Tiyul Yang Mual, Sakit, dan Jijik


Image

Jalanan masih basah. Hujan sempat riuh menyapa sekian jam tadi, membilas abu pada daun jambu. Meredam bau. Mereka yang tertahan di ujung toko dan pepohonan bisa melangkah lagi. Semua kembali berotasi pada garis edar kesibukannya. Menggumam. Memikirkan keluarga. Merapal angka yang tertera pada bon putih supermarket. Gundah dalam deadlinenya. Terburu-buru menyetir dan menarik gas. Sementara tanah tetap merunduk, basah. Baunya dikuarkan dengan anggun ke udara oleh air hujan, menyapa hidung manusia.

Tiyul suka bau itu. Bau tanah yang bercampur akar tanaman setelah hujan reda. Bau yang mulai medio Mei ini jarang ia endus. Karena hujan sudah berjeda cukup lama. Ia sengaja berdiri di halaman toko yang sudah ditutup pintunya, mematung sambil mengamati penjual roti bakar dan tahu crispy yang berjajar rapi di sebelahnya. Pembelinya banyak, nyaris tidak ada spasi.

Ditariknya nafas dengan panjang. Syahdu namun bebas. Tiyul tidak sedang galau karena rupiah di dompetnya menipis. Atau bingung karena kaki kanannya kembali nyeri luarbiasa karena chikungunya belum purna pergi dari tubuhnya. Bukan pula sedih karena sang ayah telah pergi sekian bulan tanpa ada kabar. Bukan. Ia hanya merasa mual, jijik, sekaligus sakit.

Setelah kasus JIS yang menyimpan duka kanak-kanak korban pedofilia, fakta brutalitas kekerasan seksual seakan menemukan celah keluar. Semua berlomba menghambur. Memilukan hati sesiapa yang membaca. Ini membuat Tiyul mual. Tanpa sadar ia ikut mengelus rahimnya yang masih suci, berharap generasi yang dilahirkan tidak merasakan kekejian semacam itu. “Rabbi hablii minas sholihiin…” Lirih diucapkan doa pendek itu.

Tiyul teringat akan masa-masa yang sering dihabiskannya dalam bus Besuki-Kraksaan saat ia kecil. Menempuh 60 km tiga-empat kali seminggu pulang-pergi untuk bertemu dengan nenek. Kala itu, bau rokok tembakau gulungan yang dihisap oleh bibir-bibir hitam nelayan atau aroma keringat menusuk yang menguap dari ketiak penumpang adalah rutinitas wajar yang mampir ke hidung mungilnya. Suatu waktu Tiyul kecil naik dalam bus yang sesak. Sang ibu mengizinkan sepasang lelaki tua untuk memangkunya. Maka Tiyul yang masih kelas 1 SD manut saja, toh dia akan cemberut karena kakinya pegal kalau ia harus berdiri sepanjang jalan. Tiyul asyik menyahut obrolan si bapak pemangku, sambil membidik bulir hujan yang menjelma titik di kaca bus. Tanpa sadar, tangan kasar si bapak naik menyingkap rok dan mengelus lembut pahanya. Meski belum paham apapun tentang kehormatan, tapi alarm dalam kepala Tiyul berdering kencang saat paha kanak-kanaknya yang putih mulus itu dibelai oleh orang selain ayah dan ibunya. Maka Tiyul berontak dan menjotos sekuat tenaga lelaki yang menelusupkan tangan di balik roknya. Ibu Tiyul bertanya, tapi Tiyul hanya memajukan bibir dan memandang nanar pada dua lelaki yang tadi memangkunya. Kini Tiyul tidak bisa membayangkan bahwa adegan pelecehan kecil yang dulu dijumpainya, telah menjelma menjadi kekejian tanpa nurani di masa kini. Tiyul lagi-lagi mual.

Dari ujung tempatnya berdiri, Tiyul melihat seorang kanak lelaki yang kakinya dekil tanpa alas. Kanak lelaki itu belum tinggi benar, usianya mungkin baru tujuh atau delapan. Ia berhenti tepat di depan Tiyul, memandang penggorengan yang minyak panasnya tengah merendam tahu krispi. Mata kanak itu lekat, kerongkongannya beberapa kali turun, tanda ia menelan ludah. Tiyul mengeluarkan roti sobek coklat yang ia simpan untuk berbuka, dan disodorkan pada sang kanak lelaki. Kanak lelaki itu tersenyum dan meraih roti sobek dengan jemarinya yang berkuku hitam. Ia meraih tangan Tiyul, menciumnya dengan ta’dzim dan berlari pergi setelah mengucap terimakasih.

Petang kian nyalang, langit makin hitam. Tiyul memandangi poster dukungan siap mati. Siap mati untuk dua orang yang baru-baru ini maju sebagai capres-cawapres. Di seberang jalan juga melambai baliho pendukung fanatik pasangan capres yang satu lagi. Poster dan baliho itu menampilkan foto. Foto dua dimensi. Yang di bibirnya ada senyum lebar, menampilkan gigi. Tiyul juga tersenyum, ia tak mau kalah. Bahkan kini ia tertawa, hingga pundaknya naik turun. Ia tertawa, dan ujung matanya basah. Tiyul mengelus perutnya yang lapar. Ia tak punya apapun sementara adzan maghrib berkumandang.

Duh Gusti… demarkasi ini terlalu lugas dan menyakitkan. Kerusakan dan kebobrokan ini terlalu kentara dan mengguriskan…

Tiyul berjalan pelan. Ia ingin pulang. Lalu belajar.

 

*Semburat Jingga

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s