Ternyata..


Pengin share sedikit. Awal bulan september lalu pas mudik ke Purwokerto, saya lupa bawa pin dan jarum pentul. Bagi muslimah seperti saya yang masih demen pake kerudung segitiga, tentu dua stuff tadi penting. Banget. Apalagi mama adalah tipikal orang yang praktis dan sangat efisien, so beliau tidak mungkin punya jarum pentul, peniti, apalagi pin. Secara gitu kerudung mama adalah kerudung siap pake semua, ga ada yang lipat segitiga.

So, mau gak mau saya menggeledah almari saya. Almari ini merupakan tempat penimbunan baju jaman jahiliyah, pernak-pernik, dan semua hal penting yang saya punya sejak kecil sampai menjelang kuliah. Meski jarang pulang, tapi mama tetep rajin membersihkan almari ini. Ternyata, dalam usaha mencari pin dan jarum pentul itu, pandangan saya tertuju pada sebuah kotak besar. Saya ga tau apa yang mama taruh di situ. Jadilah saya duduk dan bongkar-bongkar.😀

Hmm, tau apa yang saya temukan? Waaah, harta karun! Well, bukan batu mulia, emas, atau uang. Tapi sungguh, buat saya itu harta karun, almost-forget treasure exactly.🙂 Ada beberapa buku diary, kertas file yang diikat rapi, dan kumpulan surat, juga beberapa perangko antik. Waah!

Saya buka satu-satu diary itu. Ternyata itu semacam tempat curhat saya waktu kecil. Pengalaman-pengalaman yang bahkan saya sudah lupa, tertulis lengkap di diary-diary itu. Tercoret polos dengan tulisan masa kecil saya, besar, miring, tidak beraturan, penuh dengan gambar. Saya ga nyangka bahwa hampir setiap hari saya nulis. Ada hari-hari di mana saya terlihat begitu panjang menuliskan pengalaman, tapi ada juga hari yang cuma terwakili oleh satu baris tulisan, bahkan ada yang cuma 3 kata. Hehe…saya cuma menuliskan tanggal, bulan, dan tahunnya.😀

Saya mulai menulis di tahun 1998, umur 10 tahun. Saya baca lagi childhood memories yang terabadikan di sana, seru! haha… (besok2 akan saya sertakan coretan masa kecil saya di sini). Setelah puas menggeledah diary zaman SD sampai SMA, saya mulai memperhatikan kumpulan surat yang juga ada dalam kotak itu.Ya ampun. Saya lupa bahwa ternyata saya suka oret-oret waktu itu. Sahabat pena saya banyak. haha… Baru kemarin-kemarin saya berhasil mengingat bahwa saking sukanya bersahabat dan ‘oret-oret’, saya selalu mengirimi tiap alamat sahabat pena yang tercantum di majalah B*bo (waktu kecil saya langganan majalah ini lho, hehe).

Mama sempat kewalahan karna harus menyiapkan banyak kertas surat dan amplop demi menuruti hobi saya itu. Nah, dari surat-surat tadi, ada yang istimewa, karena merupakan balasan dari beberapa artis kecil zaman itu. Ada dari Eno Lerian, Zico, Aryani Fitryana, dan Maisy. Wah, norak dah kalo ingat betapa saya menyukai mereka saat saya kecil. Ada juga beberapa surat dari sahabat2 saya di Kraksaan Probolinggo. Sejak pindah ke Purwokerto di kelas 3 SMP, cuma dengan cara surat-menyurat itu saya tetap bisa menjalin kontak dengan beberapa karib dekat saya semasa tinggal di sana

Puas membaca harta karun itu saya mendatangi mama. Wah ternyata mama nih biang dari semuanya. Mama yang mewajibkan saya untuk menulis setiap hari. Meski cuma sebaris yang penting saya harus nulis. Kata mama tidak semua peristiwa bisa disimpan sempurna di otak, so kita butuh sesuatu yang bisa jadi pengingat kita di masa tua kelak. Itu sebabnya mama rajin menjaga barang-barang saya. Hmmm..

“Tulisan kamu itu beda dengan anak seumuranmu Nin, mama pikir dulu mungkin ada bakat nulis yah. Apalagi zaman SD-SMP nilai bahasa dan sosialmu itu paling tinggi”, saya manggut-manggut.

“Kamu dulu juga suka banget baca. Waktu liburan sekolah, abangmu tuh main kemana-mana, lah kamu bertapa di kamar sama tumpukan buku. Tiap satu minggu mama harus bolak-balik ke perpus sekolahan buat nemenin kamu pinjem buku. Minimal 10 buku yang kamu ambil dalam seminggu. Inget gak kalo mata kamu udah minus di kelas 2 SD?”

Walah. Ga nyangka. Kalo ga nemuin harta karun itu, pasti potongan ‘kenangan’ tadi bakal terlupakan. Setelah diinget-inget, memang gitu kali yah kejadiannya.

Cuma ada beberapa hal yang malah bikin saya merenung. Mama bilang saya dulu menulis dan membaca setiap hari. Untuk buku bacaan saya bisa merampungkan 2 novel dalam sehari. Begitu juga untuk tulisan, paling tidak saya nulis meski cuma di diary. Nah sekarang??? masih sekutubuku itukah? masih serajin itukah menulis? Jawabannya : ENGGAK! Meski sekarang tetap membaca dan menulis, tapi rasa-rasanya tidak seintens dulu, dan tentu saja tidak selalu dalam keadaan ‘menggebu-gebu’ dalam melakukan dua aktivitas itu. Hmm!

Berterimakasih sama Allah yang membuat saya lupa akan jarum pentul dan pin, hingga saya menemukan sekerat masa lalu dan membuat saya gelisah untuk kembali menekuni kegemaran saya dulu. Saya harus segera menemukan resep bagaimana seorang Eresia kecil begitu fokus dan mencintai buku serta tulisan. Semoga saya segera menemukannya. Aaamiin.

[Semburat JINGGA]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s