Syarat Terakhir


“Bu, masih basah di sini. Masih perih,, sakit.”

Fal meraba dadanya dengan tangan ringkih, matanya menjamah perempuan beruban yang asik mematahkan helai kangkung dari batangnya. Fal menghela, kali ini lebih menyentak dan miris. “Bagaimana mungkin ibu kuat? Perempuan pun manusia, memiliki keterbatasan. Ibu tidak mampu menembus batas itu, terlalu memaksa.”

“Menurutmu begitu?”, perempuan yang dipanggil Fal dengan ‘Ibu’ itu bangkit. Menyingkirkan nampan dan pisau dari pangkuannya. Tubuhnya memburu bingkai jendela, menyesap sinar yang masuk melewati lubang-lubang tirai berbahan tile. “Kadang, sebuah pemakluman bisa berlaku tidak untuk satu atau dua kali perlakuan buruk dan kata-kata kasar, Fal. Ia bisa berlangsung dalam rentang yang panjang, bahkan mungkin selamanya”, perempuan itu membalik badan dan memandang Fal, “Meski semuanya bisa jadi tidak berhulu dari perasaan cinta. Tapi keterbiasaan dan pengabdian terkadang menjadi alasan yang cukup.”

“Pengabdian, Bu?”, Fal nyaris tersedak. “Pengabdian macam apa yang mampu mengubah penyiksaan menjadi sebuah keterbiasaan?”

“Entahlah, Fal. Dulupun Ibu tidak pernah tau. Tapi ketika berada di sini, di titik ini, definisi itu melumat pemahaman ibu pada bentuk terkecil sekalipun. Ibu menerima dan mengerti tanpa sadar kapan penerimaan itu datang. Mungkin kelak kamu akan mengerti.”

“Aku tidak harus mengerti, Bu. Aku juga tidak harus ada di posisi seperti ibu untuk mengerti. Apa Ibu berdoa aku akan ada pada keadaan seperti Ibu selama 30 tahun?”

Wanita di hadapan Fal mendelik. Bukan marah pada Fal, namun sungguh tak menyangka Fal akan menafsirkan kalimat terakhirnya sebagai sebuah doa. Pengaharapan, “Tidak!! Sama sekali tidak!!”

“Jika ibu tidak ingin aku ada di posisi itu, artinya keadaan ibu sekarang tidak mengenakkan. Mengenaskan. Artinya ibu tidak punya alasan untuk diam, berdiam, menunggu, apalagi mengatakan ini keterbiasaan.”

Presti melebarkan daun pintu perlahan. Dua perempuan ibu anak itu bersamaan menatap lelaki dengan tinggi menjulang yang kini berada di hadapan mereka.

“KUA menyarankan gugatan cerai sebagai jalan untuk Ibu dan Bapak. Menurut mereka ini penyakit menahun, Bu. Sudah nyaris 30 kali laporan resmi yang masuk sejak puluhan tahun lalu. Mediasi tidak mungkin lagi direkomendasikan. Mereka sudah menyerah, apa Ibu belum?”

Presti melihat dada Fal lebih dekat, memperhatikan perban merah yang membungkus ulu hati adik semata wayangnya itu. Presti tahu, perasaan nyeri yang dirasa Fal belum apa-apa jika disanding dengan gejolak dan kebencian yang ada dalam hatinya. Kakak-adik itu berpandangan, lalu sama-sama menatap lekat perempuan senja yang matanya terangkat kosong ke luar jendela. Ada pengembaraan yang jauh pada mata itu. Lelah, sepi, gersang.

Presti dan Fal menahan nafas, berharap dengan sangat ibunya akan mau bercerai dari lelaki buas yang memangsa keceriaan mereka sejak dalam kandungan. Ketentraman macam apa yang bisa diharapkan dari seorang lelaki temperamental yang akan membanting TV saat makanan di atas meja sedikit tak sesuai dengan seleranya? Kebahagiaan macam apa yang bisa Presti dan Fal harapkan akan diraih oleh ibu mereka dari lelaki seperti itu? Lelaki yang telah mewariskan cetak biru DNA dalam darah mereka, lelaki yang mewariskan garis di hidung dan pipi mereka.

Hingga akhirnya mulut wanita senja itu terbuka, Fal dan Presti nyaris kehilangan nafas bersamaan.

“Baik. Tapi akan ibu laksanakan setelah Fal menemukan pendamping dan ayahmu menunaikan kewajiban menyerahkan Fal pada suaminya”

Wanita itu pergi. Dua kakak-adik di kamar itu bersorak tertahan, mata mereka berkilau berlian.

Presti mengelus helai poni Fal, “Segera laksanakan itu. Atau Ibu akan menderita lebih lama!”

Fal tersenyum. Bukan senyum yang lepas, bukan pula senyum kecut. Senyumnya berada pada persimpangan bahagia dan gamang. Dalam hati ia terus bergumam, “Jadi ini menjadi bebanku?”. Otaknya berputar meng-enkripsi sederet wajah yang memungkinkan sebagai solusi syarat dari ibunya ini. Sayangnya dia tidak menemukan siapa-siapa.

Kantor, 30 Oktober 2012, 01.10 am.

[Semburat Jingga]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s