Jeda Tarikan Nafas Dan Gelembung Sabun


gelembung sabun

Aku ingin rehat. Aktivitas temporal itu begitu menjemukan. Ia kecil, tapi selalu berhasil menculik segenap fokusku. Seperti sehelai bulu kucing, yang bahkan tak terdeteksi mata saat angin meniupnya, tapi sekali saja hirupan nafasmu menyedotnya ke dalam rongga hidung, maka lengkap. Kita bisa bersin-bersin, kegelian, dan parahnya kalau sudah tergeletak rapi di kerongkongan, bulu itu jadi bibit infeksi. Hhh!

Atau mari aku ibaratkan aktivitas temporal ini serupa gurat warna jingga di paparan langit menjelang petang. Momen ini sering terlupa. Bahkan untukku yang begitu menggilainya, aku bisa lupa untuk berhenti sejenak menikmati senja. Kanvas langit senja itu begitu mudah terlewat ketika kita tenggelam dalam rutinitas harian yang begitu memburu. Apalagi memang, durasinya tidak lama. Hanya 47 detik saja –berdasar buku ‘Sunset Bersama Rosie’ milik Tere Liye. Ya 47 detik langit yang cerah mampu dengan sempurna memamerkan simphoni jingga-biru-merah di atas sana. 47 detik yang begitu mudah terlupa. Tapi sekali saja mata kita berhasil menangkap keajaiban itu, maka lengkap. Aku bisa berhenti dan menepikan kendaraan  di padatnya lalu-lintas hanya untuk menikmatinya. Rasanya semua beban terangkat dari pundak. Air mata kering. Kekalutan enyah. Kekusutan pikiran hengkang. Kelelahan purna. Dramatis.

Ya, hal-hal kecil seperti itulah ‘aktivitas temporal’ itu. Sesuatu yang kecil tapi….sangat megah! Mencerabut fokusku. Membuat huru-hara dalam aktivitasku. Membelokkan kekonsistenanku atas sesuatu. Merenggut gairahku untuk melakukan sesuatu.

Aku sudah membiasakan diri, tepatnya tak pernah berhenti untuk membiasakan diri. Tapi tetap saja, ketika aktivitas itu berakhir di luar harapan, dunia ini mendadak oleng. Meski olengnya hanya sebentar, tapi semua perabotnya jadi kusut masai, centang prenang. Dan butuh sekian waktu untuk menata semua seperti sedia kala.

Apa aku yang kurang memahami konsep Qadha’ dan Qadar ya, bahwa semua ketetapan, yang baik maupun buruk itu datangnya dari Allah? Ya, aktivitas temporal ini akan menghasilkan sebuah keputusan. Keputusan yang bisa merubah hidup siapapun.

Akhirnya, di detik ini, qalbu ini bersimpuh. Aku berpasrah. Hanya Allah yang aku punya. Allah yang kupercaya di tanganNya tergenggam urusan-urusan  yang tak mampu terdeteksi oleh perkiraan, ramalan, dan perhitungan manusia, tak terkecuali mama.

‘Rabbi…tsabbit qulubana ‘ala diinik. Allahumma arinal haqqa haqqan, warzuqna ittiba’ah wa arinal batiila batiilan, warzuqna ijtinabaa. Ya Rabbul Izzati, hati ini lemah, maka kuatkanlah. Apapun yang hamba hadapi, hamba hanya meminta keputusan yang terbaik. Terbaik menurutMu, tidak menurut hamba, tidak menurut orang tua hamba. Ketika keputusan itu sudah nyata, maka lapangkanlah hati hamba untuk mampu menerimanya. Hamba hanya ingin beribadah kepadaMu, dengan khusyuk. Menapaki jalan dakwah ini, dengan istiqomah. Menyusur jalan menuju syurgaMu, tanpa jeda. Hanya itu Ya Rabb…Maka jagalah setiap pilihan-pilihan yang hamba susun untuk senantiasa berada dalam RidhaMu. Aaamiiin..’

Aku ingin jeda ini sejenak saja. Terlalu lena jika membiarkannya. Membuat kakiku nanti beku dan malas berlari. Dan Allah begitu adil. Allah mencetak karakter ‘mudah bangkit’ sedemikian rupa dalam gen ini. Seberat apapun itu, aku hanya butuh satu tarikan nafas. Dan semua selesai. Sakit itu sudah menguwar, tandas. Jeda ini harus seperti gelembung sabun. Ia boleh saja membesar, tapi akan meletup sekedipan mata.

(Semburat JINGGA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s