Hujan Bulan Juni dan Cengkrama Sore Hari


Hei Juni, kamu datang lagi. Dan ada hujan mulai pagi hingga petang. Hujan bulan Juni memang menepati janji. Aku punya secangkir teh dan satu papan biskuit manis, bisa kita bersanding dan bercengkerama sebentar?

Aku terbaring lelah di ranjang dengan jendela yang terbuka lebar kemarin sore, menghirup bau tanah dan sesekali menyentuh hujan. Di luar gerimis, dalam hati juga gerimis.

Hujan… seandainya aku hidup dan beraktivitas semata karena tujuan skala pendek, rasanya sudah lama  aku ingin menyerah. Menyerah pada keadaan, pada masalah, pada kesulitan, pada luka dan pengkhianatan. Perasaanku mudah lumer seperti bongkah es yang disapa matahari. Mudah kisut seperti plastik sosis yang udaranya dihisap mesin vacuum. Ada akumulasi kesakitan yang bahkan aku tidak tahu sudah menumpuk sejak kapan, entah saat bayi entah saat masih dalam kandungan.

Tapi hujan… Rabbku selalu baik, terlampau baik, terlampau sayang. Ada fase belajar, fase berkembang yang Allah berikan. Dan aku bersyukur karena Allah memandangku mampu melampaui sesuatu sehingga aku sering diuji di situ.

Hujan.. Akhir-akhir ini mataku sering mendanau. Kamu mungkin sampai bisa menemukan ikan mas koki berenang bebas di danau itu saking derasnya debit air yang mengalir, hehe… Tapi Rabb-ku berulangkali membuatku berpaling menuju ayat-ayatNya, bahwa Dia dekat, bahwa Dia sayang, bahwa Dia ingin melihat mana hambaNya yang benar-benar beriman.

Kalau sudah begini, maka aku memang tidak punya pilihan lain selain menjadi kuat, dengan mempelajari islam dan menelisik berdiskusi dengan ummat. Aku merasa bahwa ucapan umum ‘dakwah adalah poros hidup’ itu merupakan jawaban dan penguat yang terbukti manjur. Aku tidak bisa lagi egois dan tenggelam dalam kubangan masalah dan cobaan-cobaanku sendiri, permasalahan ummat akan selalu lebih besar, lebih rumit, lebih butuh banyak perhatian. Dan saat mengingat ini, maka setiap kali aku akan bangkit, wahai hujan.

Aku bersyukur aku diberi nikmat iman, islam dan nikmat mengkaji islam bersama orang-orang shalih. Yang mengajakku tidak menghabiskan waktu hanya untuk diri sendiri, yang meminta porsi fokusku untuk senantiasa memperhatikan masalah yang jauh lebih urgent dan besar. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmus shalihaat. Bersyukur pada Allah yang memberi ni’mat dan menyempurnakan ni’mat yang diberiNya.

Jadi hujan… aku memintamu mendengarkan bukan untuk meratap. Aku cuma ingin membuang kesal. Karena setelah ini aku sudah siap berdiri, menghapus air mata dan menjadi kuat lagi.

Kamu, hujan, suatu waktu butuh untuk diskusi dan didengarkan, maka bisa menyapaku di ujung jendela ini. Aku tetap akan menyediakan teh manis yang hangat dan menghangatkan. Deal kan kita, hujan?

Laa takhaf wa laa tahzan. Innallahu ma’ana. Maka semua duka akan jadi kekuatan. Bahsya!!

Yogyakarta, 2 Juni 2015. 16.35 WIB

*Eresia Nindia W.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s