Antara Isu G30/S/PKI dan Isu Terrorisme di Indonesia


*Oleh Hasbi Aswar

Tahun 1965-1966 menjadi masa kelam ideologi komunis di Indonesia . Yang sebelumnya, partai ini menjadi partai paling berpengaruh di tubuh pemerintahan Soekarno dan beranggotakan lebih dari dua juta orang. Dengan tuduhan percobaan kudeta rezim Soekarno dengan penculikan petinggi-petinggi militer, akhirnya partai ini pun dibekukan dan dijadikan sebagai partai terlarang begitupun juga anggota-anggotanya dibantai dan dibasmi.

Diperkirakan lebih dari setengah juta orang dibantai dan lebih dari satu juta orang dipenjara dalam peristiwa tersebut. pemimpin-pemimpin militer yang diduga sebagai simpatisan PKI dicabut jabatannya. MPR dan kabinet dibersihkan dari pendukung-pendukung Soekarno. Barat pun kemudian ramai-ramai memuji keberhasilan penghapusan komunisme di Indonesia.

Majalah ‘TIME’ menggambarkannya sebagai ‘Berita Barat Terbaik di Asia’. Kolomnis New York Times, James Reston, menyebutnya sebagai ‘Secercah cahaya di Asia’. Perdana Menteri Australia Harold Holt, yang sedang mengunjungi Amerika Serikat, berkomentar di New York Times, “Dengan 500.000 sampai satu juta simpatisan komunis disingkirkan. Saya kira sudah aman untuk menganggap bahwa reorientasi telah terjadi.” Peristiwa pembasmian komunisme ini kemudian digambarkan sebagai kemenangan atas komunisme pada Era perang dingin.

Konteks Perang Dingin

Dinamika politik baik domestik ataupun international, antara tahun 1950-an hingga akhir 80-an tidak bisa dilepaskan dari konteks perang dingin antara dua kutub ideologi, komunisme yang dipegang oleh Uni Soviet dan kapitalisme oleh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya. Kedua blok ini saling berlomba baik secara politik, militer dan ekonomi untuk menguasai seluruh negara-negara yang ada didunia. Sehingga kita bisa saksikan berbagai konflik dan kudeta terjadi dibanyak negara tak lepas dari support dari kedua blok tersebut.

Indonesia termasuk dalam ruang kontestasi persaingan antara Amerika dan Soviet. Soekarno sebagi presiden Indonesia saat itu adalah orang yg sangat vokal terhadap penolakannya terhadap anti-imperialisme barat, menarik diri dari PBB dan menjalin hubungan baik dengan blok komunis, china, Vietnam, utara dan Sovyet. Soekarno juga berani mensejajarkan antara nasionalisme, agama dan komunisme (NASAKOM) yang didukung oleh Partai Komunis Indonesia.

Tentunya, Ini sangat tidak disenangi oleh barat karena bisa menghalangi kepentingan Amerika di Asia Tenggara dan menjadi jalan bagi blok komunis untuk menguasai Asia Tenggara. Karena itu berbagai macam hal yang dilakukan oleh Amerika Serikat untuk bisa mengurangi kekuasaan komunis di Indonesia termasuk, stigmatisasi komunisme di Indonesia dan di dunia internasional, juga memberikan support terhadap kelompok-kelompok anti komunis di Indonesia.

Jatuhnya Soekarno dan dibekukannya PKI menjadi jalan kemenangan oleh kapitalisme global Amerika Serikat. Soeharto pun naik, dan menjadi rezim pro barat. Sejak tahun 1966 hingga jatuhnya Soeharto 1988. Soeharto yang didukung barat, bebas melaksanakan kebijakan-kebijakan liberalnya tanpa hambatan dari rakyat Indonesia karena sebelumnya telah membentuk sebuah sistem rezim yang diktator yang memiliki angkatan militer yang bisa menculik siapa saja yang menentang atau mencoba kritis karenanya. Komunisme sebagai rival ideologis saat itu hilang dan tiap tahun. Opini-opini mengenai keterlibatannya dalam G/30/S terus ulang untuk menanamkan keyakinan terhadap masyarakat akan kejahatan komunisme. Sebuah langkah politik yang cerdas yang dilakukan oleh rezim orde baru.

9/11 dan War On Terrorism

Komunisme sudah runtuh. Tidak ada lagi pesaing Secara ideologis bagi Amerika Serikat. Pada 9 September 2001, Amerika kembali membuka babak perang dunia baru, ‘global war on terrorism’. Sejak saat itu Amerika menghabiskan dana jutaan dollar untuk membiayai perangnya melawan para terroris yang sudah masuk dalam catatan Amerika Serikat. Semua negara cuma diberikan dua pilihan, ikut Amerika atau Terroris.

Dan sejak saat itu pula perdebatan mengenai Islam pun marak diperbincangkan di negara-negara barat dan berujung pada stigmatisasi terhadap islam dan kaum muslimin. Sejak tahun 2001-hingga sekarang, tak terhitung lagi berapa banyak pelecehan-pelecehan terhadap Islam telah dibuat oleh orang-orang barat. Pelarangan jilbab, diskriminasi orang islam di barat, pembuatan kartun-kartun nabi Muhammad, dan pembakaran al-quran.

Meski kelompok negara-negara barat tidak secara langsung menyerang Islam dalam proyek kontraterrorisme mereka tapi, sangat jelas dalam opini-opini yang barat buat mengenai para terroris bahwa mereka membawa satu misi ideologis yang menakutkan yakni penerapan shariah islam secara komprehensif dalam negara khilafah dan penolakan atas peradaban liberal barat.

Indonesia sudah pasti harus ikut dalam lingkaran yang dibuat oleh Amerika Serikat mengenai proyek kontraterorrismenya. Berbagai kasus pengeboman yang terjadi di Indonesia ujung-ujungnya pasti disimpulkan oleh pemerintah bahwa, mereka itu adalah orang-orang Islam yang fanatik (istiqomah), pejuang tegaknya syariah dan khilafah, orang yang tidak rela berhukum thoghut dan anti barat. dengan kategorisasi seperti itu yang dibuat dalam setiap pengopiniannya bisa jadi umat islam takut dan ngeri dengan penegakan syariat. Karena setiap menyebut syariat pasti pikiran mereka akan terhubung dengan kata terrorisme.

Terlintas pertanyaan, kenapa Islam menjadi momok yang menakutkan bagi barat? Jawaban pertanyaan itu telah dijawab sendiri oleh para llmuwan dan berbagai lembaga think tank mereka sendiri. Diantaranya, NIC, Dewan Intelijen Nasional, Amerika Serikat, telah memprediksikan dalam laporannya tahun 2004 “Mapping The Global Future”, bahwa, salah satu fenomena yang terjadi pada tahun 2020 adalah munculnya kekhalifahan yang akan muncul di Timur Tengah.

Samuel P. Huntington, pakar politik dari Amerika Serikat, dalam bukunya clash of civilitation (1996), juga telah mempertegas bahwa bukan Islam politik atau radikal yang menjadi musuh/antitesa dari peradaban barat. Tapi, islam itu sendirilah yang bertentangan dengan peradaban barat. Artinya, Penerapan syariah Islam dalam bingkai negara khilafahlah yang menjadi ketakutan dari barat.

Dengan tegaknya khilafah, barat akan secara otomatis akan menjadi peradaban yang ditinggalkan dan mundur pada akhirnya. Negara-negara muslim yang ada saat ini adalah Negara-negara yang telah ditakdirkan menjadi tempat bergantung barat secara geopolitik: sumber daya alam, jalur-jalur strategis perdagangan dunia, dan pasar.

Dengan munculnya khilafah, barat sudah pasti akan kesulitan mencari lahan-lahan penghidupan untuk tetap mempertahankan hidup peradabannya. Itulah kenapa Islam saat ini didesain untuk menjadi musuh bersama masyarakat dunia.

Ternyata, perang dingin masih berlanjut. Tesis Fukuyama yang menjadikan kapitalisme sebagai ‘The End of History’ tidak terlalu lama untuk bertahan. Karena Amerika Serikat sendiri yang mengumumkan pada dunia bahwa Syariah Islam adalah ancaman bagi kapitalisme dan demokrasi. Makanya kita sebagai kaum muslimin sudah harus bisa memilih dan menampilkan bahwa ideologi yang paling shahih adalah Islam dan Ideologi yang rusak adalah kapitalisme dan wajib untuk diganti. Wallahu a`lam

Tulisan aslinya bisa dilihat di sini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s