The Geography Of Bliss: A Book By Eric Weiner


The-Geography-of-Bliss

Mengapa kita mempertanyakan kebahagiaan? Mungkin karena kita lebih mudah menggambarkan ketidakbahagiaan daripada kebahagiaan. Coba saja menghitung ada berapa kosakata yang menggambarkan masing-masing kondisi tersebut. Pasti lebih banyak yang menggambarkan ketidakbahagiaan. Jadi, akhirnya kita selalu mempertanyakan apakah kita bahagia, karena yang sehari-hari terbaca adalah ketidakbahagiaan. Padahal, semakin sering mempertanyakan kebahagiaan, kita justru menjadi semakin tidak bahagia.

Ini adalah sejumput pertanyaan dan hipotesa nakal yang berkelindan dalam pikiran Eric Weiner, mantan jurnalis New York Times. Dia berpikir bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang objektif, bukan lagi subjektif, yang karenanya bisa diteliti. Tekadnya membaja untuk mencari tahu lebih banyak tentang kebahagiaan dan segala hal yang terikat dengannya. Jadilah ia melompat dari satu negara ke negara lain, bukan untuk menikmati eksotisme pariwisatanya, tapi demi menyesap apa yang membuat rata-rata orang di sebuah negara bahagia, dan apa yang membuat mereka kurang bahagia. Dan ‘The Geography Of Bliss’ adalah judul buku yang merangkum semua perjalanan itu.

Perjalanan pertamanya adalah Belanda. Negara ini dijadikan tujuan karena di sinilah seorang profesor pakar kebahagiaan, Ruut Veenhoven, tinggal dan terus melakukan riset. Kebahagiaan kini tentu sudah bisa diukur. Beberapa tahun lalu, ilmuwan di University Of Iowa melakukan penelitian terhadap respon seseorang pada situasi tertentu. Kepala objek peneliti disambungkan dengan MRI, lalu mulai diberikan tampilan-tampilan yang memungkinkan respon dari otaknya tentang perasaan senang/bahagia dengan perasaan tidak senang/tidak bahagia. Dan ini merupakan satu riset dari ratusan riset yang mulai gencar dilakukan demi merumuskan kebahagiaan.

Belanda, digambarkan oleh Weiner merupakan masyarakat dengan kultur kehidupan yang begitu dekat dengan coffeshop. Setelah masyarakat Belanda bisa dengan bebas menikmati prostitusi dan drug – dua hal ini dilegalisasi di sana- ternyata mereka adalah orang-orang yang mampu menghabiskan banyak waktu di kafe tanpa merasa bersalah sedikitpun. Kebiasaan ini yang menurut Weiner menjadi alasan mengapa filsuf-filsuf besar rata-rata lahir di Eropa. Mereka duduk di kafe berjam-jam dan membiarkan pikiran mereka mengembara sampai satu aliran filsafat baru yang radikal -misal eksistensialisme- muncul di kepala mereka.

Ketika sampai di Islandia -yang menurut statistik peneliti dari Belanda merupakan negara paling bahagia di dunia- Eric mendadak bisu. Islandia bagi Eric adalah gelap, karena siang hari sama pekatnya dengan malam, matahari adalah mahal, jarang sekali muncul. Bahkan di sebuah gedung di tengah kota, ada alarm yang berbunyi tiap jam 9 pagi untuk mengingatkan manusia bahwa jam kerja sudah mulai. Eric sempat heran bagaimana mungkin orang-orang yang jarang disapa matahari, yang tinggal di atas ‘tanah es’ bisa jadi orang2 paling bahagia. Eric menemukan jawabannya saat ia terjun di tengah mereka, melihat dengan mata mereka, mendengar dengan telinga mereka. Bagi Eric, Kebahagiaan di Islandia adalah kegagalan. Kenapa? Dengan gagal artinya mereka tau bahwa mereka bisa berhenti sejenak untuk kemudian melakukan sesuatu yang lebih besar lagi untuk menggapai sukses.

Atau di Bhutan, negara mini yang hanya memiliki satu jalan utama dan hampir tidak cukup jika harus dilewati dua mobil sekaligus. Bhutan tidak menjadikan ‘GROSS NATIONAL PRODUCT’ sebagai indikator kesuksesan dan kesejahteraan, lalu apa? pemerintah Bhutan menetapkan ‘GROSS NATIONAL HAPPINESS’ sebagai indikatornya. Waw… ada satu kutipan menarik di chapter ini:

Ketika pohon terakhir ditebang
Ketika sungai terakhir dikosongkan
Ketika ikan terakhir ditangkap
Barulah manusia menyadari bahwa dia tidak dapat memakan uang (Tertulis dalam sebuah papan di satu jalan di Bhutan)

Atau di Thailand yang menurut kesimpulan Eric, kebahagiaan di sana adalah ketika tidak berpikir. Rakyat Thailand selalu bisa melihat sisi menyenangkan dari masalah paling genting sekalipun. Mereka suka semua jenis kegiatan yang menyenangkan diri sendiri, melancong, mabuk, wanita, judi. Bahkan ada tempat aneh di sana, yaitu ‘Restoran Tanpa Tangan’ artinya bukan makanan yang dihidangkan di sana, krn pramusaji (yg semuanya wanita) melayani tamu dg tubuh mereka (hadduu!). Ketika seorang narasumber yang diwawancarai Eric mengetahui bahwa perjalanan Eric adalah demi meneliti segala hal yang terkait dengan kebahagiaan, ia justru balik bertanya pada Eric: Mengapa memikirkan kebahagiaan saat bahagia itu adalah tidak berpikir?

Bagi saya, buku ini lebih dari sekedar catatan perjalanan, tapi sekaligus jurnal penelitian, filsafat, pemikiran filsuf berbagai generasi, ajakan untuk merenung, dan memandang sesuatu dengan kacamata yang berbeda. Travelogue yang unik, kaya, dan memperkaya kita. Ada Belanda, Moldova, Amerika, Inggris India, Qatar, dan Swiss dalam potret yang samasekali berbeda.

Yakinlah banyak sekali detail yang akan membuat anda menggit bibir, tertawa, marah, bahkan miris -dan tentu saja pengetahuan ini tidak akan anda dapatkan di travelling guide manapun. Gotta say, Bacaan yang layak mejeng di rak buku anda🙂

(Semburat Jingga)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s