Komentar Kritis untuk DUNIA SOPHIE Karya Jostein Gaarder


Dunia Sophie samasekali berbeda dengan kebanyakan novel fiksi percintaan yang bertutur dengan bahasa puitis dengan bumbu cinta yang terlalu kental, atau novel misteri yang sarat dengan imajinasi (dan halusinasi!) berlebihan. Ia adalah sebuah ensiklopedia filsafat yang dengan cerdas menampilkan metamorfosa filosof zaman Yunani kuno, Helenisme, Abad pertengahan hingga Renaissans lengkap dengan alur berfikir dan gagasan yang berhasil dirumuskan oleh para filosof tersebut. Teori atom Democritus hingga teori politik John Locke –sebagai dasar sistem demokrasi- tersaji dengan gamblang dan dengan mudah dapat dipahami. Sungguh anda bisa menjadikan novel ini sebagai rujukan untuk aneka disiplin ilmu, karena gagasan filosof yang terekam di sini merupakan dasar bagi beragam bidang ilmu mulai politik, sistem etika dan moral, kearifan lokal hingga fisika dan antropologi.

Namun sebagai pembaca yang kritis saya tak hendak menyanjung Dunia Sophie dengan derai bahasa kasmaran anak SMA, karena bagaimanapun sebagai seorang muslim saya menemukan sebuah kontradiksi alur berfikir para filosof dengan Kalamullah dan sabda Rasulullah. Gagasan Aristoteles (384-322 SM) misalnya, ia mengatakan bahwa alam sudah ada dengan sendirinya dan kecil kemungkinan ia muncul dari ketiadaan. Atau David Hume (1711-1776) yang mengatakan bahwa membuktikan iman keagamaan dengan akal manusia merupakan sebuah omong kosong rasionalistik. Jelas dua contoh gagasan di atas –dan para filosof lainnya dalam Dunia Sophie- adalah bertentangan mutlak dengan aqidah seorang muslim.

Satu hal yang harus digenggam oleh seorang muslim ketika mempelajari Filsafat bahwa ia harus mampu menundukkan akalnya dengan tuntunan wahyu. Karena ketika para filosof Yunani dan Eropa yang rata-rata atheis dan agnostik tersebut mulai meragukan segala hal di alam dan merumuskan filsafat, mereka telah membebaskan akal mereka melanglang tanpa limitasi dan mutlak menjadikan akal sebagai sumber segala kebenaran dan pengetahuan.

Tentu tidak demikian dengan bagaimana Islam memandang manusia dan akal yang telah dikaruniakan padanya. Akal adalah hanya sekedar alat untuk memikirkan penciptaan Tuhan yang terjangkau olehnya yakni manusia, kehidupan dan alam semesta. Namun setelah akal mampu menemukan bahwa pasti ada Zat yang Maha Kuasa yang telah menciptakan tiga hal tadi (karena tidak mungkin sebuah benda ada dengan sendirinya), maka keimanan pada Tuhan tadi akan melahirkan segenap konsekuensi. Apa konsekuensinya? Mematuhi pada apa yang telah diperintahkan olehNya. Karena dalam islam, otoritas tertinggi tidak terletak pada akal manusia namun pada Allah SWT yang termanifestasi dalam Al-Qur’an dan sunnah kekasih-Nya.

[Semburat JINGGA]

Nb: kemarin (23 Oktober 2011) Penerbit MIZAN mengadakan sayembara kecil penulisan komentar untuk DUNIA SOPHIE. Iseng-iseng saya ikut aja. Kebetulan sudah baca novelnya. Ternyata ga dapet tuh novel, hehe…saya pajang ajah di sini..😀

3 thoughts on “Komentar Kritis untuk DUNIA SOPHIE Karya Jostein Gaarder

  1. maaf sebelumnya, kebetulan saya mahasiswa Filsafat UGM dan Muslim, mungkin anda harus mengenal dengan apa yang dinamakan ILMU dan KEPERCAYAAN, Filsafat adalah ILMU bukan KEPERCAYAAN, jadi menurut saya sah” saja mempelajari pemikiran BARAT atau sejenisnya, saya kira para Filsuf islam seperti al kindi, al farabi dsb, mengadopsi malah menerjemahkan karya” Barat namun mereka tetap mempercayai wahyu, dan bisa di katakan sebagai kemajuan umat islam itu sendiri seperti yang terjadi pada Filsuf islam di andalusia.

  2. Baru beli novel dunia sophie nih. Tapi liat sekilas isinya kebanyakkan tentang kristen. Boleh dibaca ga sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s