Goodbye, Gecko!!


10433095_10203238784082547_1853282437459087826_n

Sudah lima tahun sejak akhir 2009, kontrakan kami terutama bagian dapur, dimeriahkan dengan kehadiran tokek. Dulu, dia single fighter. Menempati atap dapur sendirian, tanpa pendamping, tanpa sahabat. Dia sukses membuat malam-malam kontrakan yang tenang tanpa suara TV menjadi sedikit lebih meriah dengan suara khasnya. Meski di banyak malam, dia berhasil membuat kami ngeri untuk beranjak ke dapur, karena jelas dia bukan cicak yg gampang kabur, atau tikus yg gampang diusir, atau kodok yang gampang digusah. Kalau dia sudah nampang dalam horison pandang kami, maka dia susah move on. Kami jadi suka mematung sambil main mata dan pandang-pandangan sama si tokek ini, hingga akhirnya kami ngeri sendiri dan batal beraktivitas di dapur dan kamar mandi.

Dia asli pendiam. Deadly cool, mbakbroh. Saking diemnya, kami sampe gak sadar bahwa atap dapur jadi saksi dia menemukan partner hidup hingga beranak-pinak. Makin meriahlah malam-malam kami di kontrakan. Apalagi si tokek dan anak anaknya gemar berkunjung ke kamar mbak Nju dan membuat mbak Nju kehilangan mood untuk tidur, harus siap siaga takut sewaktu-waktu si tokek bikin markas baru di kamarnya.
Tapi serius, tokek dan keluarganya ini lumayan pengertian. Tahu kan kalau kotoran tokek ini mirip cicak hanya lebih besar? Nah, dia hidup di atap dapur, tapi tidak sekalipun dia dan keturunannya buang hajat di situ. Lalu di mana? Di kamar mandi! Setiap pagi kami sudah akrab dengan pemandangan kotoran berukuran meses coklat jumbo dengan bintik putihnya. Kami siram dulu. Pengertian kan dia?

Saya paham tentang hadits Rasul yang menganjurkan utk membunuh cicak dan sejenisnya sejak pukulan pertama. Tapi kami tidak tega. Ehm, lebih tepatnya tidak berani. Harusnya saya panggil mama, yang merupakan TOKEK catcher nomor wahid. Yap, mama handal menangkap tokek dengan tangan kosong tanpa rasa takut sedikitpun.

Kemarin, atap dapur+kamar mandi kami direnovasi, dan sore ini mbak Nju memberi saya kabar bahwa si Bapak Tokek sudah meninggal dalam kubangan air hujan. Mungkin dia kalap karna atap dibongkar dan tidak menemukan tempat berlindung.

Jujur, meski lebih sering ngeri dengan si tokek, tapi saya merasa kehilangan juga. Empat tahun itu bukan masa bersama yang singkat, kan? Saya dan mbak Nju akan merindukan momen pandang-pandangan mata dengan si tokek ini. Goodbye to you, Gecko!

Dalam Bus Pwt-Jogja, 5 Januari 2015

Tambahan:
*Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Barang siapa yang membunuh cecak satu kali pukul, maka dituliskan baginya pahala sebanyak begini dan begini kebaikan. Dan barang siapa yang membunuhnya dua kali pukul, maka dituliskan baginya pahala sebanyak begini dan begini kebaikan berkurang dari pukulan pertama. Dan siapa yang membunuhnya tiga kali pukul, maka pahalanya kurang lagi dari itu.” ( HR Imam Muslim , Imam Ibnu Majah dan Imam Ahmad)

**Dari Ummu Syarik radhiallahu ‘anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh cecak. Dan Beliau bersabda : “Dahulu cecak ikut membantu meniup api (untuk membakar) Ibrahim ‘alaihissalam.” ( HR Imam Al Bukhari dan Muslim)

***Dari ‘Amir bin Sa’d dari Bapaknya bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar membunuh Al Wazagh (cecak) dan beliau memberi nama Fuwaisiq (si fasik kecil).” ( HR Imam Muslim )

.:Semburat Jingga:.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s