Kebiri Jadi Solusi?


Image

Hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual yang diusulkan Menkes Nafsiah Mboi tengah digodok dengan matang oleh pemerintah. Menurut Mboi, hukuman yang telah dijalankan di Amerika, Israel, Korea Selatan dan 6 negara lain ini dianggap mampu menekan angka kekerasan seksual. Indonesia mengubah hukuman pelaku kekerasan seksual yang tadinya maksimal 15 tahun penjara menjadi penjara seumur hidup dan kebiri. Hal ini disebabkan karena penjara dinilai tidak selalu efektif membuat si pelaku jera. Kebiri yang menghilangkan naluri seksual dengan total dianggap solusi ampuh untuk meredam kejahatan ini.

Brutalitas penyimpangan seksual membuat siapapun marah, apalagi jika anak-anak yang menjadi korban. Namun menjatuhkan hukuman kebiri juga bukan solusi. Ada dua hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini. Pertama, predator seksual biasanya merupakan seseorang yang mendapat perlakuan keji yang sama di masa lalu. Kekerasan seksual yang dilakukannya merupakan manifestasi dari rasa takut, teraniaya, inferior dan pembalasan dendam. Tindakan kebiri bisa jadi malah akan menjadi pemicu pelaku untuk melakukan tindakan yang lebih brutal lagi. Ketika hasrat seksualnya hilang, maka pelaku bisa merancang tindakan yang lebih kejam untuk menyalurkan kompleksitas perasaannya tadi.

Kedua, ada hal mendesak lain yang harus diperhatikan selain pemberian hukuman seberat-beratnya pada pelaku, yakni faktor pencetus kejahatan seksual. Akses terhadap pornografi/pornoaksi yang mudah, murah dan tanpa limitasi membuat siapapun bisa mendapat suguhan amoral. Hal ini bersama dengan lemahnya keimanan individu, kurikulum pendidikan yang kering nilai agama, serta merebaknya paham kebebasan di tengah masyarakat, membuat hasrat seksual menyimpang makin subur tidak terkendali. Maka perlu sokongan sistemis dari Negara untuk membuat semua komponen tadi berjalan kondusif.

Islam menetapkan pendidikan tentang kejelasan identitas seksual sejak balita. Negara wajib menutup celah rangsangan publik berupa pornoaksi/pornografi dan seluruh konten yang menjurus ke arah itu. Sehingga bibit penyimpangan dan kekerasan seksual bisa diobati sejak dari hulu. Sistem hukuman bagi pelaku penyimpangan sosial dalam islampun jelas dan sangat membuat jera, yakni hukuman mati. Tentu saja hal ini baru bisa terlaksana bila pandangan hidup sekuler di tengah masyarakat telah terganti oleh islam.

 

*Semburat Jingga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s