Pendakian Gunung Batur: Tiga Juta Rasanya!


IMG_20141114_004824

24 Desember 2006

Saya menangis seperti anak kecil. Bibir saya kering. Kerongkongan saya gersang. Nafas saya sudah memburu. Bahu dan paha saya nyaris kram. Saya menyesali ide ini. Benar-benar menyesal. Saya kesal pada siapapun yang menjerumuskan saya untuk ikut dalam perjalanan ini. Saya sudah tidak mampu lagi mendaki, saya pikir begitu. Dengan air mata berurai, dan lebih parahnya lagi dengan semangat yang tak bersisa, saya merengek pada beberapa senior yang menjadi pendamping perjalanan saya.

                “Saya sudah tidak sanggup, Kak. Saya mau pulang”

                “Kalau Eres menyerah sekarang, Eres tetap harus berjalan untuk turun, akan tetap capek. Dan Eres gak akan pernah tau keajaiban seperti apa yang menunggu di depan…”, Kak Nona Ohoimas berkata lirih.

Dengan pipi basah dan semangat hidup di titik nol, akhirnya saya mencoba menyeret kaki. Lagi. Awan dengan semburat jingga kemerahan sudah mulai terbit, dan saat mendongakkan kepala untuk pertama kali setelah sekian lama berjalan, air mata saya langsung mendanau lagi. Hanya saja kali ini dengan alasan yang berbeda. Saya takjub. Padang edelweiss dengan kuncup ranum berembun membanjiri pandangan saya. Saya mengucapkan takbir lirih di situ, dan segera tayamum untuk menunaikan shalat shubuh.

Di Puncak Gunung Gede itulah saya menikmati sunrise terindah (untuk saat itu) dalam hidup saya. Dengan awan yang jauh berada di bawah telapak kaki saya, dengan edelweiss cantik yang membelai ujung hidung dan jemari saya, dengan rekan seperjuangan yang pipinya merah dan matanya beler. Rasa kesal, capek, marah yang menempel di dada saya selama 8 jam sebelumnya entah pergi kemana. Saya lupa rasa capek dan kesal itu. Cuma bahagia dan takjub yang ada di dada dan kepala saya. Di situlah saya mengerti mengapa para pendaki gunung begitu tergila-gila untuk mendaki, mendaki, dan mendaki lagi.

7 November 2014

Saya menempuh 30 km jalanan berdebu Denpasar hingga ke Bangli dengan sepeda motor, memboncengi seorang kawan dengan dua orang balita di belakang. Dua balita dititipkan pada nenek dan kakeknya di Bangli, sementara sang Ibu akan menjadi gude saya malam ini saat mendaki Gunung Batur. Mulai Bangli hingga Kintamani, perubahan suhu terjadi. Bukan cuma suhu, mood juga langsung berubah. Jalanan menuju Kintamani sangat sejuk, rindang, penuh pohon, jarang bangunan tinggi, alamnya bersih. Kami melenggang ditemani hujan tipis, nyaman rasanya.

Kawan saya yang tadi memiliki dua anak adalah pencinta gunung. Seluruh gunung di Jawa sudah dia daki, bahkan Rinjani sudah didatangi dua kali. Saya hanya menyimpan air liur dalam-dalam saat malam-malam sebelumnya ia bercerita keindahan Rinjani dengan puncak Anjani dan sembilan bukit penyiksaannya, atau puncak Mahameru dengan danau Ranu Kumbolo dan medan pasirnya. Saya menutup mata dan berharap dalam setahun ini, gunung-gunung di Jawa sekaligus Rinjani di Lombok bisa saya tapaki.

Kintamani itu dikelilingi oleh bukit melingkar. Siapapun yang ingin pergi ke sana, harus rela melewati jalanan curam berkelok yang membuat sakit jantung sementara. Saya harus menahan tremor yang melanda kaki dan terus komat-kamit merapal doa saat motor terasa terjun bebas menuruni bukit menuju Kintamani. Tanjakan Patuk di Jogja? Gak ada apa-apanya. Hiks.

???????????????????????????????

Gunung Batur, Danau Batur dan Kintamani dari atas

Jam 22.00 WITA kami tiba di pos PPPBG dan berhenti sebentar, kawan saya bilang bahwa kita harus menemukan pura Pasar Agung untuk memulai pendakian ke Batur. Jadilah kami tetap berkendara di jalanan berpasir dengan bongkah-bongkah batu tajam. Tidak ada lampu, tidak ada kehidupan, hanya lolongan anjing dari kejauhan. Ada sih rumah-rumah nomaden para penambang pasir, tapi itu tidak terhitung hunian permanen. Kami sudah berputar, menjajaki bukit bergerunjal dan terjal, melewati padang tanaman luas tanpa penghuni, tapi pos pendakian sama sekali belum tampak. Karena kurang yakin dengan jalan yang dilalui, kawan kami meminta untuk kembali ke jalanan semula. Saya bukan penakut. Saya berani melalui malam sendirian di rumah yang dianggap angker. Tapi jujur, perjalanan di kaki Batur malam itu membuat saya merinding. Suasana mistisnya menyergap kewaspadaan saya. Ah entahlah. Yang jelas saya menggigil bukan karena dingin.😀

Saya berulangkali harus turun dari motor karena motor tidak bisa bergerak tersangkut pasir dan kerakal. Dan akhirnya motor kami nyungsep juga, saya jatoh cantik sempuna. Nah kan, wkwkwk. Lutut saya pegel, jari saya terkelupas kulitnya. Aduh makin cantiklah jemari saya yang sudah legam itu. :p Saat sudah muter ke sana, ke mari, sambil kawan saya si emak-emak pendaki menelpon kawannya minta petunjuk, ternyata pos pendakian yang dimaksud ya pos PPPBG yang kami jumpai di awal itu. Meledak lah tawa kami bertiga. Aduh ada-ada saja. Mungkin Allah yang bikin kawan saya lupa, hingga kami harus melintasi perjalanan spiritual yang bikin jiwa porak-poranda.😀

???????????????????????????????

Ngambil napas di pos setelah pengalaman spiritual :p

Pendakian dimulai sekitar pukul 00.00, maklumlah karena Batur tidak terlalu tinggi. Jadi kami menghabiskan waktu dengan gegoleran sambil ngences (tidur maksudnya). Jam 12 teng, mulai banyak pendaki yang datang dari penjuru Bali. Ada pendaki lokal, ada yang bule. Sebelum naik, kami sempat berkenalan dengan enam orang mamas-mamas. Mereka adalah pegawai BR* Syariah Denpasar yang sedang membuang sial karena atasannya yang katanya nyebelin.

Malam itu bulan sedang purnama. Bulatnya sempurna. Indahnya paripurna. Saat berjalan di track dengan pohon di kanan kiri, kami menyalakan headlamp, namun saat kami melintasi sabana pasir yang luas, kami memilih mematikan senter+headlamp dan mempercayakan pencahayaan sepenuhnya pada bulan. Serius, perjalanannya indah sekali. Damai sekali. Kalau kalian adalah pasangan yang baru menikah, suasana seperti itu pasti pasti berasa romantis. Tapi berhubung saya jalannya bareng kawan-kawan akhwat yang dikawal sama enam mamas-mamas yang baru kami kenal, maka bukan romantis yang ada, tapi miris namanya. Hahahaha.

???????????????????????????????

Oh ya, kami muslimah. Kami mendaki dengan GAMIS.

???????????????????????????????

Si emak pendaki dan saya😀

Cilla, kawan saya yang belum pernah naik gunung, montok badannya, dan jarang sekali olahraga, mulai kehilangan nafas saat Batur menawarkan bagian terjalnya. Dia berulangkali minta berhenti dan minum haus. Ini yang membuatnya makin berat melangkah.

*Minum haus: minum sepuasnya hingga rasa haus hilang

**Saat naik gunung atau trekking di manapun, jangan pernah minum haus. Minum seteguk saja, seperlunya. Terlalu banyak air membuat tubuh justru makin mudah lelah. Jangan pula sering berhenti dan langsung duduk, ini akan membuat kita semakin malas dan berat untuk melangkah. Istirahatlah dengan berdiri dan bertumpu pada tongkat, tarik nafas, dan segera berjalan lagi. Kita tidak harus benar-benar menghilangkan lelah, karena lelah memang tidak akan hilang kecuali saat kita berhasil turun dari puncak. Oke?

Track di Batur jauh lebih berat dibanding Gunung Gede Pangrango. Ada dua track berpasir di bagian tengah gunung dan sebelum puncak. Medan pasir itu medan yang paling susah. Mendaki 5 langkah, kita akan nggelosor (meluncur) 3 langkah. Capek sekali rasanya. Gunung batur juga mungkin punya tipe letusan eksplosif, sehingga batuan yang terbentuk adalah skoriaan dan pumis, batuan vulkanik yang runcing dan tajam karena mineral gelas. Sontak tangan saya makin lecet sana-sini saat berusaha meraih pegangan di batu-batu itu. Jilbab (gamis) saya juga robek kecil sana sini.

Setelah sabana berpasir di bagian lereng, tidak da lagi track landai di Gunung Batur, semuanya terjal. Tidak ada jalan santai seperti adegan pemain 5 cm di bukit cinta, tidak ada. Semua tanjakan. Tanjakan terjal. Oke.😀😀 Jam 04.50 saya dan emak si pendaki sampai di puncak. Apa kabar Cilla? Dia masih berjarak dua jam di bawah puncak, bersama pendaki baik hati yang menemani perjalanannya. Saya mencari tempat lengang, tayamum dan menunaikan sholat shubuh di sana.

Memang, di Batur tidak ada edelweiss dengan kuncup indah berembun seperti di Puncak Gede. Tapi saya melihat Danau Batur dan kehidupan yang mengitarinya nun jauh di bawah sana. Kehidupan penduduk Trunyan yang mistis. Keindahan Gunung Abang dan kedigdayaan Gunung Agung 3100 meter di atas muka laut yang puncaknya berkabut putih tipis. Perkasa sekali. Awan yang menari di atas Danau Batur dan lereng Gunung Abang berada di bawah hidung saya, jauh berada di bawah hidung saya. Saya bisa melihat bahwa puncak tertinggi Batur sebenarnya adalah tebing kaldera paling tinggi. Bentuk kerucut Gunung Batur telah terhempas entah keman karena letusan dahsyatnya. Ya, hanya gunung-gunung dengan letusan dahsyat yang menghilangkan kerucut gunung api dan meninggalkan bagian yang menganga yang kemudia terisi air (kaldera). Dahulu, Gunung Batur pasti besar dan tinggi sekali.

Awan dengan semburat jingga kemerahan mulai nampak. Lagi, saya merasakan kenyamanan tiada tara. Alhamdulillah ya Allah, masih saja saya diberi nikmat untuk merasakan secuil keMahaDigdayaanNya. Perlahan, matahari seukuran kuning telur mata sapi itu keluar. Jingganya membara, memberikan batas merah di cakrawala. A very breath-taking moment. Allahuakbar indah sekali. Indah sekali. Maka benar sebuah quote yang pernah saya dengar ini:

“Semua orang bisa saja menikmati sunrise di pantai, tapi menikmati sunrise di puncak gunung hanya milik mereka yang berani”

Saya pendaki amatir, belum banyak gunung yang saya daki. Karena masih amatir itulah saya tau bahwa mendaki gunung itu tidak mudah. Butuh kekuatan menahan lelah, letih, kesal, bosan, dan rasa ingin menyerah.

???????????????????????????????

Indah banget nget nget sunrisenya. Modelnya si mas Yoyok.

???????????????????????????????

Breathtaking!

???????????????????????????????

Itu mataharinya kayak telor mata sapi, emezz. :p

Tepat pukul tujuh pagi, kami semua turun (padahal Cilla belum ad 20 menit di puncak lho, secara dia baru sampe wkwkwk). Perjalanan turun kami tempuh bertiga, mamas-mamas BR* udah pada pulang duluan ngejar kerjaan. Di jalan turun inilah ada tragedi yang bikin saya ngoar-ngoar nangis gak jelas (bosen ya denger adegan saya nangis? Saya juga lho! Hahaha).

IMG_20141110_030023

Di belakang kami itu jembatan shirotol mustaqim. Jalan setapak sempit dengan jurang batu di kanan kiri.

Cilla berjalan turun seperti siput, luarbiasa pelan. Sebentar-sebentar dia duduk melepas lelah. Saya maklum, namanya juga pengalaman pertama, mana sebelumnya dia kagak mau olahraga wkwk. Awalnya saya juga turun perlahan supaya tidak terlalu jauh dari Cilla. Tapi lama-kelamaan saya terkena irama jalannya si emak pendaki. Jadilah saya jalan cepat membabi-buta, apalagi matahari udah panas pisan. Saat hampir sampai di bawah, barulah saya tepok jidat. Aduh Cilla di mana? Saya duduk sebentar, memanggilnya beberapa kali. Tidak ada jawaban. Saya melihat ke ataspun sudah tidak ada penampakan manusia. Saya memanggil lagi sekuat tenaga, tetap tanpa jawaban. Saya mulai panik. Saya coba hubungi hapenya. Sampe telinga saya penging juga gak ada yang ngangkat. Jadilah saya makin belingsatan. Saya membopong dua backpack, mengencangkannya dan segera berlari ke atas lagi. Sepanjang jalan mendaki saya tidak berhenti memanggil Cilla. Karena tidak ada jawaban juga, jadilah saya mewek. Saya tidak bisa menghilangkan bayangan bahwa dia jatuh ke jurang atau kakinya luka atau tangannya patah atau kemungkinan mengerikan lainnya.

Tanpa saya sadari, mewekan saya sudah berubah jadi tangisan meraung-raung. Saya tidak berhenti memanggil Cilla. Entah sudah seberapa jauh saya mendaki, saya tidak bisa mengukur. Tiba-tiba dari kejauhan, saya lihat titik manusia bergamis merah hitam, memegang tongkat, berjalan perlahan tertatih-tatih. Saya berlari ke arah itu. Dan memang itu Cilla. Luarbiasa bersyukurnya saya, saya tidak peduli meski ingus dan airmata saya campur jadi satu di pipi. Segera saya minta backpack Cilla, gak masalah deh saya bawa tiga tas, asal temen saya gak kenapa-kenapa. Kalo saya kuat gendong juga saya pasti gendong Cilla, hanya saja bobotnya melebihi bobot saya. Hehehe..

Aduh Batur, kenangannya luarbiasa. Di bawah, sambil menemani Cilla yang jalannya kayak siput, kami disapa hujan. Hujan pertama di Bali bok..yuhuuuuu.

“Setiap perjalanan punya cerita, dan Batur menambah panjang cerita-cerita saya…” (ENW)

Kami tepar kayak orang nyaris mampus di gardu istirahat sebelum akhirnya berkendara dua jam lebih menuju Denpasar. What a journey!

???????????????????????????????

Indah kan indah kan indah kan

???????????????????????????????

Saya dan Cilla beberapa saat sebelum turun

???????????????????????????????

Pohon di belakang saya itu hangus terbakar, dan jadi eksotis.

IMG-20141110-WA0001

Aduh Cilla gayanya…hahahaha.

One thought on “Pendakian Gunung Batur: Tiga Juta Rasanya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s