B.A.G.A.I.M.A.N.A.


sudut-pandang

Banyak terkadang membuat matamu kelu mencari celah. Jamak menutupi indramu dari mengendus esensi mengejar saripati. Dan hari ini aku memangkas yang banyak itu. Sekian jam lalu aku membuat yang jamak menjadi bonsai. Harapku bahwa sedikit itu cerkas, ringkas. Kecil akan bisa menyesap konsentrasi.

Tapi ternyata teoriku salah. Segala yang kini menjadi bonsai dan kecil itu samasekali tidak identik dengan ringkas, rapi, lugas. Justru semuanya menampilkan detail geometri yang lebih rumit, saling-kelindan, mengaburkan mata. Otakku yang jenuh menampung billiun mega kini harus menatap trilliun terra. Sampah!

Bukan seberapa banyak, seberapa sedikit, seberapa pelik, seberapa merepotkan permasalahan/sesuatu/seseorang itu. Semua berpulang pada BAGAIMANA aku melihatnya, menelanjanginya, mengulitinya. Masalah akan tetap setinggi Himalaya jika hati kita cupet. Semua hal baru akan terasa seberat bumi jika pikiran kita pendek. Setiap orang terasa semenyebalkan kutu di rambut yang tak henti menghisap darah dan membuat kita uring-uringan sepanjang hari, jika sudut pandang kita kaku.

Berpulang bagaimana kita melihat. B.A.G.A.I.M.A.N.A.
(Semburat JINGGA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s