Sendiri


pantai-parangtritis-paket-jogja

Parangtritis

Kesendirian itu terkadang syahdu. Adakalanya saya begitu ingin sendiri, tidak ingin disapa atau menyapa, tidak ingin ditatap atau menatap. Subuh ini saya mencari kesendirian itu di pantai. Idealnya saya berharap bisa melihat sunrise, tapi hujan tidak berhenti. Rintik air itu purna saat saya telah dua jam kedinginan meringkuk di altar masjid Parangtritis. Laut begitu hebat. Dia adalah raja wilayah, mengusir pasir dan menangkis binatang kecil. Laut pagi ini senyap. Bau garam menguar. Kapal-kapal tertambat tanpa tuan. Pasir bergerombol menghitam. Saya menarik nafas, tersengal setelah berjalan sekian ribu langkah.

Tepat di tanggal ini, tahun lalu, saya juga berjalan sendiri mengeja sunrise di hamparan laut Parangtritis. Saya merasa terasing dan terbuang. Sendiri dan terajang. Akan selalu seperti itu rasanya bila kita meletakkan sesuatu dan seseorang terlalu dekat di hati. Selama mereka makhluk dan ciptaan, tidak ada garansi mereka akan terus memberi rasa aman dan nyaman. Meskipun mereka saudari sendiri. :’)

Pelajaran akan lalu lalang datang mengucap salam dan mengetuk pintu kehidupan kita. Banyak yang berarti, banyak yang sekedar mengusap lalu kita lewati. Apa yang butuh saya evaluasi? Baik, saya akan cari sendiri.

*Semburat Jingga

2 thoughts on “Sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s