Pragmatisme Indonesia : Negeri Korupsi Paradoksal


Kau tau kan tentang tanahku?
Tanah hijau biduan khatulistiwa
Di mana sawah terhampar, laut terpapar
Kau tau kan tentang tanahku?
Tanah timbunan emas yang molek bersinar
Tanah cekungan minyak kaya terumbar

Kau tahu kan tentang tanahku?
Tanah yang menjejal otakku, otakmu dengan suguhan keadilan
Tanah yang mendikte bibirku, bibirmu dengan orasi kesejahteraan
Tanah yang melilipi mataku, matamu dengan tontonan non-kekerasan
Tanah yang membuat kita semua bangga
Bangga paradoksal penuh tanda tanya!

Dua tahun lalu seorang bocah di tumpukan sampah berdiri riang
Pesta demokrasi usai, pemimpin baru ia dapatkan
Senyumnya terkembang, menanti sehari, seminggu, sebulan, berharap derita akan karam
Tapi…
Perutnya tetap keroncongan, sekolahnya tetap mahal
Larangan sakit tetap berjalan, pakaiannya tetap kumal
Paradoksal!

Tahun lalu Sri Mulyani dan aparat kepolisian sukses mengajarkan mata kuliah KEADILAN
Keadilan yang murni menjadi milik mafia-mafia berdasi, elegan, dengan gelar akademik panjang
Keadilan yang selalu berada di pihak yang bertelekan uang
Keadilan yang dikata menjadi hak asasi individu di depan hukum dan pemerintahan
Paradoksal!

Lalu anggota dewan begitu tawadhu’ beretorika tentang kesederhanaan
Kesederhanaan yang mereka manifestasi pada kebijakan naiknya TDL dan pelepasan subsidi BBM
Dan mereka berlenggang belajar moral ke Yunani, demi misi dinas yang suci
Melupa pada Juminten, Joko, Jaja, Juki, Jarot yang esok masih belingsatan mencari pembasah kerongkongan
Paradoksal!

Tahun ini Nazarudin menjadi jamur pelengkap korupsi yang bertotolan tak henti
Gayus Tambunan piknik ke Bali , rekening gendut PNS muda bertaburan tanpa spasi
Abu Bakar tua renta tak bersalah tetap ditelikung
Nunun Nurbaeti Sang Sosialita mudah lupa tetap disanjung
Reshuffle kabinet jadi solusi basi
Berharap semua mata akan buta pada realita, dan tiap otak akan jadi amnesia pada fakta

Kau tahu apa yang membuatku makin getir, bernanah, dan kian hancur?
Intelektual-intelektual muda dengan semangat membakar, dengan keilmuan semampai, dengan retorika yang kental memilih menghiasi pojok diskusi dengan tambal sulam demokrasi, revitalisasi neolib, reideologi kapitalisme, wacana pertentangan kelas
Mereka bercumbu dengan sabda Keynes, Hegel, David Hume, Rosseau, Hobbes, Marx.
Mereka memilih berasyik masyuk dengan bualan  kosong Nietzche, Descartez, Socrates
Mereka terkesima pada Obama, Freud, mafia Berkeley dan para pembesarnya.

Timur dan Barat terlipat dalam durjana karena mereka melepas akal tanpa limitasi
Solusi selalu lahir tanpa bimbingan ayat suci
Lalu di sanakah kau berkiblat wahai pemuda? Di lembah hitam dialektika Marx dan kubangan lumpur demokrasi? Di titian gila Zarathusthra dan ilusi trias politika?
Apa pikirmu Allah mendatangkan masalah dan lupa memberi solusinya?
Apa pikirmu Al-Quran terkhusus untuk pribadi tanpa uraian kehidupan sosial dan politiknya?

Maka di sini aku ulur tangan untuk meraih telapakmu
Melahirkan islam sebagai solusi
Menciptakan sosok sekokoh Muhammad SAW, seperkasa Al Fatih, secerdas Al Ghazali, secemerlang Ibn Rusyd, setangguh Al Ayyubi.
Karena Islam akan menuntun pemuda menganyam semesta:
Dengan KEADILAN yang NOL BUALAN!!
Dengan KEAMANAN YANG BUKAN BASA BASI!!
Dengan KESEJAHTERAAN YANG BUKAN KHAYALAN!
Dengan tatanan sosial yang BUKAN PARADOKSAL!!

Sekarang,
Di sini,
Dengan ISLAM
Atau membusuk dalam pragmatisme sekuler!
ALLAHUAKBAR!

[Semburat  JINGGA]

One thought on “Pragmatisme Indonesia : Negeri Korupsi Paradoksal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s