LALITA: Buku II Seri Bilangan Fu Karya Ayu Utami


lalita

Ayu Utami itu simbol dari misteri dengan kabut gigih yang menjulang, perkasa yang semerbak dan diksi yang menantang. Dari taun jebot sampe sekarang, saya terguling-guling dan selalu menunggu karya-karyanya.

Dulu, jaman taun 1999-an, saat saya masih duduk di kelas 6 SD dan sering mendengar tentang novel “SAMAN” sebagai novel yang berani mencongkel lembar-lembar lumpur orde baru, saya benar-benar ingin membaca novel itu. Apalagi nama pengarangnya belum seakrab NH Dini, Matu Mona, dan Marah Rusli di telinga saya. Tapi kala itu ada beberapa orang yang kontan memukas usai mengetahui keinginan saya, “Jangan baca deh, Nindi masih terlalu kecil. Itu bukunya orang dewasa”. Twewew… jadilah hingga detik ini, Saman menjadi satu-satunya karya Ayu yang belum saya baca.😦

Buku Kedua dari seri Bilangan Fu, LALITA, sekali lagi menjahit keterkaitan antara seni, sejarah, mistisisme, dan tentu saja erotisme. Di sini, Yuda, Parang Jati dan Marja Manjali terhisap dalam keagungan masa lalu simbol Buddhisme terbesar di dunia, BOROBUDUR.

Semua dimulai ketika Yudha bertemu sosialita pemilik sebuah galeri Seni bernama Lalita. Atau sebut saja ia ‘menganggap’ namanya seperti itu. Yudha menyadari bahwa wanita ini terlalu ingin bersembunyi dari dunia. Riasannya sangat tebal, sepatunya selalu tinggi, outfitnya selalu gemerlap. Seolah, di saat yang sama, ia ingin dunia memperhatikan sekaligus menutupi dirinya serapat mungkin. Yudha menamainya: Perempuan Indigo. Indigo adalah nama lain dari warna biru yang mendekati ungu.

Pertemuan-pertemuan Yudha menyeretnya pada hidup Lalita yang saling berkelindan dengan obsesinya, ketakutannya, masa lalunya, keinginannya. Hingga akhirnya Yudha mengetahui bahwa Lalita bernama asli Ambika Putri. Ia mengambil nama ‘Lalita’ dari kitab Lalitavistara, perkamen yang menceritakan masa hidup  Buddha di kehidupan sebelum ia memilih menjadi Buddha.

Masalah mulai mencuat saat Yudha mendapat kabar Marja akan diperkosa, dan di saat yang sama Lalita dianiaya di rumahnya sendiri. Semua demi sebuah kitab: INDIGO.

Yudha mengajak Parang Jati memulai ekspedisi berliku ini. Meneliti kehidupan Lalita, bayangan-bayangan masalalunya, obsesinya pada mandala/bagan-bagan, hingga semua memusat pada sosok kakek Lalita : ANSHEL EIBENSCHUTZ. Seorang pengikut teosofi yang berdarah Austro-Hongaria, pernah berada dalam lingkaran diskusi psikoanalis Sigmund Freud, dan menghabiskan seluruh masa senjanya di Magelang Jawa Tengah.

Kitab Indigo adalah rekam jejak perjalanan spiritualitas hingga akademis Anshel. Seluruh usahanya dalam ilmu gelombang (kymalogi) demi menemukan bentuk-bentuk abadi dunia terjilid rapi di sana. Anshel menulis tentang darahnya yang dialiri langsung oleh Vlad III (Dracula/Pangeran Ordo Naga), anak raja Hongaria yang dititipkan pada Kekhilafahan Turki untuk dididik dan dibina. Saudara Vlad III, Radu, mampu menyerap dengan tulus semua ilmu dan kebersihan ajaran Islam, hingga akhirnya Radu masuk Islam atas kesadarannya yang utuh. Namun tidak bagi Vlad, ia memiliki bibit kebengisan dan dendam dalam hati yang ia tuai hingga dewasa. Dan saat akhirnya bisa membebaskan diri dari Turki, Vlad menjadi penyula yangbegitu kejam. Ia menyula (menusuk tubuh manusia dengan pasak-pasak panjang dan runcing hingga mati) semua orang yang tidak disukainya.

Warisan genetis yang dimiliki Anshel dari Vlad III membuatnya begitu membenci sejarah keluarga -apalagi saat ayahnya dibunuh saat pengusiran Dracula- hingga ia menjauh dan menekuni theosofi. Ia mulai tergerak untuk mempelajari tentang mimpi, alam bawah sadar manusia, dan bentuk-bentuk konsentris ketika ia tergabung pada lingkarang diskusi psikoanalisa yang dikomandani oleh Sigmund Freud. Di sana Anshel bertemu Carl Gustav Jung, karena mereka memiliki kecenderungan minat yang sama. Semuanya berkembang saat Anshel berkunjung ke Nepal, tempat Dalai Lama, dan ia menemukan mozaik tentang persinggahan Buddha di Asia jauh. Jawa.

Trio Yudha, Parang Jati dan Marja berkejaran untuk lebih dulu mengetahui apa sebenarnya yang ditemukan oleh Anshel Eibenschutz, pertalian jenis apa yang menghubungkan Dracula, Buddha, Borobudur, Lalita, dan mandala.

Untuk tau jawabannya, Anda harus rela berenang dan tenggelam di sini. Ikut menelan dunia Ayu yang kuat dan lugas.

Selamat baca!😉

(Semburat JINGGA)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s