FANA


Fana. Kesadaran akan hakikat dari kata itu membuatku meringis.

Yah, fana. Kata itu yang melecut rasioku untuk semakin terjaga, semakin siaga. Apa yang hendak ditimang dan dicinta setebal nyawa jika semua yang bertebaran fana adanya.

Cincin perakmu, yang begitu kau sayang dan elu, cinderamata pemberian ibu, ITU FANA. Ada masa di mana warna buramnya tak akan mampu hilang meski telah disepuh sekian rendaman.

Jilbab caramel kesukaanmu, yang begitu kau jaga pemakaiannya hingga berlipat percaya diri mampu kau dapat saat mengenakannya, ITU FANA. Akan ada masa di mana oli bensin dan keriap mentari memudarkan warna dan membusukkan kainnya.

Sahabat setiamu, yang begitu pandai mengisi kekosonganmu, kealpaanmu, tak bosan merengkuh kala kau berulang kali jatuh, DIA PUN FANA. Ada masa di mana dia akan tenggelam dalam segenap kewajiban ‘ainnya dan meninggalkan dunia dalam tenggat tak sementara.

Buku berhargamu, yang dengan menggelutinya kau merasa berada di pucuk semesta, memberimu banyak hal, menggiringmu pada dunia dan rendaman pengetahuan yang bahkan tak pernah kau pikirkan, ITU FANA. Pasti ada masa di mana ia akan kusam, lapuk dan tak bersisa.

Orang tua yang sedemikian besar kau mengasihi mereka, yang makna dirimu nyaris nol adanya tanpa mereka, ITU PUN FANA. Akan ada masa di mana mereka akan melupakan dirimu dalam rentang masa pikunnya dan mereka meninggalkanmu menuju kampung setelah dunia.

Lalu cintamu? Apa yang kau pikirkan tentang cintamu?
Kecintaanmu pada uang, pada pangkat, pada kekuasan, pada kesenangan.

Kecintaanmu pada dakwah, pada amanah, pada ilmu, pada ibadah.

Kecintaanmu pada lelaki yang mengajarkanmu islam, pada wanita yang kau rindu untuk menjadi pendampingmu tiap malam, pada anak-anak yang kau impi akan engkau lahirkan, pada sosok-sosok yang telah membuatmu merasa menjadi manusia seutuhnya karena perasaan itu.

Apa yang kau pikirkan tentang rasa cinta? Sayangnya harus kujawab bahwa itu pun fana.

Kita sama tahu bahwa cuma Allah yang tak mengenal kata FANA, hanya padaNya kita menyemat sebuah kata ABADI. Cuma padaNya, tidak pada yang lain. Tidak pada cincinmu, jilbabmu, kawanmu, orangtuamu, atau bahkan rasa cintamu.

Maka kini, jika ada rasa sakit, rasa kecewa, rasa patah arang, rasa dipermainkan, rasa kesal, patah hati, merasa ditinggalkan, maka ingatlah PERASAAN MACAM ITU TIDAK BERLANGSUNG SELAMANYA. It will not last forever, it won’t!! Karena perasaan itupun fana, punya limitasi.

Ingatlah ini wahai jiwa. Ingatlah, bahwa tak perlu berlama-lama dengan perasaan yang juga fana. Yang wajib kau lakukan cuma memanfaatkan semua yang fana tadi untuk meraih hal terbaik di masa yang tidak fana kelak.

[Semburat JINGGA]

*Sebuah lecutan sekaligus muhasabah diri karena perasaan yang tak perlu dipanjangkan usianya.. ^^
BAHSYA! FIGHTING!! \^o^/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s