Nothing Lasts Forever


1375175_4797057664087_1355639294_n

Di manapun, kehilangan dan perpisahan akan selalu menyakitkan. Sekuat apapun kita berusaha untuk tegar, tersenyum dan tabah, tetap saja mata ini akan mendanau. Saya sering merasakan perpisahan dengan kerabat atau sahabat, baik karena momen pindah tempat ataupun karena pindah dunia. Perpisahan pertama yang membuat hati saya benar-benar ngilu adalah saat kami sekeluarga harus pindah ke Perumahan Sumberlele, meninggalkan hunian lama di Kebonagung. Saat itu usia saya tidak lebih dari enam tahun. Masih cuek keluar rumah dengan mata berbelek dan hidung berkerak ingus. Saya menangis meraung-raung saat harus meninggalkan dua nenek yang selama ini selalu menjaga saya jika mama dan papa pergi kerja. Mereka tidak punya hubungan darah samasekali dengan saya, tapi saya mendapat pengasuhan yang tulus dan mulus di tangan mereka.

Momen kedua yang tidak kalah menyakitkan adalah ketika saya sekeluarga harus pindah. Lagi. Entah kepindahan untuk keberapa kali. Bukan pindah desa, kecamatan, atau kabupaten. Tapi provinsi. Saya menyudahi episode kehidupan saya dari Kraksaan, kota mini di kawasan utara Jawa di timur sana, beralih ke Purwokerto, tempat sejuk yang dekat dari Gunung Slamet. Saya sudah remaja saat itu. Sudah mampu memilih teman. Mampu berorganisasi. Bahkan sudah jatuh cinta untuk kali pertama. Maka kepindahan itu menjadi saat-saat yang menghisap habis kebahagiaan masa remaja saya. Ah terlalu kompleks yang saya rasakan saat itu. Hingga di tempat baru saya seringkali tercenung dan menangis. Butuh waktu yang agak lama hingga saya menyadari seutuhnya bahwa perpisahanpun akan memberi hikmah.

Banyak sekali momen perpisahan sejak saat itu, tidak terhitung dengan jari. Beberapa benar-benar menguras air mata dan membilah perasaan saya. Saat badan saya makin tinggi, makin dewasa, melewati euphoria masa muda, saya merasa makin mampu menguasai akal dan hati saya saat menghadapi perpisahan. Meski pada praktiknya, tetap saja saya akan kembali seperti anak kecil. Merengek dan tergugu. Hari ini, momen itu memang harus terulang lagi. Sepaham apapun saya akan konsep ‘nothing lasts forever’, saya tetap merasa tidak siap bahkan sangat tidak menyukai momen seperti ini.

Sukiyati Satuhu. Mbak Suki. Saya memanggilnya begitu selama 4 tahun ini. Saya ingat betul ketika pertama kali pindah ke Jogja karena penempatan kerja, beliau saudari perjuangan pertama yang menjenguk saya. Saat itu medio Desember 2009. Saya baru saja lulus dari Akademi, masih lusuh, awut-awutan, dan belum bergaji. Haha. Mbak Suki menyambangi saya saat kamar kos masih berhias satu koper dan sehelai kasur super tipis. Membawa jundi pertamanya, Laits Al-Faruq, beliau menyapa dan mulai memperkenalkan secara lisan aktivitas dakwah teman-teman perjuangan yang ada di situ.

Mbak Suki yang menjadi musyrifah pertama saya di Jogja. Beliau yang mendampingi saya mengeja bagian buncit kitab Nidzamul Islam dan satu paket At-Takattul Al Hizbiy. Mbak Suki yang senantiasa memberi saya target dirasah dan mutholaah mingguan, tatabbu fakta atas kasus apapun yang terjadi di dalam dan di luar negeri, mengajari saya berfikir kritis dan mendalam. Dari cara beliau memberi syarah atas kitab, saya banyak sekali belajar beretorika, mengatur intonasi, memberi jeda, mengemas materi. Mbak Suki adalah orang yang benar-benar memahami aktivitas kerja saya, hingga beliau menetapkan waktu halqah dan muhasabah yang begitu fleksibel dan sangat memudahkan saya.

Mbak Suki memiliki peran sangat besar hingga saya bisa dan terbiasa menyusun konsep acara, merangkai TOR, mengkoordinasi masalah teknis. Dulu beliau selalu menjadi ‘otak’ atas semua kajian remaja yang ada di tempat kami, dan saya akan selalu menjadi pelaksana teknis atas konsep-konsepnya. Kini, saya sudah mampu berjalan sendiri, melakukan hal-hal yang beliau lakukan dengan banyak sekali masukan dan dukungan dari sisinya. Mbak Suki yang menjadi inspirasi saya untuk menyajikan tampilan multimedia yang tidak sembarangan di tiap acara. Karena memang seperti itulah beliau. Tayangan yang memukau, PPT yang mempesona, ice-breaking yang elegan, dan musik yang membangkitkan. Hingga itu yang membuat saya tidak berhenti belajar membuat potongan film sendiri, mencari background yang mengena untuk tiap slide di power point, dan hal-hal lain yang menjadi pendukung acara.

Beliau selalu jadi orang pertama dalam urusan menjenguk saudara yang sakit maupun takziyah atas saudara yang meninggal, dan itu yang beliau ajarkan pada saya. Mbak Suki beberapa kali membuat saya merasa menjadi ibu meski saya belum menikah, karena Laits diizinkan untuk sering bermain dan menginap dengan saya. Mbak Suki selalu mengajak muhasabah dengan suasana yang sangat menyenangkan. Sambil makan mie ayam, sambil jalan-jalan, sambil menikmati sawah.

Dan sungguh saya mengagumi kecerdasannya, kemampuannya mengatur dakwah dan keluarga. Ah, entah teman yang mana lagi yang tidak saya ceritakan tentangnya. Tentang pendidikannya yang pascasarjana, hanya demi meningkatkan kapabilitas dalam mendidik anak-anaknya. Mbak suki yang setia menjadi ummu wa robbah al bayt meski mendapat kesempatan S3 gratis. Semasa kuliah S2, IPK-nya tidak pernah kurang dari 3.9. Padahal untuk melunasi biaya kuliah yang jutaan per semesternya, beliau mencari tambahan dengan berjualan es lilin seharga 500-an, menitipkan di warung-warung, atau berjualan telur asin.

Mbak Suki tidak suka bahasa, meski cerdas
luarbiasa untuk urusan lain, beliau mati kutu dalam bahasa. Walhasil, hampir seluruh diktat dan jurnal kuliahnya yang berbahasa inggris, saya yang mengartikan dan menyampaikan isinya pada beliau. Saat beliau pusing ujian, saya juga ketularan pusingnya. Hahaha. Beliau bisa menembus angka 400 dalam tes TOEFL setelah ujian 29 kali. 29 kali saudara-saudara! Luarbiasa melihat semangat beliau harus bolak balik tes TOEFL setiap nyaris 2 minggu sekali. ALLAHU!

Untuk masalah pendidikan anak, ah beliau akan selalu menjadi kiblat saya. Saya sangat sering bercerita betapa cerdasnya Laits. Entah kesabaran dan keikhlasan seperti apa dalam pendidikan yang ditetapkan mba Suki hingga Laits menjadi anak yang sedemikian kritis, sopan dan cerdas. Laits kecil akan selalu menyetor hafalan surat pendek dan haditsnya pada saya tiap kali naik motor. Laits yang selalu memberikan jawaban dan tanggapan atas segala sesuatu di luar pemikiran anak-anak seusianya. Pernah saat mengikuti lomba mewarnai gambar ibu kita Kartini di TK-nya, Laits mem-block seluruh rambut hingga dada wanita Jepara itu. Saat guru menanyai kenapa harus diblock dengan warna coklat seperti itu, Laits menjawab sopan: “Kan Kartini itu muslimah bu. Muslimah itu wajib menutup auraatnya. Makanya Kartini Laits bikinin kerudung coklat biar rambut n dadanya nda keliatan.” Laits jadi juara I di lomba mewarnai itu. Bukan karena pewarnaannya yang bagus, tapi karena jawabannya yang begitu mengena.

Pernah juga suatu waktu gurunya di TK memberikan studi kasus sederhana. “Apakah yang akan kalian lakukan jika melihat seorang pengemis yang sudah tidak makan sekian waktu?”. Ada yang menjawab akan memberi uang, memberi makanan, memberi mainan yang dia punya, mengajaknya ke rumah, dll. Lalu Laits mengangkat tangan dan menjawab sopan lemah lembut, redaksinya begini kira-kira: “Memberi orang tidak mampu itu baik Bu, kan memang tangan dia atas itu lebih baik daripada tangan di bawah. Tapi kan ada penyebabnya kenapa kok ada orang miskin di Indonesia ndak habis-habis bu. Itu karena pemerintah menerapkan sistem Kapitalis, bukan sistem Islam. Sistem Kapitalis itu sistem taghut, dan sistem taghut itu pasti ambruk!”. Satu kelas, baik guru dan kawan-kawannya cuma memperhatikan Laits tanpa bisa mencerna apa maksud perkataannya barusan. Banyak sekali momen yang menjelaskan betapa Laits mendapatkan pendidikan yang tidak main-main dari ummi dan ayahnya.

Entah, Mbak Suki punya andil besar mengantarkan saya hingga di titik ini. ‘Pemaksaan’nya pada saya untuk memiliki kemampuan berbicara yang baik, ceria, dan mengena membuat saya benar-benar bisa berbicara (meski masih sangat jaaaauuuuuuh dari beliau). Semua darisah yang pernah menjadi amanahnya pasti merasakan ‘pemaksaan’ berbicara ini. Hehe…Hingga nyaris 16 bulan lalu ketika saya berkumpul dengannya lagi dalam satu majlis halqah, tidak sebagai darisah-musyrifah lagi, tapi sebagai sahabat, membuat saya menikmati bertemu beliau setiap minggu. Dan kini harus saya terima kenyataan bahwa mungkin tidak akan ada lagi momen seperti itu. Saya insyaAllah akan bertemu beliau lagi, entah kapan. Tapi jelas, semuanya akan berbeda, tidak akan pernah sama lagi. Saya tidak akan lagi melewatkan malam-malam letih menyusun konsep bersama beliau sepulang kerja. Atau makan mie ayam bareng. Atau menyewa gedung acara bersama-sama. Atau sekedar curhat-curhatan tentang anak, suami, rumah tangga yang biasanya kami habiskan di serambi rumahnya.

Pagi ini saya merengek seperti balita di hadapan mbak Suki. Saya memeluknya, secara tidak sadar mengatakan padanya untuk tidak meninggalkan saya. Saya membutuhkan beliau untuk menjadi partner dakwah saya, menjadi sahabat saya, menjadi kakak saya, menjadi ibu saya, seperti yang empat tahun ini kami lalui. Saya tidak ingin ditinggalkan. Rasanya posisi Mbak Suki tidak akan pernah terganti. Tapi saya segera sadar bahwa segala sesuatu mesti berubah, berpindah, dinamis. Mba Suki punya kehidupan. Dan pindah ke Bogor merupakan keputusan terbaik bagi kehidupannya.

Tadi saya memeluk Laits, ‘Alim dan Miqdam. Mungkin saya akan bisa bertemu mereka lagi saat mereka sudah menjadi laki-laki dewasa. Saya memeluk Laits sangat lama. Karena dari tiga putra Mbak Suki, saya merasa paling dekat dan menghabiskan paling banyak waktu dengannya. Mata saya mendanau saat dengan lirih saya menyampaikan harapan dan doa-doa saya untuk Laits. Laits juga langsung merah dan berkaca-kaca, ia tidak bisa bicara apa-apa. Sejak kecil dulu memang gayanya selalu dewasa, selalu seperti lelaki dewasa. “Mas, terus jadi anak sholeh ya. Hafalannya ditambah, manut sama ummi dan ayah. Jaga dek ‘Alim dan Dek Miqdam.”

Well saya tidak peduli lagi saat air mata saya tidak mengering sepanjang perjalanan ke Stasiun Tugu mengantarkan mereka. Bodo. Saya tidak pernah malu untuk jadi cengeng dan kekanakan di depan orang-orang spesial. Dan saat memeluk Mbak Suki terakhir kali, kata-kata saya amblas sudah. Saya mematung. Mbak Suki tau betul sesayang apa saya pada keluarganya, maka beliau cuma tersenyum saat saya tidak mampu lagi berkata-kata.

Selamat jalan mbak sayang, semoga Allah senantiasa menautkan hati kita. Aamiin!

Gamping, 18 Oktober 2013

Semburat Jingga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s