0

Bisakah Depresi Paska Melahirkan Dan Bipolar Disembuhkan Dengan Tuntas?


*Oret-oret santai dari penyintas bipolar siklotimia dan depresi paska melahirkan*

15252667_10207498115563172_4011265288140893172_o

3 orang teman kampus yang sama-sama melahirkan tahun 2016 seperti saya, sekarang sudah hamil anak kedua. MasyaAllaah… Semoga saya juga bisa segera nyusul, dengan menuntaskan 2 tahun masa pemberian ASI Sumayyah. Aamiin.

Setahun yang lalu, saat masih bergelut dan terkapar dengan depresi dan bipolar, saya begitu ketakutan saat membayangkan harus hamil dan melahirkan lagi. Proses hamil lalu melahirkan ini tidak main-main untuk saya. Proses ini membangkitkan trauma dan luka masa lalu hingga membuat saya terpuruk dalam gangguan mental emosional tanpa paham saya kenapa. 2 dari 4 psikiater yang saya datangi dan meresepkan antidepressan dan mood-balancer mengatakan, bahwa kelak, di kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya, saya akan mengalami depresi lagi. Mereka menganjurkan saya minum antidepressan mulai trisemester ketiga bila saya hamil lagi. Setahun lalu saya bolak balik mendatangi tenaga kesehatan jiwa, terapis kesehatan jiwa, para hipnoterapis, ruqyah, dan lainnya, tak lain dan tak bukan karena saya paham bahwa saya harus memaksimalkan doa dan ikhtiar. Kemanapun ikhtiar itu membawa saya, saya akan menyambarnya. Siapa yang mau merasakan mood rollercoaster, pikiran dipenuhi hal2 buruk dan negatif, kepala terasa berat, insomnia parah dan muncul ide2 gila saat baru melahirkan? Tidak akan ada! Continue reading

Advertisements
0

Monolog Sana Sini


boneka-danbo-10-b

Ia tergenggam. Di tangan si wanita.
Pada jemari yang tanpa sela. Dalam dekapan yang tanpa celah.
Angan mereka berkelana. Di daratan bulan dengan ceruk hitam berpasir. Di paparan sahara yang gersang dan membakar. Di kutub selatan dengan salju abadi yang mematikan sendi.
Mereka saling melempar senyum. Menangis dan tertawa dari jauh. Menari di lantai kasar yang bukan pualam. Bernyanyi dengan gitar dari kayu mahoni dan senar layangan yang baru putus. Jembatan yang mereka tapaki penuh kabut. Mata memandang tak lebih dua meter. Tapi senyum tetap merekah di bibir tipis.

Langkah wanita terhenti. Tangannya kaku dan melenggang sendiri. Harusnya tangannya tidak sendiri. Tidak. Ia menoleh ke belakang. Matanya diserbu kabut. Pandangannya tidak lebih dua meter. Bibirnya tersenyum namun matanya basah. Kakinya tegak namun bahunya resah.

Wanita itu ingin melepas. Tapi ada yang tak mau terlepas.
Setiap hati harus berpulang. Dan wanita itu bukan tempatnya kembali.
Sekarang ia ingin pergi. Ia harus pergi.

“Kamu pergi ya. Please. Sudah cukup. Saya harus punya ruang baru dan bersih di dalam hati. Karena ada yang lebih siap dan pantas untuk menempati. Pergi ya. Pergi!”

*Monolog

2

Xerostomia Yang Sempat Menyiksa


1047389anak-makan780x390

Saat kecil, saya sering sekali membuang makanan saya. Entah itu jatah sarapan, bekal jajan di sekolah, makan siang, atau sekedar sepiring potongan mangga yang mama wajibkan untuk dimakan sebagai asupan buah saya dalam sehari itu. Setiap ada kesempatan dan tidak ada yang melihat, saya akan membuang makanan saya. Entah dengan cara membungkusnya dalam kertas lalu saya sembunyikan, atau dengan menyelipkannya di sudut-sudut kamar, atau melemparkannya langsung ke tong sampah. Tidak satu kali dua mama memergoki buntelan makanan yang saya buang dan pasti mama memarahi atau mencubit betis saya.

Bukan cuma itu, kalaupun saya makan maka setiap makanan selain nasi, saya hanya akan menyesap sarinya, ampasnya akan saya lepeh (buang). Mulai dari daging, sayuran hijau, tauge, wortel, bihun, dan makanan lain hanya akan say kunyah sebentar, saya sesap airnya, dan saya buang. Continue reading

0

Tiyul Yang Mual, Sakit, dan Jijik


Image

Jalanan masih basah. Hujan sempat riuh menyapa sekian jam tadi, membilas abu pada daun jambu. Meredam bau. Mereka yang tertahan di ujung toko dan pepohonan bisa melangkah lagi. Semua kembali berotasi pada garis edar kesibukannya. Menggumam. Memikirkan keluarga. Merapal angka yang tertera pada bon putih supermarket. Gundah dalam deadlinenya. Terburu-buru menyetir dan menarik gas. Sementara tanah tetap merunduk, basah. Baunya dikuarkan dengan anggun ke udara oleh air hujan, menyapa hidung manusia.

Tiyul suka bau itu. Bau tanah yang bercampur akar tanaman setelah hujan reda. Bau yang mulai medio Mei ini jarang ia endus. Karena hujan sudah berjeda cukup lama. Ia sengaja berdiri di halaman toko yang sudah ditutup pintunya, mematung sambil mengamati penjual roti bakar dan tahu crispy yang berjajar rapi di sebelahnya. Pembelinya banyak, nyaris tidak ada spasi. Continue reading

0

Bibir Bincang-Bincang


Image

Terkadang, kita merasa tau tentang orang lain hingga merasa wajar dan biasa2 saja saat mengomentari, memberi kritikan, bahkan memberi sindiran. Bukan terkait hal-hal kasat mata yang nyata-nyata bertentangan hukum syara’, bukan, ini mengenai sesuatu yang di luar itu. Sedalam apa ya kita menyelami kehidupan orang yang atasnya kita ‘sok’ memberi komentar dan sindiran?

Satu contoh, ada seseorang berkata tentang si A yang berbeda kabupaten kepada saya: ‘Haduh, si mbak A itu mah susah cari suaminya, kriterianya ketinggian’. Hal serupa juga dikatakan oleh 2 atau 3 orang lainnya. Akhirnya muncullah labelling bahwa si A tsb ‘kriteria suaminya ketinggian’, dll. Saat saya mencoba ngobrol2 langsung dengan A sekali dua kali tiga kali, wah ternyata kriterianya sangat sangat logis, nothing awkward. Memang beberapa kali saat A bertaaruf, ada hal-hal teknis yang membuat prosesnya tidak berlanjut (bukan karena kriterianya susah). Saya jadi mikir, ah sayang sekali orang-orang yang melabeli akhwat ini tanpa ngobrol-ngobrol dulu dengannya. Continue reading

0

FAMILY


My code: Family! (Dominic Toretto)

 

Kalo kata si Shaw di F&F 6 sih everyone must have a code, and Dom said his code is family, means he would do anything for them, no matter what. Kalo lihat sekuel F&F memang kelihatan kalo Dom benar-benar melakukan apapun untuk menyelamatkan dan menjaga keutuhan keluarganya (whatever it takes, and whatever the way he does).

Hah, nonton F&F 6 malah membuat saya terbayang-bayang wajah mama, abang dan mbak ipar saya… Hiks!

Berbicara tentang keluarga, lingkup komunitas paling kecil ini memang selalu berarti buat siapapun. Di lingkungan ini, seseorang akan tercetak, bertumbuh, terpahat, berkembang. Pondasi paling dasar dari corak karakter, keimanan, dan kebiasaan seseorang bermula di sini. Ibu bertindak, mencontohkan. Ayah bertutur, memberi tauladan. Cetak biru bagi seorang anak tidak berhenti ketika proses genetis itu diturunkan tapi berlanjut hingga kanak-kanak. Continue reading

0

Jeda Tarikan Nafas Dan Gelembung Sabun


gelembung sabun

Aku ingin rehat. Aktivitas temporal itu begitu menjemukan. Ia kecil, tapi selalu berhasil menculik segenap fokusku. Seperti sehelai bulu kucing, yang bahkan tak terdeteksi mata saat angin meniupnya, tapi sekali saja hirupan nafasmu menyedotnya ke dalam rongga hidung, maka lengkap. Kita bisa bersin-bersin, kegelian, dan parahnya kalau sudah tergeletak rapi di kerongkongan, bulu itu jadi bibit infeksi. Hhh!

Atau mari aku ibaratkan aktivitas temporal ini serupa gurat warna jingga di paparan langit menjelang petang. Momen ini sering terlupa. Bahkan untukku yang begitu menggilainya, aku bisa lupa untuk berhenti sejenak menikmati senja. Kanvas langit senja itu begitu mudah terlewat ketika kita tenggelam dalam rutinitas harian yang begitu memburu. Apalagi memang, durasinya tidak lama. Hanya 47 detik saja Continue reading