[SP] Reshuffle Kabinet: Kesungguhan Pengabdian atau Taktik Cari Muka?


Ada yang menarik ketika saya secara random menanyakan pendapat beberapa tetangga saya terkait tingkat kepercayaan mereka pada pemerintah. Dari beberapa orang ibu dan remaja yang saya cungkil isi hatinya menyatakan bahwa mereka tidak lagi mempercayai kredibilitas dan kinerja orang-orang yang mendakwa diri sebagai ‘abdi masyarakat’ di kursi pemerintahan sana, dan tentu ini sangat selaras dengan ekspektasi saya.

Banyak kasus dan isu di ranah ekonomi, politik maupun sosial yang begitu sukses membuat hati rakyat patah dan tak mau lagi ambil pusing dengan pemerintah, di antaranya skandal Century yang kini tak jelas nasabnya, heboh Nazaruddin yang disinyalir sebagai kunci diary skandal politik partai besar negeri ini, agenda ‘wisata’ DPR yang dipoles sebagai studi banding, kerusuhan Ambon yang tidak sigap ditangani aparat, beberapa kasus di kemekertrans, kebijakan impor garam dan sayur yang mematikan usaha rakyat kecil, hingga yang terpanas adalah saling tuding KPK vs Banggar+DPR.

Saat wajah Indonesia sedang masam-masamnya dan kepercayaan rakyat pada pemerintah merosot tajam lalu merebak gagasan reshuffle KIB II, secara otomatis saya berfikir bahwa inilah model politik cari muka dan usaha pemerintah untuk mencolek kembali kepercayaan rakyat. Bagaimana tidak? Jika memang pemerintah bersungguh-sungguh menunaikan janji manis di awal masa jabatan, mengapa baru dua tahun periode jabatan berjalan sudah begitu banyak fakta ketidakberpihakan mereka pada rakyat?

Indonesia telah mengadopsi demokrasi sebagai asas pemerintahan, di mana seharusnya suara rakyat merupakan prioritas dan pegangan yang harus senantiasa diperjuangkan oleh pembuat dan pelaksana kebijakan. Namun nyatanya masih jauh panggang dari api, karena baik pihak eksekutif maupun legislatif terus berputar pada kasus yang ditimbulkan oleh mereka sendiri. Jadi orientasi pengabdian pada masyarakat ini seolah tidak beranjak dari starting point idea, belum terealisasi. Wajar kalau kalangan kritis di tengah masyarakat melirik pesimis pada gagasan reshuffle kabinet.

Jadi, pergantian individu dalam kabinet merupakan kesungguhan pengabdian atau sekedar politik cari muka? Karena rasanya rakyat sudah jengah dan bosan. Mereka rindu dipimpin oleh orang-orang yang amanah, yakni orang-orang yang meniatkan seluruh pemikiran dan aktivitasnya semata untuk kesejahteraan rakyat.

[Semburat JINGGA]

#Surat Pembaca ini termuat di kolom SP Media Indonesia Rabu, 4 Oktober 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s