HIKS, KUPIKIR ITU SUNGGUHAN!


*Flash Story By Tere Liye

 Awal dari semua kerumitan masalah ini adalah suatu malam, saat Puteri begitu semangatnya bercerita kalau dia baru saja bertemu dengan Rio, di salah-satu tempat makan tenda tepi jalan paling ramai dekat kampus kami.

“Kenapa lama sekali, Put?” Sari, teman satu kontrakan bertanya, kami sedang mengerjakan tugas desain interior di ruang tengah, bersama tiga teman cewek satu jurusan lainnya, sibuk melototin laptop.

Putri hanya tersenyum simpul.

“Bukannya lu bilang mau makan di rumah? Nggak jadi dibungkus ikan gorengnya?”Aku ikut bertanya, menoleh, “Aduh, gue kira tadi bakalan bisa ngambil bungkusan lu, Put. Laper, nih.”

“Ngambil? Perasaan selama ini yang ada ngerampok, maksa minta.” Sari menyikutku, tertawa.

Aku nyengir.

Putri masih tersenyum simpul, loncat duduk di sofa, menyalakan televisi.

“Eh, sejak kapan lu suka nonton, Put? Bukannya lu jam segini lebih suka di kamar, internetan?” Sari bertanya lagi. Sebenarnya kami sudah mulai bosan mengerjakan tugas sejak tadi sore, Sari sedang melemaskan badan, ikut naik ke atas sofa, membiarkan yang lain di karpet menyelesaikan gambar desain, bercakap-cakap dengan Puteri bisa jadi intermezzo yang baik.

“Gue lapar, nih. Sudah nggak tahan.” Aku ikut berdiri, “Ada yang mau mie rebus?”

Semua teman-teman di karpet mengacungkan jari semangat. Siapa pula menolak ditawari mie rebus gratis. Aku nyengir, sedikit menyesal telah menawarkan diri, tahu semua bakal mau, mending nggak usah bilang. Menggaruk kepala yang tidak gatal, kadang berbuat baik itu memang perlu niat, bukan basa-basi doang.

“Eh, kenapa lu sekarang senyum-senyum sendiri, Put?” Sari tidak ikut mengacungkan tangan, masih sibuk menyelidiki Puteri, menatap Sari di sebelahnya, kepo, ingin tahu urusan orang lain, “Memangnya acara di tipi lucu? Cuma siaran berita doang?” Sari melihat sekilas layar televisi.

Puteri malah semakin tersenyum simpul.

“Ada apa sih, Put?” Sari penasaran.

“Rahasia.” Puteri tertawa.

“Ayolah,” Sari sebal mengangkat bantal di depan Puteri, agar berhenti menonton televisi, pindah memperhatikan dia.

Puteri nyengir, menatap Sari lamat-lamat, lantas sengaja sekali berbisik, “Rio.”

Pelan saja Puteri mengatakan kalimat itu, berbisik malah, sengaja agar yang mendengar hanya Sari, tapi itu cukup untuk menghentikan langkah kakiku yang persis sudah di bawah bingkai pintu menuju dapur kontrakan. Dan juga tentu saja, tiga teman satu jurusan lain yang masih sibuk dengan tugas di karpet ruang tengah.

What??? Rio?

Lupakan mie rebus, bergegas balik kanan.

***

Bah, kalau mendengarkan baik-baik cerita Puteri, aku pikir nggak ada yang spesial. Apanya yang spesial? Puteri pergi ke warung tenda, mau bungkus makan malam menu ikan goreng, tapi saat dia berdiri di depan abang pemilik warung yang sibuk mencatat pesanan, sambil meneriaki juru masaknya, sudut mata Puteri menangkap ada Rio yang ikut melangkah masuk.

“Eh, ada Puteri. Malam, Put.” Rio tersenyum.

Aduh, semua orang di kampus juga tahu siapa Rio, gebetan satu kampus. High class jomblo. Disenyumin seperti itu bahkan membuat Puteri seperti sesak.

“Suka makan di sini juga, Put?”

Puteri mengangguk-angguk seperti orang-orangan sawah.

“Makan bareng yuk, itu teman-teman satu kostanku juga mau makan.” Rio menunjuk beberapa teman kampus lain yang mengambil posisi kursi masing-masing.

“Jadinya dua puluh ribu, Neng.” Abang pemilik warung yang menerima bungkusan dari bagian masak berseru.

“Nggak jadi dibawa pulang, Bang. Makan di sini saja.” Puteri berbisik.

Rio sedang menoleh, mengkoordinir pesanan temannya.

“Lah? Bukannya Neng minta dibungkus tadi?”

“Ssshhh….” Puteri melotot, aduh, Abang jangan pura-pura bego, tahu. Ini kesempatan emas.

Rio sudah kembali memperhatikan Puteri.

“Terserah, Neng-lah. Woi, makan di sini ternyata, tolong taruh di piring.” Abang warung mana paham, tetap berteriak, menyuruh salah-satu anak buahnya.

“Eh, Put? Tadi kamu sebenarnya mau bungkus bawa pulang, ya?” Rio bertanya.

“Nggak kok. Nggak. Abangnya saja yang salah.” Puteri buru-buru menggeleng, “Aku memang mau makan di sini.”

“Si Neng tega deh. Padahal Neng sendiri yang barusan batalin dibungkus, jadi makan di sini saja.” Abang warung masuk dalam percakapan lagi, protes.

Di tengah asap dan aroma ikan goreng, kesibukan orang makan, dan lalu lalang pengamen, mana paham Abang warung kalau sejak tadi Puteri sudah melotot-lotot menyuruhnya tutup mulut. Maka jadilah Puteri makan malam bareng Rio. Bareng? Enak saja, yang tepat itu adalah Puteri makan malam bareng enam teman kampus lainnya. Dan itu biasa saja. Apanya yang spesial? Istimewa? Please deh, Rio itu memang gentle, dia ramah ke semua orang, baik hati, di samping eh, tentu saja tinggi, tampan dan pintar, plus jago main basket.

“Nana, katanya mau bikinin mie instan?” Salah-satu teman mengerjakan tugas desain interior nyeletuk, sesaat setelah cerita ‘versi sesat’ Puteri selesai.

“Kami ngobrol banyak loh, Sari.” Di atas sofa, Puteri masih sibuk bercerita, yang lain masih sibuk memperhatikan.

“Oh ya?” Sari nyengir.

“Itu makan malam yang menyenangkan.”

Aku yang berdiri di belakang kerumunan, menepuk jidat. Aduh, paling juga Puteri cuma melongo melihat teman-teman Rio ngobrol. Apanya yang menyenangkan?

“Nana, laper, nih? Mie rebusnya buruan?”

“Sebentar, sih.” Aku masih ingin mendengarkan cerita Puteri, memastikan beberapa hal.

“Ayo, Na. Kamu kan paling pintar masak.”

Aku mengomel dalam hati, satu untuk cerita Puteri, satu lagi untuk request mie rebus dari teman-teman. Sudahlah, balik kanan, kembali ke dapur kontrakan.

“Rio bahkan nanya, aku punya akun facebook atau nggak?” Sari masih berceloteh, terdengar.

“Oh ya?”

“Yang enak seperti biasa ya, Na.” Teman mengerjakan tugas berseru, mengacungkan jempol

Aku tidak menjawab.

***

Tugas desain interior itu sudah kelar sekitar jam sembilan malam. Teman-teman sudah pamit pulang, menyisakan aku, Sari dan Puteri penghuni kontrakan. Kami bertiga teman sejak SMA, sekarang sama-sama kuliah di satu kampus meski berbeda jurusan. Aku dan Sari di jurusan desain, Puteri jurusan Manajemen, dan Rio, eh, kenapa aku harus menyebut-nyebut nama Rio lagi? Baiklah, Rio di jurusan teknik.

Karena teman dekat, daripada nge-kost masing-masing, kami bertiga memutuskan ngontrak rumah tiga kamar, biar lega. Aku yang punya ide ngontrak. Agar ada ruang tamu, ruang ngumpul, dan yang pasti ada dapur. Dapur? Iya, karena aku suka masak. Saking sukanya, sudah enam bulan terakhir, aku iseng bikin bisnis kue-kue basah dan kering. Di dapur ada oven, peralatan bikin kue, lengkap. Tidak besar-besar amat, hanya menerima pesanan teman-teman dekat. Mendesain sambil diselingi bikin kue itu seru. Nah, Sari dan Puteri tentu saja tidak keberatan, malah senang, setidaknya bisa gratis ngemil kue kalau aku lagi bikin.

“Sari! Nana!” Ada yang berseru kencang, persis saat aku melemparkan badan di atas kasur, mau tidur.

“Sari! Nana!” Puteri pasti akan terus berteriak memanggil dari kamarnya kalau kami tidak ke sana.

“Ada apa, sih?” Sari masuk lebih dulu, mendekat ke Puteri yang sedang duduk menghadap laptopnya.

“Statusku di-like.” Wajah Puteri terlihat memerah bahagia, andaikata bisa dilustrasikan seperti komik-komik remaja, malah ada kembang warna-warni, pelangi segala di atas kepalanya. Tuing, tuing.

“Di like siapa?” Sari ingin tahu, menyeruak melihat layar laptop.

“Rio.”

Aduh, aku lagi-lagi menepuk jidat. Ternyata kami dipanggil teriak-teriak hanya karena urusan facebook.

“Tadi dia request nge-add aku, lantas aku add. Aku kan tadi pasang status, ‘makan malam yang menyenangkan, thx’, terus dia like.” Puteri sumringah sekali menjelaskan—sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dijelaskan.

“Lihat, kan?” Puteri menunjuk timeline facebooknya.

Aku balik kanan, menghela nafas, itu biasa saja kali. Rio jelas-jelas baru terkoneksi dengan Puteri, basa-basi nge-like statusnya Puteri. Tidak ada hubungannya dengan makan malam yang ‘menyenangkan’ barusan.

***

Maka, suasana rumah kontrakan kami segera berubah drastis seminggu terakhir. Puteri sibuk atas ‘pertemanan’ barunya di dunia maya dengan Rio. Maksudnya, sibuk memanggil-manggil kami, memberitahu jika ada yang ‘spesial’ menurutnya. Karena Puteri itu level ke-GR-annya tingkat nasional, maka itu berarti apa saja berarti spesial baginya.

Puteri pasang status, ‘Tadi ketemu orang keren di kampus’, di like Rio, wajah Puteri persis seperti orang habis menang quiz berhadiah pulau. Status milik Puteri tentang, ‘Aku suka film Batman yang baru’, dikomen Rio, ‘Aku juga suka loh, Put’. Puteri langsung berbunga-bunga, bahkan bunga sungguhan di depan rumah kontrakan kami kalah meriah. Atau status Puteri tentang: ‘Terima kasih sudah bayarin angkot tadi’, dikomen Rio, ‘Sama-sama, Put. Lain kali kamu yang bayarin.’ Puteri semangat sekali bercerita panjang lebar, sampai berbusa-busa.

Demi pertemanan sejak SMA, aku mau mendengarnya, walaupun kesal. Karena kalau dipikir-pikir dengan akal sehat, sebenarnya apa yang spesial? Ketemu orang keren di kampus? Boleh jadi Rio mikir itu orang lain yang dimaksud Puteri, seharian di kampus, ada berapa ratus coba orang yang kita temui. Sama-sama suka film Batman yang baru, siapa yang tidak? Itu bukan berarti ada kesamaan spesial diantara Puteri dan Rio. Dibayarin ongkos angkot? Aduh, jelas-jelas Puteri lupa bawa dompet, kebetulan satu angkota dengan Rio, masa’ Rio tega membiarkan Puteri terpaksa jadi kernet angkot selama satu jam sebagai ganti ongkos yang tidak mampu dibayarnya?

Tetapi tidak bagi Puteri yang sejak kami masuk kampus itu, sudah ngebet kelas berat dengan Rio. Pertemanan dunia maya ini terasa sungguhan benar olehnya, padahal di dunia nyata? Apanya yang dekat? Mereka paling cuma ngobrol satu dua kalimat, tidak ada bedanya dengan yang lain.

“Nggak semua kali.” Aku memotong cerita Puteri.

Puteri yang sedang semangat cerita soal status-status facebook Rio yang ditujukan untuk ehem pertanda ‘hubungan mereka’ menoleh padaku. Sari juga ikut menoleh.

“Nggap semua apanya?” Puteri bertanya.

“Ya nggak semua status Rio itu tentang kalian. Kemarin saja Rio update status proyek jembatan tugas mata kuliah sipilnya, mana ada hubungannya dengan kalian? Kecuali Puteri jadi inspirasi jembatannya,” Aku mengangkat bahu.

“Kok kamu tahu status yang itu, Na?” Puteri bertanya lagi.

“Tahu saja.” Aku masih malas menanggapi.

“Bukannya kamu belum tersambung pertemanan dengan Rio?” Puteri menyelidik.

“Memang nggak.”

“Nah, kok kamu tahu? Wah, ternyata ya, Nana yang alim, yang bilang nggak suka dekat-dekat sama cowok, memeriksa timeline Rio? Ayo ngaku?” Puteri melotot.

Sari yang duduk di tengah tertawa, melihat muka Puteri dan melihat muka merahku.

“Siapa yang memeriksa timeline Rio? Aku cuma memastikan kalau cerita Puteri itu benar atau nggak, hanya itu kok.” Aku membantah.

“Ayo ngaku saja, Na.” Puteri nyengir, tidak percaya, “Kamu naksir Rio juga kan? Pantas saja setiap kali aku bercerita wajahnya berubah, tidak terima. Ih, Nana cemburu, ya? Sayangnya, kamu tuh bukan type Rio, Na.”

Aduh, aku menggaruk kepala yang tidak gatal, siapa yang naksir? Aku cuma memastikan, biar Puteri tidak terlalu GR atas komen dan like Rio di facebooknya, hanya itu. Siapa pula yang cemburu? Anak ini semakin error GR-nya.

Sari semakin terpingkal, menonton kami yang bertengkar.

Lima belas menit, Sari menyuruh kami berhenti. Sudah malam, Puteri sengaja masih saja menyelidik, aku terus membantah. Kami masuk kamar masing-masing tanpa kesimpulan, sebal malah.

Enak saja Puteri bilang aku bukan type-nya Rio. Kalau saja aku tidak memiliki prinsip tidak mau dekat-dekat dengan teman cowok kecuali memang mau serius, sudah sejak dulu mudah saja membuat Rio naksir padaku. Kalau saja aku tidak memiliki prinsip lebih baik menyibukkan diri, terus belajar, kecuali memang sudah serius, justeru Puteri itulah yang tidak masuk sainganku.

Aku menggerutu sebal menatap langit-langit kamar.

***

Seminggu berlalu, tetap begitu-begitu saja kelakuan Puteri.

“Sariiii, siniii. Ada yang baru!!” Puteri persis seperti pembawa acara berita televisi yang sedang live liputan aksi, berseru antusias.

Aku dan Sari yang sedang duduk, belajar di ruang tengah bersama Puteri yang asyik main internetan di sofa, menoleh.

“Ada apa?” Sari bertanya.

“Rio, Sar, Rio!” Sari mendesis riang.

“Ada apa dengan Rio?”

“Rio bilang selamat ulang tahun.”

“Lantas?” Aku yang bertanya, sedikit tidak sopan.

“Ya tidak ada lantas-lantasnya. Aduh, padahal aku kan ulang tahunnya baru besok loh. Ini juga belum jam dua belas malam, loh,” Puteri cengengesan riang, “Rio orang pertama yang bilang. Dia pasti sengaja .”

“Biasa saja kali.” Aku kembali ke buku tebal tentang desain, “Paling juga karena setting waktu facebook Rio pakai negara Amerika Serikat, jadi waktunya lebih cepat dibanding kita, notifikasi ada teman yang ulang tahun muncul lebih cepat, dia tidak sengaja kecepatan bilang, bukan sengaja ingin jadi orang yang pertama bilang.”

“Dasar pencemburu.” Puteri melempar gulungan tissue ke arahku, tidak terima atas analisisku—yang sebenarnya amat masuk akal itu.

Sari tertawa, segera ber-hsss sudah-sudah jangan bertengkar.

“Benar, kan? Itu memang tidak spesial, kan?” Aku menatap protes kepada Sari, bagaimana mungkin Sari selalu membesarkan hati Puteri? Jelas-jelas itu hanya facebook? Di dunia nyata, aku yakin bahkan Rio tidak akan bilang kalimat itu langsung di kampus.

“Kamu naksir Rio kan, Na? Ayolah, ngaku saja.” Puteri nyengir, balas berseru tidak sopan.

“Bukan itu poinnya.” Aku mengelak.

“Ayo ngaku saja, Na” Puteri memonyongkan bibirnya, “Kasihan Nana, gebetannya ternyata naksir aku.”

“Siapa yang naksir kamu, Put? Rio? Aduh, jangan GR deh.” Aku balas memonyongkan bibir.

“Itu buktinya! Komen wall di facebook. ‘Selamat ulang tahun, Put. Semoga Puteri selalu cantik dan baik hati seperti seorang Puteri’” Puteri mana mau kalah.

Sari lupa kalau dia harusnya melerai, sekarang malah tertawa lebar melihat kami saling berseru.

Aku berdiri kesal, membawa buku tebal tentang desain. Baiklah, malam ini mending aku menyelesaikan pesanan kue dari teman-teman. Masak di dapur. Daripada belajar di ruang tengah mendengarkan celoteh Puteri yang semakin galau se-semesta. Coba bayangkan, sejak kapan Puteri suka basket dan sepakbola? Gara-gara Rio pasang status soal itu, dia buru-buru ikut pasang status suka klub bola favorit Rio. Sejak kapan Puteri suka band rock? Gara-gara Rio pasang foto anggota band cadas itu, Puteri bergegas mendeklarasikan dia paling suka dengan band itu. Menunggu-nunggu Rio like atau komen statusnya, lantas semangat bercerita. Apanya yang spesial?  Bahkan kalau Rio nulis status dia suka ngupil atau kentut sembarangan, maka Puteri akan menjadi orang pertama yang ikut-ikutan nulis status ngaku suka ngupil dan kentut sembarangan juga, lantas semalaman menunggu kapan Rio akan mengunjungi profilenya.

Aku justeru sedang berbuat baik pada Puteri, mencoba menasehati, mengingatkan, sudah berapa kali coba dia galau semalaman gara-gara nungguin like atau komen Rio? Ucapan selamat ulang tahun itu biasa, Rio selalu bilang kalimat itu di wall teman-temannya yang tersambung, dan selalu rajin yang pertama. Aku sering periksa kok, aku tahu sekali.

“Idih, Nana marah.” Puteri berseru di atas sofa, “Kalau marah, berarti benar, dong, Nana juga naksir Rio?”

Sari nyengir menatap punggungku hilang di balik pintu dapur. Tidak berkomentar, masih dengan sisa tawanya melihat aku dan Puteri bertengkar barusan.

Puh, aku tidak akan menghabiskan waktu mendengar lantas bertengkar soal ‘pertemanan’ akrab mereka di facebook. Apa tadi Puteri bilang? Kasihan Nana, gebetannya naksir aku. Omong kosong. Baik, aku akui saja, aku juga suka dengan Rio, siapa sih yang tidak suka? Dia ideal dalam banyak hal. Aku juga suka memeriksa timeline-nya, meski tidak berani nge-add. Karena aku tidak akan menanggapi cowok manapun kalau hanya untuk teman dekat, kecuali teman hidup, serius. Baiklah, bikin kue selalu berhasil mengusir sebalku selama ini.

***

Rumah kontrakanku yang selama ini selalu damai dan tenteram jadi berantakan gara-gara dunia maya Puteri. Aku sebenarnya memutuskan berhenti menanggapi apapun update Puteri tentang dunia itu—meski Sari tidak, Sari malah seperti mendapat bahan hiburan baru, menggoda Puteri. Sialnya, yang namanya tinggal satu atap, kami tetap bertemu satu sama lain, berpapasan menuju kamar mandi, duduk di depan televisi, dan sebagainya. Kami tidak bertengkar serius sih, namanya juga sahabat baik, tapi ‘perang dingin’ ini menjengkelkan. Apalagi kalau Puteri sambil berpapasan, sengaja ber-cie-cie, meledek, bilang masih cemburu nih ye, atau ehem, katanya alim, nggak mau pacaran, kenapa sekarang malah naksir cowok? Aku rasa-rasanya mau menjitak jidat lebar dan lucu milik Puteri.

Beruntung, belakangan Sari lebih banyak lurus menengahi bukan tertawa melihat muka masam kami satu sama lain. Seperti malam ini, Sari mengajak aku dan Puteri makan bareng. Sari yang akan mentraktir, dompetnya lagi tebal, barusan dapat kiriman dari Nyokap.

“Janji ya, tidak ada pembahasan tentang Rio, facebook dan sebagainya.” Sari mendaftar peraturan.

Aku dan Puteri, demi makan malam gratis di salah satu kedai fast food dekat kampus mengangguk kompak.

“Bahkan tidak boleh saling sindir, menyindir.” Sari melotot, memastikan.

“Siap, bos.” Aku dan Puteri menjawab kompak.

Sayangnya, jika aku dan Puteri sepakat untuk tidak membahas soal itu, yang bersangkutan, Rio, justeru kebetulan sedang makan bersama teman-temannya di sana.

Aduh, aku mengeluh dalam hati, bakal runyamlah makan malam bersama kami. Pihat, baru juga melihat sekilas, Puteri sudah mesem-mesem terlihat riang, menyikut Sari, maksudnya, kita bergabung ke meja mereka saja. Aku mendengus, nggak usah, jangan genit. Puteri melotot, cuek bebek.

“Hei, kalian mau makan di sini juga, ya?” Rio yang melihat kami saling sikut masuk kedai fast food, justeru melambaikan tangan, berdiri, lantas menyapa, “Gabung, yuk.” Rio seperti biasa selalu keren dan ramah, memberikan tawaran. Mata Puteri langsung menyala seratus watt. Aku menghembuskan nafas, puh, dasar centil.

Tapi setidaknya, saat aku mencemaskan harus menyaksikan Puteri yang terus pecicilan, ternyata ketidaksengajaan ini memiliki manfaat tersendiri. Apa yang aku bilang selama ini benar, kan? Lihat tuh, di dunia maya saja Puteri merasa dia dan Rio dekat satu sama lain, lantas berseru-seru antusias di kontrakan kami. Di dunia nyata? Kebalikannya, 180 derajat. Tidak sekalipun mereka saling bicara meski satu meja. Rio lebih banyak ngobrol bareng temannya, sekali-dua mengajak Sari bicara—kebetulan mereka sama-sama pengurus organisasi kemahasiswaan. Puteri? Hanya kebanyakan senyum manis, sampai kering tuh gigi.

Dan puncaknya, taraaa, persis makanan pesanan kami tandas masuk ke dalam perut, Rio tiba-tiba justeru mengajakku bicara, “Eh, Nana kan, ya?”

Aku yang barusaja duduk, habis mencuci tangan dari wastafel, mengangguk. Ada apa?

“Eh, maaf, walaupun sering ketemu kita jarang bicara, ya.” Rio nyengir.

Aku mengangkat bahu. Tidak masalah.

“Nana punya akun facebook nggak sih?”

Aku mengangguk.

“Bagi dong namanya. Nanti aku add.”

Senyum manis lima senti Puteri yang duduk di sebeahku langsung padam.

***

Sari terpingkal melihat wajah masam milik Puteri sepanjang perjalanan pulang naik angkot.

Terus terang saja, aku senang sekali diajak bicara oleh Rio barusan. Bahkan hatiku seperti hendak meletus saat Rio bertanya akun facebook. Sesaat, aku paham kenapa dulu Puteri senang dan bertingkah aneh banget berteman dengan Rio di facebook.

“Tuh, sudah di add, Sar.” Aku nyeletuk, memperlihatkan layar telepon genggam, kami bertiga duduk berderet, “Kira-kira aku approve nggak sih?” Pura-pura bertanya bloon.

Di sebelah Sari, Puteri melotot, tapi tidak bicara.

Sari tertawa, mengangguk, “Di approve dong, Na.”

“Tuh, ada komen Rio, Sar.” Tiga puluh detik berlalu, aku lagi-lagi memperlihatkan layar telepon genggam, sepertinya Rio yang pulang ke kostan, sedang online juga di perjalanan.

“Dia komen apa?”

“’Wah, ternyata bisnis kue-kue Nana sudah besar, ya. Padahal aku baru tahu tadi siang.’” Aku sengaja membaca komen Rio seperti sedang berdeklamasi puisi. Facebook-ku memang tidak seperti profile kebanyakan, aku tidak memakai nama asli, foto asli, facebook-ku hanya tempat jualan kue.

Sari tertawa. Puteri semakin melotot, tetap tidak bicara.

“Kayaknya ada yang profile facebooknya nggak sempat dilihat sama gebetannya lagi, nih. Sejak tadi gebetannya komen mulu di profileku sih.” Aku nyengir.

Sari berusaha menahan tawa. Kasihan melihat tampang Puteri yang seperti hendak menangis. Aku santai-santai saja, makanya, siapa suruh dia GR? Terbukti, kan? Saat kebenaran itu datang, maka bagai embun yang terkena cahaya matahari, debu disiram air, musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkanku? Salah Rio?

“Ya ampun, dia barusaja pasang status baru, Sar.” Kali ini aku benar-benar tidak berniat membuat hiperbolik seruanku. Kali ini aku benar-benar deg-degan, berseru sedikit di luar kendali.

“Memangnya status apa?” Kepala Sari mendekat, berusaha melihat layar telepon genggam.

“‘Wanita yang bisa membuat kue adalah wanita yang cantik dan baik hatinya. Karena kue yang enak, selalu dihasilkan dari proses ketelatenan, kesabaran dan penuh perasaan. Itu kata Mama.’”

Bahkan Puteri yang sejak tadi berusaha menahan jengkel, karena digoda terus sepanjang jalan ikut terdiam, menelan ludah. Astaga? Itu status yang menarik sekali, bukan? Aku dan Rio baru saja saling komen soal makan malam barusan, dan bisnis kue-kue-ku yang baru dia tahu tadi siang dan sekarang lewat facebook, tiba-tiba Rio menulis status seperti itu. Wajahku memerah entah oleh perasaan apa. Rio?

***

Seminggu berlalu lagi.

Rasa-rasanya aku mulai kasihan dengan Puteri. Dia jadi lebih pendiam sekarang. Dia tidak sesebal atau hendak menangis waktu di angkot, tapi dia tetap menghindar bicara apapun soal facebook. Itulah kenapa aku dulu menasehatinya agar tidak GR. Rio itu memang ramah ke semua orang. Dia memang rajin me-like, komen di profile orang lain, tanpa maksud apapun. Lepas dari kejadian di kedai fast food, sebenarnya Rio tetap rajin me-like dan komen di profile Puteri, tidak berubah, hanya karena Puteri saja yang sekarang punya sudut pandang baru jadi tidak antusias lagi. Malah semakin jarang update sesuatu.

Nah, kalau kalau like dan komen Rio di profileku? Eh, aku berusaha untuk tidak GR, kok. Meskipun ya, aku senang. Siapa sih tidak senang diperhatikan Rio? Tapi aku tidak GR, itu sungguhan memang demikian. Bukan cuma sekali Rio update status soal masak, memuji-mujiku yang pintar masak, peduli sekali dengan hal-hal kecil di timeline facebookku, sampai setiap postingan jenis kue baru, dia ikut berkomentar detail, bergurau, melucu.

Termasuk malam ini, ketika Rio menulis di wallku, “Nana, kalau besok aku mau membicarakan hal penting, kamu punya waktu nggak?”

Aku gemetar menulis komen, “Iya, bisa, besok nggak ada jadwal kuliah. Memangnya mau ngomongin apaan?”

Ditunggu satu jam tetap belum direply Rio. Aku sudah galau se-semesta galaksi. Harap-harap cemas menunggu balasan Rio—jadi paham bagaimana dulu Puteri yang semalaman susah tidur hanya demi reply wall nggak jelas. Sedangkan wall dari Rio untukku ini jelas-jelas amat jelas, bagaimana aku nggak galau.

“Maaf baru reply, tadi main basket bareng teman. Ada deh, rahasia, biar surprise. Nanti Mama sama Papa juga ikut, kok.”

Ya ampun? Rio?

Aku semaput di dalam kamar.

Ini sungguhan? Serius? Meski memiliki prinsip tidak mau memiliki teman cowok dekat kecuali memang serius, aku belum siap bertemu orang tua Rio. Aduh, aku masih dua tahun lagi kuliah—meskipun Rio sudah tinggal ujian sidang skripsi. Aku berkali-kali bingung menulis reply komen Rio, dihapus lagi. Ditulis lagi, dihapus lagi. Bahkan aku nyaris menelepon orang tuaku di kota lain. Hendak berkonsultasi.

Rio serius?

***

“Selamat ya, Na.” Puteri berkata pelan.

Besok pagi-pagi, kami berdua berpapasan di depan kamar mandi. Puteri hendak mandi, aku sudah selesai.

“Selamat apanya, Put?”

“Facebook.” Puteri berkata lirih, menunduk.

Aku mengangguk, paham. Tentu saja Puteri melihat wall-ku, dia seminggu terakhir pasti terus memonitor wall-ku dan wall Rio. Hal yang dulu kulakukan saat Puteri merasa Rio naksir dengannya.

“Aku ikut senang, kok.” Puteri menatapku lamat-lamat, “Nana jauh lebih baik buat Rio dibanding aku.”

Aku tersenyum. Puteri adalah teman sejak SMA, aku dekat dengannya lebih dari enam tahun, jadi aku hafal tatapan matanya, dia sungguh-sungguh mengatakan itu. Aku memeluk Puteri, berbisik, terimakasih ya, Put. Kami berdamai. Puteri sudah bisa menerima kalau selama ini dia hanya GR doang.

Sudah pukul delapan, aku harus bergegas. Rio bilang dia menunggu di mulut gang jam delapan lewat tiga puluh. Kami akan langsung menuju rumahnya, menumpang taksi. Ini benar-benar gila sebenarnya, aku bahkan sejak semalam pusing memikirkan harus mengenakan pakaian apa. Cemas dengan percakapan yang akan terjadi. Rio akan memperkenalkanku dengan orang tuanya. Ya Tuhan, aku ngos-ngosan bahkan sekadar membayangkannya.

Rio sudah menunggu saat aku tiba di mulut gang, dia tersenyum, aku menelan ludah, melihat penampilannya, alangkah rapinya. Sejak kapan Rio memakai kemeja dan ikat pinggang? Kami naik taksi, yang langsung membelah jalanan.

“Aku grogi, Rio.” Aku berkata pelan.

Rio tertawa, “Santai saja, Na. Orang tuaku nggak akan menggigit. Mereka menyenangkan malah.”

Aku tersenyum simpul, tetap gugup, meremas jari.

“Aku nggak malu-maluin, kan?”

“Kamu cantik, Na. Apanya yang malu-maluin.”

Wajahku bersemu merah.

“Rileks saja ya, Na.” Rio menatapku, mengangguk.

Aku ikut mengangguk patah-patah.

***

Rumah orang tua Rio tidak jauh dari kampus, di sisi lain kota kami. Rio nge-kost hanya agar bisa fleksibel ke kampus. Rumah itu luas, halamannya luas, beberapa mobil box terparkir rapi, beberapa karyawan dengan celemek rapi, terlihat membawa nampan-nampan kue terbungkus plastik. Juga kotak-kotak kue. Aroma kue lezat mengambang di udara. Rio mengajakku melintasi halaman, menuju pintu depan.

Aku tiba-tiba merasa ada yang keliru sekali.

Hiks, apa yang pernah kubilang pada Puteri? Makanya, siapa suruh GR? Saat kebenaran itu datang, maka bagai embun yang terkena cahaya matahari, debu disiram air, musnah sudah semua harapan-harapan palsu itu. Menyisakan kesedihan. Salah siapa? Mau menyalahkan orang lain?

Hiks, ternyata kita senasib, Put.

Urusan GR ini memang kadang gila, Put. Kita benar-benar tidak bisa lagi berpikir waras dan rasional, tertutupi oleh ilusi dan mimpi. Menterjemahkan semua kejadian berdasarkan yang mau kita dengar atau lihat saja. Padahal nyatanya? Tidak sama sekali.

Aku sedikit gemetar bersalaman dengan Mama dan Papa Rio, mereka sudah menunggu di ruang tamu. Amat ramah dan menyenangkan. Meski mulai merasa ada yang keliru, tetap saja separuh hatiku mencoba bertahan berharap hal itu yang akan dibicarakan. Dan saat apa sebenarnya yang hendak dibicarakan oleh mereka tersampaikan, aku hanya tepekur menatap keramik di bawah kakiku. Menelan ludah, lantas menarik nafas panjang sekali.

Hiks, kita senabis, Put. Benar-benar bagai debu disiram air, musnah habis semua imajinasi versiku.

Orang tua Rio adalah pemilik jaringan kue terkenal di kota kami. Mama Rio jago sekali bikin kue, dan pembicaraan ini adalah tawaran padaku untuk ikut mengembangkan bisnisku lebih serius.

Aku menyeka pelipis yang tidak berkeringat. Menghela nafas panjang. Akulah yang berprasangka aneh-aneh, menduga aneh-aneh. Rio lurus saja selama ini. Dia memuji gadis yang pintar masak kue itu cantik dan baik hati, karena Ibunya memang bilang demikian. Dia tertarik sekali semua detail isi timeline facebookku, karena dia memang tahu persis, bukan karena dia cowok sok-tahu atau baru mencari tahu untuk menarik perhatianku.

Aku perlahan menyandarkan badan ke sofa.

“Nana mengingatkanku waktu masih muda dulu, loh.” Mama Rio menatapku, tersenyum, “Mandiri, pintar, dan tentu saja pintar bikin kue. Ssttt, Papa-nya Rio naksir aku gara-gara kue loh.” Papa Rio di sebelah tertawa. Rio ikut tertawa.

Aku hanya tersenyum tanggung.

Tidak kali ini, jauh-jauhlah sana GR.

***tamat

One thought on “HIKS, KUPIKIR ITU SUNGGUHAN!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s