Berputar Menjadi Sesuatu Yang Bukan Kita


 

1064769_5002166824086_1671513439_o

Anak-anak selalu punya cita-cita menjadi seseorang atau memiliki sebuah profesi, kebanyakan sangat umum, terkadang absurd dan tak sedikit yang bombastis. Ketika waktu mengantarkan mereka menjadi remaja, saat akal telah mampu membantu mereka memilah, dan standar mereka tentang segala sesuatu telah berubah, banyak dari mereka yang tersenyum dengan cita-cita yang dulu sempat mereka punya. Laju informasi, pergeseran gaya hidup, persinggungan pemikiran, dan dinamika sosial di sekitar mereka akan membuat remaja tadi merevisi cita-cita. Mereka menambal, mereka mengganti, bahkan mereka membuang cita-cita masa kecil mereka.

Tapi selalu ada yang statis. Beberapa orang dengan cita-cita yang sama sejak kanak-kanak hingga dewasa, biarpun itu adalah cita-cita yang melawan mainstream. Atau ada juga manusia dewasa yang cita-citanya telah berbeda jauh dengan masa kecilnya, namun tetap saja cita-cita yang  sekarang juga tidak umum, melawan mainstream, dan yang paling penting tidak bisa ‘menghasilkan uang’.

Pemain bola misalnya. Di negara macam Italia, Spanyol, Inggris, pemain bola sangat menjanjikan. Tapi profesi ini di Indonesia bukan sesuatu yang membanggakan. Pemain bola gemilang di dalam lapangan, tapi mereka ‘kuyu’ di luar lapangan. Gaji untuk pemain klub tingkat kabupaten atau propinsi berapa sih? Justru banyak yang gajian 3-4 bulan sekali. Di masyarakat umum, bermain bola hanya dijadikan aktivitas saat senggang. Dan cita-cita menjadi pemain bola biasanya milik kanak-kanak, karena setelah dewasa, cita-cita ini terasa tidak wajar.

Atau menjadi pustakawan. Ada orang-orang yang begitu mencintai buku. Selalu penasaran dengan aneka pengetahuan, ide segar, pengalaman beragam yang bisa mereka jangkau dari buku. Dan pustakawan menjadi cita-cita favorit. Tapi berapa sih bayaran seorang pustakawan?

Cara paling gampang untuk menakar profesi ini umum atau tidak, masuk akal atau tidak adalah dengan memposisikan diri anda adalah orangtua, dan anda memiliki anak yang sejak kecil bercita-cita menjadi pemain bola? Pustakawan? Penabuh gamelan? Pelukis? Seniman jalanan? Ilustrator buku dongeng? Fotografer? Atlit surfing? Pemain game online profesional? Dan banyak lagi cita-cita profesi yang anda –sebagai orangtua- nilai kurang memadai, agak aneh, tidak cocok, dan tidak akan mendatangkan kesejahteraan (materi). Sementara bagi anak anda, cita-cita/profesi tadi adalah segalanya. Itu kemampuannya, itu passion-nya, itu segalanya.

Sebagai anak dengan keinginan dan cita-cita yang dianggap kurang wajar oleh orangtua, terkadang ini membuat nelangsa. Padahal passion kita ada di situ, kesenangan kita ya itu, kemampuan kita ya itu. Ketika orangtua tidak setuju dengan keinginan kita, maka belibetlah urusannya.

Tentu kita bisa berargumen bahwa segala sesuatu jika digeluti dengan tekun dan serius pasti akan memberikan hasil yang maksimal. Apalagi jika memang cita-cita itu baik, tidak bertentangan dengan syara’, dan aktivitas yang ada dalam profesi tadi juga ahsan-ahsan saja. Tapi kita tidak bisa memberikan batasan waktu pada orang tua dan lingkungan kita, kapan cita-cita tadi akan mendatangkan hasil yang maksimal bagi kita? Berapa lama waktunya? Seberapa besar hasilnya? Apalagi jika standar ‘sukses’ bagi lingkungan kita adalah materi, ya kita akan pusing sendiri. Ujung-ujungnya kita akan kembali ditanyai, diadili, dan akhirnya dimita untuk jadi realistis dengan menanggalkan cita-cita yang ‘tidak realistis’ tadi. Pernah ada di posisi ini?

Kalau pernah, maka saya cuma ingin menyampaikan satu quote ‘makjleb’: “Terkadang, kita harus berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi.”

                 Jika cita-cita kita baik, dan keinginan orangtua kita –yang berbeda dengan kita- juga baik, maka komunikasi yang jujur dan terbuka bisa jadi jembatan yang menghubungkan dua keinginan yang berbeda ini. Siapa tahu ketidaksetujuan orangtua ternyata karena perbedaan standar (maqayyis), kekurangpahaman mereka atas bakat dan kemampuan kita, perbedaan pandangan, atau hanya sekedar rasa egoistis. Dengan komunikasi yang baik, insyaAllah ada titik temu.

Namun saat pemahaman dan standar sudah sama tapi kok keinginan tetap saja berbeda, ada baiknya ya kita mengalah (ini tidak ada kaitanya dengan sikap mudah menyerah, tidak mau berusaha atau sikap “pasrah bongko’an” loh ya). Karena ditilik dari sisi praktis, orangtua memiliki pengalaman yang jauuuuuh lebih banyak dari kita. Ditilik dari sisi filosofis (hehe…), ketika keinginan sama-sama baik ya posisi orangtua di hadapan Allah lebih tinggi daripada kita, dan di sini kita terikat dengan konsep ‘ridho Allah ada pada ridho orangtua’ atau konsep ‘Al jannatu tahta aqdamil ummahaati’. Ya tho?

                 Quote “Terkadang, kita harus berputar menjadi sesuatu yang bukan kita demi menjadi diri kita lagi”  bisa jadi pertimbangan. Kita lakukan sesuatu yang menjadi keinginan orangtua dan lingkungan sekitar –dengan tidak meninggalkan yang wajib-, jadi yang terbaik di situ, sukses di situ, sejahtera di situ. Ini cuma secuil pengorbanan. Nanti setelah kita ‘dianggap’ sukses, kita bisa menjadi diri kita lagi, menggeluti kesenangan kita, bebas melakukan apa-apa yang menjadi passion kita. Karena terkadang yang dibutuhkan oleh orangtua kita adalah pembuktian. Pembuktian bahwa kita mampu melakukan dan menjadi A. Setelah ada di posisi A, kita bisa melakukan B sampe Z.

Semua hal punya resiko, tapi kita bisa mengambil yang resikonya paling kecil, apalagi yang menjadi resiko dan harus dikorbankan ‘hanya sekedar’ hobi/kesukaan kita. Bahsya!

 

*Semburat Jingga
*Saya menulis ini setelah sahabat karib saya nun jauh di sana curhat tentang posisinya yang serba salah di hadapan orangtua, terutama ibu. Yah, finally we gotta choose. And being humble or lose some of our dreams or take out our ego-thing isnt wrong, sometimes. Barakallahufiikum, dear….

2 thoughts on “Berputar Menjadi Sesuatu Yang Bukan Kita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s