FAMILY


My code: Family! (Dominic Toretto)

 

Kalo kata si Shaw di F&F 6 sih everyone must have a code, and Dom said his code is family, means he would do anything for them, no matter what. Kalo lihat sekuel F&F memang kelihatan kalo Dom benar-benar melakukan apapun untuk menyelamatkan dan menjaga keutuhan keluarganya (whatever it takes, and whatever the way he does).

Hah, nonton F&F 6 malah membuat saya terbayang-bayang wajah mama, abang dan mbak ipar saya… Hiks!

Berbicara tentang keluarga, lingkup komunitas paling kecil ini memang selalu berarti buat siapapun. Di lingkungan ini, seseorang akan tercetak, bertumbuh, terpahat, berkembang. Pondasi paling dasar dari corak karakter, keimanan, dan kebiasaan seseorang bermula di sini. Ibu bertindak, mencontohkan. Ayah bertutur, memberi tauladan. Cetak biru bagi seorang anak tidak berhenti ketika proses genetis itu diturunkan tapi berlanjut hingga kanak-kanak.

Saya pernah memiliki seorang teman waktu SMP, dia cerdas, suka sekali bertanya, tidak malu untuk berbicara dan mengemukakan pendapat. Di kala satu kelas hening saat guru usai memberi penjelasan, dia akan mengangkat jempolnya berkali-kali untuk ‘curhat’ mengenai ketidaktahuannya terkait materi hari itu. Di lain waktu, dia berani tampil di depan kelas dan membawakan puisi dengan gesture-nya yang ‘wow’ sekali. Ternyata dia bilang kalau ayahnya terbiasa menanyakan ‘menurut pendapatmu, gimana nak?’ baik saat nonton berita, kartun, dan saat mengalami kejadian sehari-hari. Jadi dia sudah di ‘set’ sedemikian rupa untuk jadi anak yg tidak malu mengemukakan pendapat dan berbicara.

Pernah juga saya punya kenalan yang gampang silau dengan benda dan menginginkan apa yang dipunyai orang lain. Orang pake tas ini, dia beli. Orang punya baju merk ini, dia ngikut. Orang pake sepatu itu, dia juga beli. Dan dari pengakuannya -secara tak sengaja- saya tau bahwa ibunya selalu bertindak reaktif terhadap barang baru kepunyaan orang lain. Ibunya punya prinsip: ‘orang punya A, kamu harus punya A, bahkan kalau bisa A+. Jangan sampe ketinggalan’. Kebiasaan ini termanifestasi dan mengakar kuat pada kenalan saya itu, hingga sampai kuliahpun dia tetap reaktif dan ingin memiliki (dengan cara membeli) apa yang dimiliki orang lain.

Atau saya punya teman satu pengajian dengan tiga putra, putra pertamanya akrab dan terbiasa main dengan saya sejak kecil. Anak ini (sebut saja Faruq), akan otomatis menghafal ayat qur’an atau hadits pendek setiap kali saya ajak naik motor. Awalnya saya selalu kaget karena setiap saya men-starter motor Faruq selalu bilang, ‘Khola sekarang aku mau hafalan surat Adh-Dhuha, atau hadits tentang persaudaraan’. Lama-lama saya jadi tahu bahwa umi Faruq yang punya banyak aktivitas (Dakwah, ummu wa rabbah al bayt, kuliah S2, bisnis), selalu mengkondisikan Faruq untuk hafalan saat berada di perjalanan untuk mengefektifkan waktu. Faruq juga punya kebiasaan ‘berdakwah’ jika ada hal-hal yang berbeda dari apa yang ditanamkan ayah-uminya. Misal, saat Faruq melihat ibu teman TK-nya tidak memakai kerudung, dengan polos dia akan bertanya, “Khola, khola muslimah bukan?”, saat dijawab YA, Faruq akan melanjutkan, ‘kok khola pakenya baju pendek? kan harusnya muslimah itu berkerudung dan pake jilbab’. Dan banyak hal lain yang pernah jadi objek ‘kekritisan’nya.

Yah, meski faktor lingkungan punya pengaruh besar juga terhadap tumbuhkembang manusia, tetap keluarga itu adalah tempat pemahatan pertama. Kondisi masyarakat yang benar-benar jungkir balik saat ini, ditambah peran negara yang parsial terhadap kondusivitas tumbuh-kembang anak (tayangan televisi, peredaran konten porno, peredaran miras+narkoba, kurikulum pendidikan ala ‘kuli’, dll), membuat fungsi keluarga jadi terasa sangat, sangat, sangat penting!

*Lah ini kok jadi ngelantur panjang gini sih, kan tadi niatnya pengin nulis tentang mama* hahaha

Mama saya jelas berbeda dengan mama orang lain dalam memberikan pengasuhan. Beliau praktis, simpel, ekspresif, tegas, mandiri, diktator untuk urusan pendidikan & penjagaan, suka sekali menulis dan palung kesabarannya luar biasa. Pola pengasuhan mama sudah membentuk saya dan abang sebagaimana kami sekarang. Ah, panjang, panjang sekali jalan yang sudah kami tempuh untuk selalu bergandengan dan berpelukan demi saling menjaga dan tidak tercerai-berai satu sama lain. Setiap keluarga pasti punya ujian kolektif, dan mama sudah menjadi tameng yang luar biasa kuat untuk anak-anaknya. Ibu yang baik akan selalu memberikan output yang baik pada anak-anaknya, sekotor apapun lingkungan memberi input.

Terbayang-bayang wajah mama yang pasti sendu malam takbiran ini, meski sudah seharian tadi saya telpon. Karena baik saya dan abang sama-sama on duty sampai H+5. Nanti pada punya anak yang banyak, yang bungsu dibikin agak jauh jaraknya. Jadi kalo kakak2nya gede n pada pergi, kalian masih punya anak bungsu buat nemenin di rumah’. Ini yang sering mama bilang kalau kami bisa kumpul satu keluarga, nasehat yang lebih bersifat ‘jeritan hati’ karena beliau lebih sering sendiri di rumah.

Keluarga akan selalu jadi tempat kembali (setidaknya bagi saya). Serendah apapun dunia memandang saya, seramai apapun dunia memuji saya, seberagam apapun manusia memperlakukan saya, keluarga selalu menyediakan tempat kembali bagi saya. Mama akan selalu menyambut saya sebagai anaknya, putrinya, sahabatnya, teman diskusinya, dengan apapun keadaan saya. Abang akan selalu menerima saya sebagai adik, putri, sahabat, ‘kekasih masa kecil’, dan teman diskusinya dengan apapun keadaan saya. Maka keluarga akan selalu jadi tempat teraman untuk kembali setelah Allah. Apalagi kalau kita punya mama dan kakak yang tangguh.

Ini lebaran ketiga tanpa kebersamaan bersama mama, abang dan kakak ipar. Takbiran yang saling bersahut itu selalu berhasil membuat saya berkaca-kaca. 21 tahun tahun saya selalu berkumpul dan bersimpuh di kaki mama tiap lebaran tiba. Ah, maaf lahir batin ma. Ndi terlalu banyak punya salah. Anak yang sering durhaka, bandel dan keraskepala. Abang juga, dulu jadi ‘kuntet’ dan kerempeng karena kelakuan egois saya. Yah bertumpuk-tumpuk dosanya. Berapa lapis? RATUSAN! :3

Tapi, senakal apapun saya, mama n abang tetap nerima kan. ya kan? ya kan?Ah Family, kata ini memang selalu berarti untuk orang-orang yang setidaknya memiliki ayah yang baik atau ibu yang baik, atau kakak dan adik yang baik, apalagi kalau anda memiliki ketiganya dengan utuh. Horeee, syukuri nikmat keluarga. Gak semua orang punya keluarga. Alhamdulillaah!

(Semburat Jingga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s