Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya


Image

Saya tidak sedang dalam misi untuk membuat sinopsis ataupun mengkritisi novel ini. Saya hanya ingin menuliskan bahwa ada sesuatu dari novel ini yang rasanya memaksa saya untuk berfikir tentang banyak sekali hal. Dewi Kharisma Michellia, well, sejauh ini hanya satu novelnya yang mejeng di lemari buku saya. Belum pernah saya menemukan karyanya berserakan dengan bebas untuk bisa saya nikmati. ‘Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya’. Itu judul novelnya. Entah, sepertinya kok saya merasa gagasan yang dia lebur dalam karyanya terlalu mirip dengan jalan cerita yang selalu saya impikan untuk menjadi sebuah novel.

Sungguh saya mengira saya sedang menelusuri novel dengan setting tahun 1900-an awal saat beberapa bab sudah saya telan. Untuk beberapa lama, dia tidak menceritakan detail lokasi di mana kisahnya berlatar, semua detail, hingga saya berfikir bahwa detail-detail itu bisa saja ditemui di ruang dan waktu manapun. Beneran rasanya seperti menikmati Pride & Prejudiceatau mengeja lagi spirit Van Gogh dalam surat-surat resahnya kepada sang adik, atau berkelana di pekarangan Boo Radley dalam novel sepanjang masa karya Harper Lee, To Kill A Mockingbird. Ya rasanya memang seperti itu. Menyesap perjalanan panjang sang tokoh yang kesemuanya merupakan monolog. Dan itu membuat saya takjub. Di banyak review yang saya buat di Goodreads, saya mengatakan bahwa saya akan selalu terpesona dengan para penulis yang tetap mampu menyihir pembaca dengan jalinan diksi yang bukan dialog. Narasi yang panjang, monolog yang kaya, dan semuanya tetap mengemban ide, spirit, dan keanggunan yang kokoh.

Lalu di banyak halaman setelahnya, saya suka caranya menggambarkan sesuatu dari sudut pandang pertama, yang jauh berbeda dengan cara kebanyakan orang memandang –termasuk saya. Saya takjub bagaimana Dewi menggambarkan betapa kelabunya kehidupan sang tokoh. Gagal kuliah di sejarah, pontang-panting di psikologi, mengawali kerja menjadi jurnalis, dan secara gambling menjajal menjadi reporter. Seluruh kelindan masalah dalam keluarganya. Kepribadiannya yang arogan, sangat tertutup, tapi juga pengeluh. Dewi menanamkan kesan yang begitu abu-abu dalam novelnya, dan dia sangat berhasil menyampaikan itu pada saya. Saya merasakannya. Novel itu terlihat dalam gambaran sephia, tidak berwarna, seperti dawai biola tidak berhenti menguarkan nada minor. Ngilu.

Novelnya ini merubuhkan ekspektasi saya di bagian ending. Aahh!! Saya tidak berharap akhirnya seperti itu, tapi ya akhirnya seperti itu. Oh ya, gaya bertutur Dewi ini manis. Emosinya tertumpah perlahan-lahan dalam tiap kalimat. Kalimatnya pendek, menyimpan emosi lain agar tertumpah di kalimat-kalimat berikutnya. Pada beberapa bagian, Dewi juga mengingatkan saya dengan gaya bertutur Ayu Utami dan Laksmi Pamuntjak: lugas, gamblang.

Dan saya akan selalu tercengang heran bila penulis mampu menuliskan detail dari hal-hal kecil, rutinitas-rutinitas, dan peristiwa keseharian yang bahkan saya sendiri tidak percaya akan mampu menyajikannya dalam sebuah tulisan yang tidak membosankan. Untuk urusan aktivitas bangun tidur, atau berdiam di rumah, atau makan saja dia bisa menganyam berparagraf-paragraf kata yang tetap enak dibaca (setidaknya menurut saya). Sumpah deh saya iri dengan penulis yang seperti ini. Karena saya menyadari bahwa saya selalu membutuhkan surprise-surprise untuk tulisan-tulisan yang saya buat. Ketika saya harus menulis fiksi yang itu lebih dari 20 halaman halaman, spasi 1.5, font Time New Roman ukuran 12 saja, saya pasti langsung mumet akan memasukkan detail yang seperti apa, rangkaian kata yang seperti apa. Itulah kenapa begitu banyak ide novel yang stucked di 20 halaman (saya baru membuka tulisan-tulisan saya, dan nyatanya memang seperti itu, haha..).

Ya begitu sudah menurut saya. Sejauh ini memang buku bisa meringankan histeria saya akan liburan panjang atau wisata. Rutinitas dan sekian agenda terkadang berhasil menggerus keinginan saya melancong atau mencoba hal-hal baru untuk berhenti sejenak dari garis edar harian saya. Dan memang kesenangan itu terlampau sederhana (pada akhirnya). Saya bisa mendapatkannya dari sebuah buku yang bagus dan kamar yang tenang.

Semburat Jingga

One thought on “Surat Panjang Tentang Jarak Kita Yang Jutaan Tahun Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s