0

Siapa?


10920900_10203343824228485_8011416328921135162_n

“Siapa yang sebenarnya menggambar garis-garis batas di muka bumi, yang kemudian mengklaim ini punyaku itu punyamu? Siapa yang membuat alam raya terpetak-petak dibatasi berbagai dinding tak kasat mata?” (Pertanyaan retoris Agustinus Wibowo terkait identitasnya sebagai bangsa China yang tidak dianggap baik di Indonesia maupun di China sendiri)

0

LALITA: Buku II Seri Bilangan Fu Karya Ayu Utami


lalita

Ayu Utami itu simbol dari misteri dengan kabut gigih yang menjulang, perkasa yang semerbak dan diksi yang menantang. Dari taun jebot sampe sekarang, saya terguling-guling dan selalu menunggu karya-karyanya.

Dulu, jaman taun 1999-an, saat saya masih duduk di kelas 6 SD dan sering mendengar tentang novel “SAMAN” sebagai novel yang berani mencongkel lembar-lembar lumpur orde baru, saya benar-benar ingin membaca novel itu. Apalagi nama pengarangnya belum seakrab NH Dini, Matu Mona, dan Marah Rusli di telinga saya. Tapi kala itu ada beberapa orang yang kontan memukas usai mengetahui keinginan saya, “Jangan baca deh, Nindi masih terlalu kecil. Itu bukunya orang dewasa”. Twewew… jadilah hingga detik ini, Saman menjadi satu-satunya karya Ayu yang belum saya baca. 😦

Buku Kedua dari seri Bilangan Fu, LALITA, sekali lagi menjahit keterkaitan antara seni, sejarah, mistisisme, dan tentu saja erotisme. Di sini, Yuda, Parang Jati dan Marja Manjali terhisap dalam keagungan masa lalu simbol Buddhisme terbesar di dunia, BOROBUDUR. Continue reading

0

The Geography Of Bliss: A Book By Eric Weiner


The-Geography-of-Bliss

Mengapa kita mempertanyakan kebahagiaan? Mungkin karena kita lebih mudah menggambarkan ketidakbahagiaan daripada kebahagiaan. Coba saja menghitung ada berapa kosakata yang menggambarkan masing-masing kondisi tersebut. Pasti lebih banyak yang menggambarkan ketidakbahagiaan. Jadi, akhirnya kita selalu mempertanyakan apakah kita bahagia, karena yang sehari-hari terbaca adalah ketidakbahagiaan. Padahal, semakin sering mempertanyakan kebahagiaan, kita justru menjadi semakin tidak bahagia.

Ini adalah sejumput pertanyaan dan hipotesa nakal yang berkelindan dalam pikiran Eric Weiner, mantan jurnalis New York Times. Dia berpikir bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang objektif, bukan lagi subjektif, yang karenanya bisa diteliti. Tekadnya membaja untuk mencari tahu lebih banyak tentang kebahagiaan dan segala hal yang terikat dengannya. Jadilah ia melompat dari satu negara ke negara lain, bukan untuk menikmati eksotisme pariwisatanya, tapi demi menyesap apa yang membuat rata-rata orang di sebuah negara bahagia, dan apa yang membuat mereka kurang bahagia. Dan ‘The Geography Of Bliss’ adalah judul buku yang merangkum semua perjalanan itu. Continue reading

0

Divortiare By Ika Natassa


divortiareIka was just so simply, chic, funny, n got my tummy having cramps as the way before. huehehe…

Divortiare=Divorce. All you could think, yes, this second book of her is all about a divorcee’s life, but truly she made it in a very different way. She packaged those failed-marriage-thing in insane but so-much-amusing way.

Dalam A Very Yuppy Wedding, Ika menceritakan bagaimana liku-liku kisah cinta Andrea dan Adjie yang berusaha mati-matian untuk saling memahami demi jenjang hubungan yang lebih serius -a marriage, NAH, di buku kedua starting pointnya justru ketika kehidupan rumah tangga sang tokoh sudah berakhir (tenang aja, beda tokoh kok, di Divortiare tokohnya itu Alexandra dan Beno)

Alexandra, seorang banker (again!), memilih bercerai dari suaminya Beno Wicaksono, dokter spesialis bedah, ketika ia sudah setengah mampus bersabar dua tahun mengahadapi sang suami yang lebih suka ‘tinggal’ di rumah sakit mengurus pasien-pasiennya daripada memperhatikan dia. Continue reading

1

A Book By Ika Natassa: A Very Yuppy Wedding


yuppy wedAs the tittle, it was a very yuppy book for me, cause I couldn’t refrain my curiousity to tear the plastic cover. Heu heu… Just 3 hours after I grabbed it from Togamas BS, i’ve read till the very last page.

Well, kesan pertama dari buku ini apa hayo? Simple cover! You just will find white cover with some simple text also. I mean, it is so determining brevity and simplicity as well. Kesan kedua apa? From the review I know It was all about the banker’s life, so me as geophysicists seen it as a new challenge.

Beberapa halaman saat baca, lalu keterusan buka halaman-halaman akhir, saya sempet kaget plus heran plus takjub plus bingung. Ika Natassa membangun novel fiksinya dengan percakapan, DIALOGUE. 90% novel ini adalah dialogue, man. Well, buat saya ini aneh tapi di saat yang sama juga merasa takjub. Continue reading

0

Review: Lust For Life by Irving Stone


This book exclusively portrayed Van Gogh’s life, Europe best painter ever. So long time before i read this book, i always thought that Van Gogh must be very popular, well-accepted, and honored person at his age. I mean, oh come on, his painting even rumoured on over a trillion rupiah, what a fantastic price!

But what i found later was so unexpected!

Hard to say, but yes, Vincent Van Gogh was discarded by his people en bloc he lost the trust from his family. Started from the decision to leave his promising career on his Uncle’s Gallery to begin opportunity in painting. Then without income, Gogh depended his life fully to his younger brother, Leo, whose become the one and only person blessed him sincerely without any purpose. This was noticed by surrounding as Gogh’s badness, and people start labelled him as parasite in Theo’s life. Continue reading