DAKWAH: Aksi Menundukkan Kekufuran


Dunia sekedar senda gurau, begitulah bunyi sebaris ayat cinta dari Allah. Sebuah kata sederhana namun begitu dalam dan mampu membantah semua jungkir balik teori yang menjadikan dunia sebagai kiblat segala tujuan. Seorang muslim ketika di dunia ibarat musafir yang sedang berteduh di bawah naungan pohon demi menghilangkan lelah dan menarik nafas, untuk kemudian akan –dan harus- melanjutkan kembali perjalanan panjang tanpa limitasi. Begitu sekejap waktu di saat bernaung membuat musafir tidak punya banyak waktu untuk melakukan perbuatan yang sia-sia. Dia harus mengumpulkan bekal, menyiapkan energi, dan bertaktik cerdas karena jalanan yang terhampar di depannya tak menyisakan cakrawala. Untuk itulah muslim tak bisa menjadikan dunia sebagai tempat tumpahan nafsu dan menanggalkan sederet rambu-rambu yang akan menyelamatkan dirinya pada fase usai kehidupan dunia.

Namun anak pinak ideologi kapitalisme dan sosialisme telah membelenggu muslim dan membuat mereka seringkali amnesia dengan apa yang harus mereka lakukan dalam hidup ini. Ide sesat menyesatkan seperti ‘Expansion of Freedom’, Hak Asasi Manusia, liberalisme dan cucu-cucunya menggiring muslim pada sebuah area –yang diklaim sebagai- area bebas Tuhan. Begitu miris ketika dengan mudah para muslimah lebih berbangga menampilkan rambut legam dan paha mulus mereka di depan khalayak dan menampik kewajiban berhijab dengan sebuah ide rapuh yang membelenggu rasio mereka bahwa ‘ini tubuh saya, maka saya bebas memperlakukannya’ atau ‘berkerudung dan berjilbab tidak pas lagi di masa sekarang’. Sakit hati pula ketika begitu khusyuk wakil rakyat bersimpuh kala sepertiga malam tiba namun keesokan harinya saat berangkat kerja ia ikut menge’gol’kan kebolehan penjualan alkohol asal pajaknya sangat tinggi, seolah hukum Allah atas khamr bisa melunak dengan tumpukan rupiah. Sedih saat melihat para lelaki yang mudah putus asa dan menyerah atas kewajibannya memberi nafkah lalu menjadi beringas dan gemar membuang waktu, padahal Rasulullah begitu memuji tangan kasar seorang pandai besi dengan berkata ‘Inilah tangan ahli Syurga’.

Sederet tingkah rusak manusia telah turut mewarnai usia dunia yang kian renta, semakin banyak seiring dengan begitu mudahnya mereka menanggalkan islam sebagai lentera hidup, yang dengan itu luntur pula semangat mereka untuk berpegang pada tali yang haq. Lalu apa yang bisa saya dan Anda lakukan sekarang? Saya dan Anda tentulah manusia yang memiliki iman dan akal, memiliki kesadaran atas rusaknya keadaan, memiliki sebuah kesepakatan bahwa tidak boleh tidak, harus ada sebuah perbaikan.

Saya rasa tidak berlebihan jika saya katakan bahwa yang bisa kita lakukan sekarang adalah ‘merubah’. Merubah sebuah keadaan yang carut marut menuju keadaan yang lebih serasi, dan mulia. Apa yang Rasulullah lakukan saat di depan matanya dihamparkan kerusakan dan kebejatan sementara dirinya telah mendapat wahyu Allah? Yap! Rasul SAW menyampaikan. Menyampaikan perubahan. Menyampaikan celaan pada para penyembah kekufuran. Menyampaikan tauhid pada yang cacat aqidahnya. Menyampaikan segenap perkataan yang di dalamnya ada kalamullah dan as-sunnah sebagai pembimbing kita menuju jalan keselamatan.

Kejahiliyahan yang kita jumpai kini merupakan siklus kejahiliyahan serupa di zaman Rasul dengan kemasan ‘modern’. Sama-sama berasal dari rahim kekufuran, hanya saja lebih variatif dan inovatif macamnya. Maka para pasukan perubah yang ada kini tentu saja harus lebih keras dari kerasnya Umar Bin Al-Khattab menentang kekufuran. Harus lebih militan dibanding militansi seorang Mush’ab bin Umair dalam mengetuk tiap pintu penduduk Madinah hingga tiap rumah diterangi lentera Islam. Dan tentu saja harus mampu memanggul kepayahan, cobaan, dan siksaan lebih dari apa yang pernah Rasul sabdakan “Demi Allah wahai pamanku, andai pun mereka bisa meletakkan MATAHARI di tangan kiriku dan BULAN di tangan kananku, agar aku meninggalkan dien ini (dalam perkara dakwah), niscaya aku takkan meninggalkannya hingga Allah memenangkan agama ini atau aku binasa karenanya”.

Beliau SAW yang saat itu dihampiri oleh pamannya, Abu Thalib,  diberi empat tawaran yakni: Menjadi Raja, menjadi orang terkaya, memiliki isteri paling cantik, atau sembuh dari penyakit jiwa yang dideritanya demi membujuknya agar melepaskan dakwah, sama sekali bergeming. Beliau SAW bahkan rela menukar kuasa menundukkan  matahari dan bulan karena lebih memilih menyusuri jalan dakwah. Dan KITA, apakah terlena bila kekayaan membelai kita? Bila istri cantik atau suami tampan menghampiri kita? Bila kekuasaan bathil disodorkan di depan hidung kita? Dan pula, maukah kita meninggalkan dakwah dan melalaikan urusan ‘perbaikan’ ini bila matahari dan bulan dipersembahkan di tangan kita?

 

[Semburat JINGGA]

2 thoughts on “DAKWAH: Aksi Menundukkan Kekufuran

  1. kuncinya, istiqomahlah. immunitas diri menjadi suatu kebutuhan mutlak. Tanpanya, seretan gelombang arus materi yang jauh dari nilai ilahiyah akan meruntuhkan segala fitrah insaniyah manusia. Immunitas ini tidak ditumbuhkan dengan sendrinya. Namun merupakan hasil dari proses perjalanan ruhani. Karena immunitas merupakan buah dari iman dan kesabaran. Dan keduanya harus dibangun sedini mungkin. Berangkat dari sini maka kebutuhan akan pembinaan mutlak dilakukan. dan doa, tentunya.karena hanya kepada Allah lah kita minta ke-istiqomahan itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s