Kanker Payudara : A Beautiful Way


Allah, segala puji bagiNya. Zat yang melimpahkan tetesan cinta tanpa jeda pada keluarga kecil kami. Ya, saya, mama dan papa. ^^

Dua tahun lebih bekerja dan kuliah Jogja, membuat saya jarang pulang. Jarang sekali. Paling tidak tiga atau empat kali dalam setahun. Ukuran mudik yang  tidak masuk akal, karena jarak Jogja Purwokerto jika ditempuh dengan jalur darat memakan waktu tak lebih dari 4 jam. Hehe…  Saya tidak ingin mengkambinghitamkan aktivitas kerja, dakwah, maupun kuliah saya sebagai penyebab jarangnya saya pulang. Tidak. Tidak berani. Malu ah sama Allah. Lawong kenyataannya mungkin saya yang kurang mampu mengatur diri dengan jadwal dan waktu yang ada. ^^

Sampai pada suatu sore di akhir Januari 2012 kemarin, mama meminta saya segera pulang. Ketika sampai di rumah barulah saya tau kalau Allah benar-benar mencintai saya dan keluarga mungil saya (abang dan istrinya udah dianggap keluarga kecil yang lain,soalnya dah gak tinggal serumah dengan kami). Ya, mama terkena penyakit yang menjadi ketakutan terbesar tiap wanita.

Saya menemani mama melakukan medical check up, test laborat, cek ini, test itu. Hingga akhirnya mama diharuskan opname dan menjalani operasi. Subhanallah. Saya meninggalkan dulu semua rutinitas saya. Kuliah, agenda dakwah, bisnis, kerja. Saya menjaga mama full. Karena berdasar tsaqofah yang saya dapatkan, pengabdian seorang wanita yang utama sebelum ia memiliki suami adalah berbakti kepada orangtuanya. Bismillah.

Saya atur makanan yang masuk ke mulutnya. Harus bebas dari vetsin, kecap, dan makanan berpenyedap lainnya. Saya masak sendiri semua makanan yang mama konsumsi, saya perhitungkan gizinya. Saya ganti minyak kelapa sawit dengan extra virgin olive oil untuk menumis dan memasak. Saya tak pernah alpa menyuapinya dengan anggur, sirsak dan buah lain dengan kandungan antioksidan tinggi. Saya jadwal waktu tidurnya. Saya berusaha sebaik mungkin merawat mama. Meski apa yang saya lakukan tidak akan pernah sebanding dengan apa yang pernah mama lakukan untuk saya dan abang dulu.

Di tengah semua aktivitas itu tanpa disangka kesehatan papa juga drop. MasyaAllah. Laa yukalifullaahu nafsan illa wus’aha. Saya bisa. Saya bisa menjaga mereka berdua. Alhamdulillah, Allah memberi saya kekuatan untuk menjaga keduanya dengan baik.

Saat ini mama tengah bersantai menulis artikel di laptopnya, meski sesekali masih meringis memegangi dadanya. Papa juga tengah melayani pembeli di luar rumah. Saya tersenyum. Lega melihat senyum tersembul dari bibir orang-orang terkasih. Saya cuma berfikir, mungkin inilah cara Allah untuk membuat saya dekat dan benar-benar mencurahkan perhatian pada mama dan papa.

Whatever happened and would happen in my life next, I just will say “I can pass this, Insya Allah.!”

Alhamdulillah, Allah made me stick around with my lil fam on a beautiful way, on a right moment, on a sweet time. Beautiful Way to make me home. ^^

Tapi gak akan deh nunggu dikasih penyakit dulu, baru birrul walydayn. NO! ^^
Tambahan untuk siapapun deh, jangan suka mengkonsumsi makanan bervetsin dan berpenyedap, junkfood, fastfood, jauhi rokok. Perbanyaklah konsumsi sayur dan buah-buahan, selalu pake masker kalo bepergian di jalanan berdebu, jangan pernah gunakan penyedap dan vetsin jika memasak untuk keluarga, dan POSITIVE THINKING sama Allah. ^^

Wanita Purwokerto, Indonesia, dan daulah khilafah bebas kanker dan tumor payudara. Aamiin. ^^

[Semburat JINGGA]

2 thoughts on “Kanker Payudara : A Beautiful Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s