Cinta Itu…


????????????????????????????????????

air matanya jatuh sebelum, ketika, dan selepas aqad – 26 Januari 2015.

Mencintai bukan tentang sekedar berpandang mata lalu tersenyum selamanya, di atas itu kita tau ada segenap konsekuensi untuk saling menopang dan berbagi. Apalagi cinta itu digenggam dengan pernikahan, maka paripurna sudah. Setiap hati yang terikat di sana harus punya bahu yang tangguh untuk saling bersandar, hati yang lapang untuk menerima perbedaan, nyali yang tegar untuk berhadapan dengan masalah, dan tentu saja tangan yang kokoh untuk selalu berpengangan. Sejak tujuan bahtera pernikahan adalah bersandar di jannah Allah, maka ketaatan pada Pencipta Alam merupakan sesuatu yang mutlak. Semutlak kebutuhan manusia akan oksigen, yang tanpanya maka berhentilah degup jantungnya. Dan aku telah memiliki keduanya, cinta yang dipupuk dalam pernikahan..

Untuk lelaki yang padanya aku pasrahkan surga dan nerakaku, terimakasih. Terimakasih telah gigih beristikharah hingga namaku yang muncul di akhir pengharapanmu. Aku tau tidak ada hati yang perawan dari rasa cinta, maka terimakasih telah memilihku dari deretan nama yang dulu pernah membuat hatimu pingsan dan kepayang. Aku sudah menuliskan apa kelebihanku dalam biodata, yang kutulis adalah: TIDAK ADA kalaupun ada, maka kelebihanku adalah BERAT BADAN. Pun demikian, engkau tetap maju, pantang menggulung layarmu yang sudah terkembang.

Terimakasih karena engkau telah membuka gerbang pernikahan ini dengan sesuatu yang ahsan, dengan penuh kebaikan. Kita tidak pacaran, kita tidak TTM-an, kita bukan backstreet-an, dan bagiku ini adalah awal yang baik, dan segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula. InsyaAllah. Terimakasih telah berjuang semasa masa lajangmu, mempersiapkan diri untuk bersanding denganku. Aku anggap, apapun yang terjadi sebelum itu adalah masa lalu. Dan aku akan belajar untuk memperlakukannya sebagai masa lalu, sesuatu yang bahkan menurut Al Ghazali adalah rentangan masa paling jauh, yang tidak mampu digapai walau sepersekian mili detik. Masa lalu selalu di belakang. Aku harap masing-masing kita tidak berhasrat untuk kembali ke sana, cukup menjadikan ia cambuk dalam memantaskan diri hingga kelak kita menutup mata dalam keadaan khusnul khatimah.

Aku tau bahkan jauh sebelum masa remaja, bahwa pernikahan bahagia selama-lamanya cuma milik Cinderella, dan karena Cinderella hanya terkurung di layar kaca, maka tidak akan ada pernikahan bahagia selama-lamanya. Artinya bahtera ini akan punya masa oleng, masa badai, masa hujan, sepoi-sepoi, tenang, lalu penuh serangan. Ini seiring dengan janji Allah kepada orang beriman, bahwa tidaklah yang beriman itu akan sepi dari sapa cobaan dan ujian. Justru karena visi kita satu, maka tetap genggam tanganku, genggam yang erat, sekalipun aku merasa malas dan berniat melepaskan genggaman itu, tolong jangan lepaskan. Karena engkau tidak akan mampu menghadapi masa fluktuatif itu sendirian, sama denganku, aku juga pasti tidak akan mampu.

Aku ini wanita. Dan ya, wanita memang ada kalanya benar-benar susah untuk dimengerti. Muka berbeda dengan bibir, bibir berbeda dengan hati, hati tak tercermin dari gerakan. Dan itu semua rumit, seperti puzzle. Ada kalanya aku ingin mengungkapkan apa yang kumau dengan bahasa yang lugas dan jelas, tapi ada kalanya mood membuatku memintamu menjadi peramal jadi-jadian. Ya pokoknya engkau harus belajar meramal walau sedikit. Meramal apa yang aku inginkan, apa yang aku rasakan, dengan menerjemahkan urutan perkataan, gerak mata, lengkungan bibir, desahan nafas yang ringan atau berat. Dan itu tidak ada rumusnya. Jadi aku mohon bersabarlah mengeja istrimu yang wanita ini. Jika tujuh bulan ini masih terasa sulit untuk memahami, maka tenanglah, masih akan ada pelatihan lagi, dan itu rentangnya seumur hidupmu. Aku harap engkau bersabar.

Sesungguhnya aku di sini juga masih belajar. Belajar menerima dan mematuhi. Aku selalu jadi ratu atas keinginan-keinginanku, eksekutor atas keputusan-keputusanku, bertanggungjawab sendiri atas makananku, pakaianku, jadwal harianku, liburanku, dan setiap inci aktivitasku. Aku tidak biasa menghadirkan orang lain, kalaupun ada peran mama di situ pasti tidak banyak, karena mama telah begitu percaya padaku untuk mengatur sendiri kehidupanku. Maka ketika aku harus meletakkan perkataanmu tepat di bawah firman Rabbku, aku terdiam. Aku yang egois dan keras kepala ini merasa tidak nyaman, merasa tiba-tiba bisu dan gagap. Tapi aku percaya, bahwa ridhamu itu surgaku. Maka jangan berani-berani untuk jauh dari Allah dan jamaah, supaya keputusan dan perintah yang engkau ambil, tidak melenceng dari apa yang Allah tetapkan.

Aku juga terusik dengan kicau malammu saat engkau lelap, tentang engkau yang begitu pemilih dalam makanan, tentang ketidaksukaanmu akan perjalanan dan mendaki, tentang banyak hal yang terasa selalu berpunggungan denganku. Tapi aku belajar, engkau juga. Bahwa pernikahan ini tidak lantas membuat kita selalu seiya sekata, selalu berada dalam satu garis lurus, selalu tersenyum dan menatap lega, tidak kan. Apalagi pada peristiwa itu, yang akan terkenang seumur hidup. Tapi uppsss, itu biar Allah dan keluarga kita saja yang tau. The point is, we grow and get bigger everyday. Selalu ada hal baru, masalah, kesenangan, kesepakatan dan diskusi yang kita bangun bersama, setiap hari. Dan semoga kita tidak bosan akan itu.

Kita ingin punya anak yang mencintai ilmu, dakwah, dan hafidz Qur’an? Lets slap our face wkwkwk. Kita sebegini buruknya, dzalimnya, malasnya, jeleknya, aaah! Astaghfirullah. Tapi kita punya mimpi kan, punya cita-cita. Kita boleh berlumur dosa kemarin, masih terjerembab juga hari ini, tapi kita ingin jadi ayah dan ibu yang berhasil mengantarkan anak-anak kita ke surga. Yes we are a normal parent to be. Impian kita normal. Tapi kita harus sanggup menelan konsekuensi jika ingin punya anak-anak yang mampu menjaga islam. Jangan merasa bosan, merasa cukup apalagi merasa lelah dalam membaca dan menuntut ilmu. Tolong jangan. Kita butuh tahu banyak, kita butuh ilmu banyak untuk menjadi orangtua. Ingatkan aku bila aku lebih asyik membuka Fb dan Instagram ketimbang menghadiri les bahasa arab dan menelisik kitab Ibn Katsir dan Imam Suyuthi. Dan aku akan siap mengomel jika engkau larut dalam pekerjaan atau bisnis hingga lupa meriayah pelajarmu atau menekuri buku.

Masih banyaaaaakkk sekali hal yang harus kita benahi, terutama aku. Ah! Semoga aku masih selalu punya kesempatan untuk berubah lebih baik dan belajar terus. Engkau juga ya. Tolong, jangan menjauh dari Allah dan jamaah dakwah, dua hal itu yang senantiasa menjaga keimanan kita dan menjuhkan kita dari maksiat. Rekan-rekan dalam jamaah yang tetap menjadi pengingat kita, yang menjadi cermian kita, yang bersama mereka kita akan terus memberikan apa yang kita punya untuk kemuliaan islam. Dan aku tidak ingin berlepas diri darinya. aku tidak ingin. aku tidak mau hanya menjadi pegawai dan bekerja. aku tidak mau sekedar jadi istri yang mahir masak dan mengatur rumah tangga. aku ingin menjadi seseorang yang berkiprah dalam perjuangan islam, meskipun sumbangsih saya dalam bangunan itu hanya berupa kerikil atau pasir. aku tidak ingin menjadi sebagaimana manusia akhir zaman kebanyakan. aku tidak mau. Semua orang bisa bekerja, bisa jadi istri, bisa jadi ibu, tapi tidak semua mampu jadi penuntut ilmu dan pengemban dakwah islam. Meski masih belum pantas, tapi aku memilih untuk jadi istri, ibu, pembelajar dan penyampai. Semoga Allah menjaga hati kita dalam kebaikan, menjauhkan kita dari maksiat, mengingatkan kita dan mengistiqamahkan kita dalam perjuangan ini. Semoga Allah menjaga hati kita agar tetap tawadhu, lembut, tidak haus akan pujian, serta jauh dan riya ujub dan sum’ah. Aamiin.

Mencintai tentu punya konsekuensi. Dan segenap konsekuensi ini yang harus aku ambil saat memilih mencintaimu. Itu juga yang harus engkau tanggung saat memilih mencintaiku. Aku tidak menjamin bahwa aku akan selalu bersikap manis padamu, tersenyum padamu, menjadi wanita yang tangguh, kuat dan selalu ada untukmu. Tidak, tentu saja aku tidak bisa menjamin itu. Aku hanya akan selalu berusaha dan belajar untuk menjadi istri yang baik bagimu dan ibu yang layak bagi anak-anakmu. Aku mohon, kegilaan-kegilaan kita, candaan-candaan kita, tawa-tawa kita, tidak membuat kita berpaling dari esensi penciptaan manusia.

Aku menulis ini dengan pelangi di dua bola mataku. Aku merasakan cinta, kehangatan, ketakutan, rasa kecewa, sakit hati, harapan, optimisme, dan di atas perasaan tadi aku percaya padamu. Aku percaya bahwa di detik engkau memintaku di depan penghulu dulu, engkau akan mampu menjagaku. Meski kemarin engkau terpeleset, aku harap itu error pertama dan terakhir. Engkau tau bagaimana aku haus akan kasih sayang seorang ayah, aku harap engkau tidak melakukan itu padaku atau anak-anakku. Aku ingin engkau mengasihi dan mendidik anak-anakmu, memberikan mereka pengasuhan yang baik, contoh yang baik, hingga kelak kita siap melepas mereka melabuhkan bahteranya sendiri-sendiri.

Saat itu tiba, kita akan kembali menjadi sepasang kekasih yang mulai renta dan beruban di rumah, hanya berdua lagi. Aku ingin kita tersenyum berbahagia dengan bibir yang basah oleh dzikir melihat kanak-kanak kita tumbuh menjadi manusia shalih shalihah dan bermanfaat bagi masyarakatnya. Kita akan menghabiskan waktu kita dengan beramal shalih. Atau bila salah satu dari kita sudah ada di dunia berbeda, aku harap aku bisa mengajukan klaim atasmu sebagai pasanganku di akhirat kelak. Begitu juga sebaliknya.

Kehidupan dunia sangat sebentar, tidak lebih seperti saat pengembara berhenti sejenak di bawah pohon dan minum air sekian teguk. Selebihnya pengembara tadi akan terus berjalan. Rindangnya pohon sangat sebentar, aku harap kita tidak terlena di bawahnya. Aku ingin memaknai cinta ini pada level yang lebih baik, pada derajat yang sepantasnya. Bahwa mencintai itu harus mampu mengantarkan yang dicintai ke surga. Aku harap aku mampu melakukan itu. Aku harap kita mampu melakukan itu. Bila cinta sekedar kata dan lilin saat makan malam, maka punahlah kemanusiaan, punahlah keagungannya. Aku tidak mencintaimu serendah itu, jangan pula kau letakkan cintamu pada level itu.

Mari mencinta, mari bertumbuh, mari menjadi baik seterusnya…

Istrimu,

Eresia.

????????????????????????????????????

Kami sangat malu selesai aqad. Tetap berjauhan dan enggan menatap apalagi menyentuh. Hingga keluarga memaksa kami berdekatan. Unforgettable!

????????????????????????????????????

Akhirnya bisa (memaksa) tersenyum, meski luarbiasa kikuk dan malu. Saya sangat gemetar saat lengan saya bersentuhan dengan bahu dan lengannya. Pyuuhh!

One thought on “Cinta Itu…

  1. Aslm. Salam kenal mba… tulisannya bagus banget, dan merasa ‘gue banget’. Sama2 penganten baru kyknya hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s