Hal itu terjawab dalam sebuah foto yang Rico tandai juga untuk Lyn. Continue reading

Advertisements
2

MILAH, Polesan Ketabahan Dalam Diam


Bagiku ritual mengelus dada adalah sebuah gerakan pasti tanpa sugesti yang biasa kulakukan bila telinga ini sudah dijejali dengan curhatan Milah. Kenapa yang namanya ketentraman, keadilan, ketenangan, dan semua jenis kosakata yang punya arti ‘nyaman’ seolah merupakan keadaan yang sulit dicapai dalam riuh rendah hidupnya yang bila kujabarkan mungkin mirip pendakian seorang Soe Hok Gie ke puncak Merbabu, meski aku tak berharap (sama sekali tak berharap) bahwa kisah Milah akan ditutup oleh kematian mirip seperti jurnalis ‘agak melek’ politik yang tercatat sebagai mahasiswa UI di akhir dekade 60-an itu. Tapi sungguh, Milah bagiku telah terpigura dalam potret ketabahan luarbiasa. Bagaimana tidak, ia telah berhasil meyakinkan dirinya untuk tidak sakit hati, padahal selama hampir 27 tahun sebenarnya ia sangat sangat sakit, sakit triple di hatinya, pikirannya, dan badannya. Entah pinjaman kekuatan darimana yang berhasil digondolnya untuk senantiasa membisiki jiwanya yang bernanah luka dengan kata “Ishbir..ishbir..”

Aku kerap merenung di penghujung malam, gelisah memikirkan keadaan sahabatku yang usianya terpaut hampir 30 puluh tahun dariku itu, hingga terkadang aku lupa berwudhu sebelum tidur karna aku telah lebih dulu jatuh tertidur dalam pengembaraan kekhawatiranku. Milah, apa kabarmu kini? Continue reading

4

Sebait Cinta Dalam GenggamanNYA


Kami tak pernah sadar bahwa sebenarnya Allah telah mengikat hati kami jauh sebelum kehidupan ini ada. Benar-benar tak sadar sampai aku bertemu dengannya pada suatu sore yang berkalut gerimis di sebuah halte busway. Keadaan kami sangat berbeda dengan pertemuan-pertemuan kami di masa SMA dulu. Aku tidak memandangnya dengan tatapan kebencian seperti dulu, mungkin karena sejak hari kelulusan sekolah ia sering hadir dalam pikiranku. Aku juga tidak punya nafsu untuk mengacak-acak rambutnya atau mencakar wajahnya, mungkin karena hatiku dipenuhi penyesalan atas sikap diamku melihat kepergiannya. Continue reading

2

Langkah Yang Tak Pernah Mati


oleh: bungarevolusi

Matahari diatas kepalaku semakin menyengat, basahan air wudhu yang menyejukan sudah tak kurasakan lagi. Semakin lama semakin panas, tenggorokan ku pun tak merasakan puas, walaupun beberapa botol air mineral sudah ku tenggak. Aku hanya bisa menghela nafas. Beberapa batu bekas intifadah tadi pagi masih terselip di saku celanaku.

“Fayyad……….!” panggilan Abu Aziz menganggetkan lamunanku.
“ya abu” jawabku dengan sedikit terpapah, karena letih masih bersarang di tubuhku.
“Imam wafat”
“innalillahi wa’inailahirajiun”
“dia waffat, ketika kau sholat dhuzur tadi. Sempat dia memanggil namamu sebelum dia menyebutkan kalimat Syahadat” jelas abu Aziz. aku langsung menundukan kepalaku, aku tau bahwa itu konsukuensi seorang mujahid yang terjun dimedan perang. Tapi rasa sedih ini adalah manusiawi. Kota ini menjadi kota darah, bagiku ini adalah sebuah langkah yang sangat menyenangkan, langkah yang tak akan pernah mati. Palestina harus terselamatkan, jiwa dan raga inilah taruhanya. Continue reading

0

Perempuan yang Menjaring Duka


0906crying-woman

“Ngomong Mas, ngomong !!!”, matanya terendam basah, tak kuasa Meta menahan air mata agar tetap pada tempatnya. Yang diajaknya bicara terus bungkam, tak berniat berubah pikiran untuk memberikan ketenangan pada wanita yang tengah dipunggunginya. Sebenarnya hatinya berdesir mendengar suara yang mengharu biru itu, tapi nalurinya berhasil meyakinkannya untuk tetap diam.

“Mas, tolong… Jangan tinggalin Meta seperti ini. Mas….”, isakannya percuma. Tangisnya sia-sia. Hingga dua polisi membimbing lelaki itu masuk mobil patroli, ia tak mau bicara. Ia biarkan wanita berkerudung itu melihatnya pergi dengan tanda tanya yang entah kapan mampu dijawabnya. Continue reading

1

DETAK PENANTIAN 84 BULAN


~ Oleh Semburat Jingga ~

Syifa ketakutan, tubuhnya menggigil tak karuan. Gadis itu takut jika apa yang berkecamuk di hatinya benar-benar menjadi kenyataan. Dia mengenggam untaian Edelweiss itu, keringat di telapak tangannya membasahi batang bunga yang telah lama mengering. Dia terus meremas bunga itu sambil sesekali berbisik perlahan. Tidak mungkin lelaki itu yang datang. Ia telah pergi tujuh tahun lalu, meninggalkan Syifa dalam balutan kecewa yang mendalam.

Syifa berlari kencang menembus malam, genangan air sisa hujan yang diterjangnya membuat jilbab dan sepatunya basah. Gadis itu terus berlari, berharap menemukan sosok yang masih tersimpan indah di ujung hatinya. Tak ada siapapun di jalanan itu, hanya ranting pohon yang terus meneteskan sisa hujan petang tadi. Syifa berhenti dengan nafas tersengal, dadanya sesak dan mukanya mulai pucat. Ia yakin melihat lelaki itu di jalanan ini tadi, saat ia mengajak mahasiswi di tempat kuliahnya dulu untuk menghadiri kajian rutin di Masjid Ar-Ridwan. Namun keraguan di hatinya membuat gadis itu tak menghiraukan apa yang diihatnya. Ia tetap berjalan mendampingi adik-adiknya menuju masjid. Dan seikat edelweiss yang ia temukan di dekat sepatunya, mau tak mau menepis kebimbangannya. Tali dari benang wol merah jambu yang mengikat bunga gunung itu menjadi bukti bahwa lelaki itu telah kembali. Continue reading