Sebuah Rasa Yang Mengendap Selamanya


Konstelasi Crux, atau orang Jawa biasa menyebutnya rasi Gubuk Penceng, adalah sebuah titik yang jadi penunjuk bagi Kinan untuk melihat tempat lain di bawah konstelasi itu. Ya, sebuah tempat yang bahkan jutaan anak manusia pernah bertutur di sana, mengikat harapan, menghembuskan kecewa, meloloskan gundah. Sebuah tempat yang sudah ada sebelum astronomi dikenal manusia. Tempat itu adalah galaksi purba… Ajuj menamainya ‘Galaksi Cinta’. Dan nama itulah yang selalu Kinan hunjam dalam memorinya.

Mencintai. Hal ini menjadi begitu mewah ketika mengendap dalam sebuah bilik hijau di hati selama nyaris 20 tahun. Adakah yang benar-benar mampu menjalaninya? Hanya mengeja satu nama dalam hati, tidak pernah berniat meletakkan nama lain di sana, tidak sanggup menahan air mata saat membayangkan wajahnya yang terus meremaja dalam ingatannya, dan semua asik masyuk tentang pria/wanita idaman selalu direspon imajinasi dengan sebentuk wajahnya? Adakah yang benar mampu melakukan ini?

Saya pernah mencintai orang lain, bukan papa atau abang. Lelaki lain. Hingga saat ini, belum ada satu nama yang benar-benar bertahan lebih dari lima tahun di hati dan ruang memori saya. Kalaupun saya mengingatnya, tidak ada lecutan aneh yang membuat bulu halus di kulit saya mendadak bergetar, pun sensasi yang memacu jantung lebih keras berdebar. Cuma mengingatnya sebagai sebuah prasasti lapuk di masa lalu. Sekedar itu. Tidak lebih. Maka saya akan tertawa ketika novel bertutur tentang kisah cinta abadi atau berlangsung puluhan tahun tanpa alpa. Saya tertawa, meski jauh dalam hati sayapun menginginkan jenis cinta yang seperti itu.

Segala jenis ketakpercayaan dan tawa itu luruh saat saya menemukan buku tebal berdebu di kamar kos lama saya. Galaksi Kinanthi, itu judulnya. Saya risih begitu menyadari bahwa kemungkinan besar itu novel cinta. Bukan saya tak suka genre itu, namun saya ingin melatih diri saya untuk meningkatkan taraf bacaan saya dan beranjak dari level itu. Dan, lembar pertama telah menyihir semua gairah saya….

Satu hal yang secara sukses menguras perhatian saya adalah fakta bahwa novel itu diangkat dari kisah nyata. Saya pernah menemukan spirit cinta yang sama, seperti Surat Cinta Saiful Malook, yang saya lahap sekian tahun lalu.

Prof. Kinanthi Hope terus meletakkan nama Ajuj beriringan dengan hatinya. Entah kapan tepatnya nama itu merajai talamusnya, mengisi ruang-ruang kosong dalam ingatannya. Mungkin itu bermula sejak lelaki itu bertekad untuk selalu melindungi Kinan dari serapah mulut satu dusun kepada keluarganya. Pada ibunya yang dicap perempuan baulawean (siapapun yang dekat dengannya biasanya mati atau sengsara), ayahnya yang seorang tukang judi, kakak perempuannya yang jadi lonthe, kakak lelakinya yang preman pasar. Untuk alasan itulah Ajuj selalu ada di samping Kinan, karena selain dia, tidak ada yang mau mendekati gadis 10 tahun itu.

Apa yang terjadi setelahnya benar-benar di luar dugaan. Qadha Allah yang berbicara. Kinan ‘dijual’ oleh ayah ibunya demi mendapat 50 kilogram beras. Keberangkatan Kinan ke rumah majikannya dilepas Ajuj dengan marathon melelahkan, lebih lelah dan mengenaskan dibanding saat dia menyusuri lereng panas dan terjal bukit-bukit Gunung Kidul. Kinan banjir airmata, wajahnya menempel di kaca belakang mobil, sementara Ajuj berlari mengejar dengan tenaga yang bahkan melebihi kapasitas kaki dan sendinya. Tenaga habis-habisan untuk mencegah sahabat terkasihnya itu pergi. Raut wajah Ajuj yang merah kelelahan adalah sebentuk kenangan terakhir yang dia lihat hingga tenggat 20 tahun setelahnya. Sebentuk muka yang nyatanya tidak pernah bisa pergi sekuat apapun Kinan berusaha.

Setelah itu, Kinan dihargai tak lebih dari sekerat daging busuk. Tubuhnya mengalami penderitaan dan kesakitan yang panjang. Estafetnya sebagai TKW selundupan mulai dari Jakarta, Riyadh, Kuwait, dan terakhir Miami, sangat memiriskan hati. Semua jenis siksaan fisik pernah Kinan dapat, dan jangan tanya bentuk siksaan batin. Gairah Kinan luruh, semangat hidupnya sirna, beberapa kali dia hendak mempertemukan wajahnya dengan basement gedung berlantai lapis. Tapi selalu urung. Karena bayangan Ajuj hadir dalam temaramnya dan muncul sebagai pengobar keinginannya untuk terus menyeret nyawanya berdetak lebih lama.

Tasaro GK, merangkai kisah Kinan dalam jalinan kata yang begitu berkarakter, cerdas, dan menghanyutkan. Setiap kata mulai pembuka hingga penghujung cerita sangat berenergi. Ditambah banyak sekali diskusi tentang biologi, filsafat, kedokteran, agama, spiritualitas, konstelasi, dan sastra. Gambaran trafficking dan buruknya supremasi hukum Indonesia dalam melindungi warga negaranya juga diulas dengan gamblang melalui detil hidup Kinan.

Bacalah. Novel ini telah berhasil merenggut mata saya untuk tidak melepasnya sedikitpun selama 4 jam nonstop. Hmm, Luarbiasa!

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s