Bisakah Depresi Paska Melahirkan Dan Bipolar Disembuhkan Dengan Tuntas?


*Oret-oret santai dari penyintas bipolar siklotimia dan depresi paska melahirkan*

15252667_10207498115563172_4011265288140893172_o

3 orang teman kampus yang sama-sama melahirkan tahun 2016 seperti saya, sekarang sudah hamil anak kedua. MasyaAllaah… Semoga saya juga bisa segera nyusul, dengan menuntaskan 2 tahun masa pemberian ASI Sumayyah. Aamiin.

Setahun yang lalu, saat masih bergelut dan terkapar dengan depresi dan bipolar, saya begitu ketakutan saat membayangkan harus hamil dan melahirkan lagi. Proses hamil lalu melahirkan ini tidak main-main untuk saya. Proses ini membangkitkan trauma dan luka masa lalu hingga membuat saya terpuruk dalam gangguan mental emosional tanpa paham saya kenapa. 2 dari 4 psikiater yang saya datangi dan meresepkan antidepressan dan mood-balancer mengatakan, bahwa kelak, di kehamilan kedua, ketiga, dan seterusnya, saya akan mengalami depresi lagi. Mereka menganjurkan saya minum antidepressan mulai trisemester ketiga bila saya hamil lagi. Setahun lalu saya bolak balik mendatangi tenaga kesehatan jiwa, terapis kesehatan jiwa, para hipnoterapis, ruqyah, dan lainnya, tak lain dan tak bukan karena saya paham bahwa saya harus memaksimalkan doa dan ikhtiar. Kemanapun ikhtiar itu membawa saya, saya akan menyambarnya. Siapa yang mau merasakan mood rollercoaster, pikiran dipenuhi hal2 buruk dan negatif, kepala terasa berat, insomnia parah dan muncul ide2 gila saat baru melahirkan? Tidak akan ada!

Why should i feel this terrible feelings at my happiest moment? Why? Am i born to be bipolar and depressed? Tapi psikiater dan psikolog klinis saya tidak memberi saya filosofi radikal (mendasar) mengapa saya bipolar dan menjadi depresi di saat hamil dan melahirkan. Ada 1 dari 3 psikolog klinis yang memberikan saya edukasi tentang trauma masa lalu dan pengasuhan innerchild, tapi saya masih kurang puas.

Antidepressan dan konseling bekerja lumayan baik pada saya. Saya bisa tidur dengan lebih mudah meski tetap insomnia datang sewatu-waktu, saya bisa makan, but deeeeeeep inside saya masih merasa kosong, merasa hampa, merasa sepi, tidak menikmati kebersamaan saya dengan buah hati. Seperti ada satu luka yang dalaaaaaam yang tidak bisa disembuhkan dengan obat dan konseling-konseling itu. Saya tetap selalu marah tanpa sebab, keringat dingin selalu membanjiri saya setiap waktu, saya takut melihat dan menyapa orang-orang, saya juga sangat risih bila anak saya menangis. Saya tetap sedih. Saya tau ada yang tidak beres pada saya. Sholatnya, dzikirnya, berbuat amalan baik, bersyukur, istighfar, dan ibadah nafilah lainnya dilakukan tidak? Alhamdulillah, saya melakukan semua amalan mahdhah saya dg baik. Tapi sungguh, gangguan itu tidak berkurang sedikitpun.

Saat mendatangi total 4 psikiater, 3 psikolog klinis (yang 1 hanya konseling biasa saja), 2 hipnoterapis, 1 praktisi mindfulness. Saat saya diberi diagnosis menderita PPD/Post partum Depression/Depresi Paska Melahirkan oleh 2 psikiater (2 psikiater lainnya memberi sy diagnosis bipolar, yg masuk fase depresi saat hamil+melahirkan), saya sempat heran. Apa iya melahirkan membuat saya depresi? Bagaimana mungkin saya yang begitu merindukan kehadiran buah hati tiba-tiba berubah jadi zombie dan monster setelah melahirkan? Masuk akalkah ini? Saya begitu heran dengan dan sering bertanya… kenapa? Kalau anda membayangkan depresi itu hanya sedih atau hanya merasa down, well it isnt that simple. Saya sampai tidak bisa merawat anak dan bekerja dengan baik karena betapa suasana perasaan dan pikiran saya begitu gelap, amburadul, dan menakutkan.

Hingga suatu waktu, ada rekan di grup ketogenic fastosis yang mengenalkan saya pada support grup Kesehatan Jiwa Sehat Indonesia. Sebuah komunitas yang didirikan oleh Bu Vera Veronica dan pak Dede Mustafa. Bu Vera terutama sudah aktif sejak dulu di grup besar Kesehatan Jiwa.

Saya hanya menyimak psikoedukasi dari para terapis di grup tersebut. Saya membaca penjelasan-penjelasan yang mendasar tentang penyebab timbulnya gangguan mental dan gangguan kejiwaan (di KJSI hal ini disebut GME – Gangguan Mental Emosional)

Gangguan mental emosional bisa muncul karena luka asal atau kejadian traumatis di masa lalu. Dan rata-rata klien yang memiliki gangguan jiwa berat memiliki peristiwa traumatis/luka asal sejak masa kandungan. Sejak usia 4 bulan saat Allah meniupkan ruh pada janin, maka sejak saat itulah sang janin mampu merasakan apa yang dirasakan oleh sang ibu dan orang-orang yang ada di sekitar ibunya.

Janin yang mampu merasakan ini -meskipun bentuk tubuhnya belum sempurna berkembang- merekam dan ikut merasakan aneka emosi yang dirasakan oleh sang ibu. Sama ketika kita bisa merancang kecerdasan anak sejak janin, maka gangguan mental emosionalpun bisa terjadi sejak janin.

Emosi negatif yang kuat dan intens dirasakan oleh sang ibu akan mempengaruhi kesehatan jiwa sang anak kelak saat dewasa. Trauma ini tersimpan di pikiran bawah sadar, di mana kita saat ini tidak akan mampu ingat meski telah mencobanya.

Untuk anda yang punya gangguan mental emosional dalam diagnosis seperti anxiety, panick attack, bipolar tipe 1, 2 maupun siklotimia, ocd, psikosis, fobia terhadap aneka benda atau hewan atau keadaan, gangguan marah berlebihan, pendendam, anti-sosial, duka berkepanjangan, perasaan rendah diri dan tidak dihargai, maupun penderita psikosomatis seperti bulimia, anoreksia, sleep apnea, jantung berdebar, gerd menahun, migrain, dll, apakah anda ingat mengapa anda begitu? Apa yang menyebabkan anda punya masalah gangguan mental emosional? Apakah anda diciptakan dengan komposisi cairan kimia tidak seimbang di otak (kurang serotonin, dopamin berlebih, kortisol berlebih, kurang oksitosin) sehingga untuk beberapa waktu atau bahkan puluhan tahun anda harus mengkonsumsi obat psikotropika? Ataukah tadinya cairan kimia di otak anda normal, lalu ada sebuah peristiwa traumatis kuat yang secara perlahan mengubah komposisi kimia otak anda sehingga anda menjadi seperti sekarang? Tolong catat: ini bukan ujaran anti obat jiwa atau psikotropika – saya juga konsumen obat2 tersebut sebelum ini. Saya hanya melontarkan sebuah kemungkinan bahwa bisa jadi Allah menciptakan anda normal sempurna secara fisik dan mental tapi ada luka asal yang membuat cairan kimia di otak kita jadi tidak seimbang sehingga kita jadi punya gangguan mental emosional.

Sama seperti saya, luka asal yang menyebabkan depresi dan bipolar ternyata dimulai saat saya masih janin usia 7 bulan dalam perut mama. Inilah yang membuat saya masuk pada fase depresi hebat saat saya hamil dan melahirkan, karena kalau ditinjau dr ilmu NLP, saya mengalami lagi peristiwa di mana pertama kali saya merasakan luka tersebut. Saya bisa menjangkau luka asal tersebut saat gelombang otak saya diturunkan ke alpha-teta atau dibimbing masuk ke moda pikiran bawah sadar, sehingga apa yang tidak bisa saya ingat saat sadar penuh (otak dalam gelombang beta), bisa saya ingat. Proses ini tentu perlu didampingi oleh terapis jiwa yang berpengalaman.

Setelah pengalaman traumatis itu direstrukturisasi -bukan dihilangkan, tapi diubah sudut pandangnya- maka biidznillah secara perlahan dalam waktu yang singkat saya bisa merasakan perubahan luarbiasa pada perasaan, pikiran, dan mood saya. Saya yang biasanya akan langsung kambuh bila skip 1 pil antidepresan saja perhari, tiba-tiba di hari pertama setelah terapi merasa baik dan sehat saja. Saya teruskan 2, 3, 4, 5 hari tanpa antidepressan dan saya tetap baik-baik saja. Saya tetap simpan antidep takut sewaktu-waktu terapi yang dianggap omongkosong ini tidak memberikan efek apapun pada saya. Saya simpan antidep di sebelah kasur supaya sy bisa segera mengonsumsinya kapanpun saya punya pikiran bahaya dan relaps seperti sebelumnya.

But you know what, saya tidak pernah merasakan lagi perasaan hitam dan gelap saat saya depresi. Seminggu, dua minggu, sebulan, hingga sekarang 7 bulan, saya terus merasakan kesehatan luarbiasa tanpa antidepresan. Sekali lagi, ini bukan saya anti obat2an jiwa, tapi saya hanya ingin menunjukkan bahwa ternyata terapi itu dampaknya nyata dan radikal pada saya. Hingga bahkan saya langsung sehat secara mental sejak selesai terapi.

Lalu, semakin saya rajin menyimak psikoedukasi di KJSI, saya makin paham, bahwa pada manusia yang punya GME kompleks, biasanya punya akar masalah/trauma lebih dari satu. Dan tiap akar masalah memberikan gangguan yang berbeda.

Dan ini yang memang saya rasakan. Depresi dan mood ekstrim saya hilang, saya sehat. Tapiiii ada satu gangguan yang mengganggu saya terutama bila siklus menstruasi saya datang. Apa itu? Anxiety, atau gangguan kecemasan. Tiap siklus bulanan datang, saya langsung jd pencemas tak berkesudahan, dan saya lelah sendiri.

Akhirnya, saya putuskan untuk terapi kedua. Mencari dan merestrukturisasi akar masalah gangguan kecemasan. Dan ketemu lagi dua moment saat sy usia 1 dan 2 tahun yang jadi akar kecemasannya. Dua kejadian yang menjadi akar masalah ini simpel loh, saya cuma ketakutan saat ditinggal main di pantai (1 tahun) dan saya takut saya keluar malam melihat kelelawar keluar dari sarang (2 tahun). Sekarang, sudah 2 siklus haid saya lewati sejak terapi terakhir, dan tidak ada lagi anxiety atau yang lainnyBiidznillaah, Allahuakbar.

Para terapis di KJSI, baik pak Dede, Pak Ferry, Bu Vera, Bu Dewi tidak pernah memberikan diagnosis atau label pada member KJSI. Apalagi Pak Dede Mustafa, tidak pernah beliau memberi diagnosis bahwa kliennya punya ocd, atau psikosis dll, justru saya maupun member lain yang mengantongi diagnosis dr psikiater saat bergabung di kjsi. Hehe. Karena beliau menyadari, spektrum gangguan mental emosional itu sangat luas. Sama-sama diberi diagnosis depresipun, bisa berbeda gejalanya. Maka biasanya gangguan hanya dinamakan GME saja.

Depresi parah memang saya alami paskalahiran, tetapi saat saya telusuri, saya sudah mengalami banyak gejala GME sejak saya kecil, misal:

1. Xerostomia, kehilangan air ludah di waktu2 tertentu dan ini sangat menyiksa
2. Mood ekstrim. Saya sering heran karena saat sedang hepi saya sangat ekspresif, ekstrovert, berenergi, hangat, ramah dan saat sedang lowmood saya sangat antisosial, perenung, introvert, dll, dan hal ini masing2 bisa berlangsung sekian minggu.
3. Sangat emosional. Mudah marah, mudah tersinggung, mudah sedih, mudah bangkit, mudah gembira, dll
4. Insomnia. Saya sudah mengalami gangguan tidur sejak kelas 2 SMP.
5. Punya penyakit psikosomatis: migrain dan gerd, yang tidak pernah sembuh seberapa keras saya berikhtiar untuk sehat. Fyi dua penyakit ini hilang sendiri setelah sy terapi. Hehe..
6. Ada 3 gejala lain yang kelewat pribadi dan tidak bisa saya ulas di sini.

So here i am now, menjadi Eresia yang pulih, sehat, dan tidak takut hamil+melahirkan 4 sampai 5 kali lagi insyaAllah. Hehe. Dan apa yang saya dirasakan, dirasakan juga oleh ribuan klien pak Dede-Pak Ferry. MasyaAllah, barakallahufiikum master.

Allah selalu memberikan penawar bagi setiap penyakit, dan mari kita berikhtiar maksimal selama kita memang mampu berikhtiar. Tentunya kita tahu, bahwa yang Allah nilai adalah proses, bukan hasil. Jangan berhenti berusaha, jangan putus asa, jangan mencukupkan diri pada satu-dua metode penyembuhan, jangan menutup diri dari ikhtiar penyembuhan yang lain. Allahu ma’ana.

Salam Kesadaran Jiwa Sehat.
Eresia Nindia Winata
❤️❤️❤️❤️

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s