Cinta Adik Buat Abangnya


*Kesederhanaan membalut selaksa kasih yang tiap saat ku merasainya, sejak pertama ia mencondongkan bibir mungilnya saat aku merangsek keluar dan menghirup dunia hingga kelak purna usianya. Tidak perlu jatuh untuk mencintainya…*

“Abaaaaaaaang…”,

Dengan rengekan manja inilah aku kisut dalam kelelahanku, menyerah dari jilatan siang. Dan engkau segera berbalik menatapku. Kau pun lelah, keringatmu juga menetes. Tapi sebisa mungkin kau hadirkan sebuah senyum, menyodorkan kedewasaan yang teramat. Setelah menarik nafas panjang satu dua kali, maka kau gendong tas sekolah yang tadi kubuang. Tanganmu yang basah meraih kuat tanganku, membuatku tak punya alasan untuk meneruskan ‘acara ngambek’ yang dengan gamblang kupertontonkan hampir setiap hari di 600 meter trotoar panas yang membentang antara sekolah dan rumah.

“Abaaaaaang…..!”

Gesit kutarik sejumput kaos belakangmu, kucubit kuat-kuat lengan ringkihmu, hanya karena aku sungguh tak rela melihat kau mengambil sepotong roti keju kesukaanku. Aku yang mampu melihat ubun-ubun kepalamu -bahkan saat kau berjinjit sekalipun- merasa tak cukup hanya dengan mencubit lengan, aku segera tarik rambutmu hingga terlepas sekian helai. Ada bulir bening yang terbit dari mata sipit itu, kau hanya menatapku sekejap tanpa berkata-kata, menahan sederet ketakrelaan yang mungkin teralamatkan padaku. Tapi kau diam. Dan aku berbalik, tanpa kasihan, tanpa menyesal.

“Abaang…”

Di punggungmu aku meringkuk ketakutan saat pintu rumah berderak-derak gaduh, ulah dari tamu tak diundang di awal malam. Kau meletakkan telunjukmu rapat ke depan bibir, memintaku untuk tak menjerit. Kau berjalan tegak-meski dengan lutut yang gemetaran- memukul papan pintu dari dalam, menyalakan lampu, berharap si pembuat keributan lari tunggang langgang. Saat sadar bahwa lubang kunci semakin dikorek-korek tak karuan, kau merendahkan nada suaramu, menggertak dengan suara bas lelaki umur delapan tahunan. Hingga akhirnya si tamu tak diundang pergi, kau memelukku hangat. Hampir setiap dwiminggu malam mencekam seperti itu kerap kita rasakan. Tanpa mama, tanpa papa, tapi kau cukup untukku. Kau cukup untukku.

“Abang minggir!”

Aku mendorong tubuhmu menjauh. Aku tak rela kau mencontek jawabanku, meski aku tau itulah jalan terakhir yang kau lakukan setelah satu jam kening dan hidungmu berbutir keringat sebesar jagung demi menyelesaikan sekian soal matematika dan bahasa inggris. Aku yang dahulu selalu berbangga pada kecerdasanku -hingga para guru di sekolah dasar mengizinkanku sekolah di usia genap lima tahun dan akhirnya menjadi selalu satu kelas denganmu- selalu memandangmu rendah karena otakmu begitu beku pada hampir semua mata pelajaran terutama di ‘Top 2’ itu. Kau yang kurus dan cengeng mulai menangis, seolah penindasan yang kau dapat dari adikmu yang gembul dan pemarah ini lengkap sudah.

“Abang…”

Terisak kuhampiri dirimu yang sesenggukan dengan pipi merah dan hidung berdarah. Memori rumah kita saat itu sering harus berakhir seperti itu. Kau berdarah, kesakitan, tubuhmu lebam, tanganmu biru. Tapi kau justru menggamit lengan dan memelukku, berharap agar aku tak mendapat perlakuan yang sama denganmu dari pria itu.

“Abaaang tolong”

Aku selalu tak mampu menghabiskan jatah sayuranku dan mama selalu tak menyukai itu. Maka pada hari-hari di mana hidangan utamanya adalah sayur, aku selalu meringis memohon bantuanmu. Dengan sayang kau habiskan jatahku, bukan saja yang terhidang di piring, bahkan kau juga lahap apa yang sudah terkunyah di mulutku. Kau menyayangi hingga tak tega jika mama memarahiku karena makanan yang tercecer. Kau kunyah. Kau makan. Kau telan semua, meski aku tau pasti butuh perjuangan keras untuk menampung semua di lambung kecilmu.

“Abaaang…”

Aku memohon dengan sangat agar kau tak mengadu pada mama saat tak sengaja kau baca diari pertamaku. Diari yang begitu merah jambu saat di tahun kedua berseragam putih-biru aku mulai tersipu tiap bertemu kakak kelasku. Kau tertawa, menyadari adikmu semata wayang tidak sekedar penggila musik dan bola, namun kini mulai curhat tentang lelaki. Lelaki yang bukan kau, bukan papa. Lelaki lain yang membuatku begitu menyukai lirik ‘My First Love’ dari Nikka Costa. Lelaki yang hingga kini masih begitu jelas kuingat sosoknya. Rahang kokoh, rambut ikal, lesung di kedua pipi, siswa teladan sekolah dan kabupaten, dan nama yang benar-benar merepresentasi taburan kharismanya, Cae*ar Anggara A.P. Kau berhasil mendapat servis jawaban dari setiap tugas dan ujian sebagai kompensasi acara tutup mulut itu. Nilaimu cawu itu terangkat, setidaknya matematika dan bahasa inggris tak lagi tergores dengan tinta merah. Kau malas dan tak bosan berada di peringkat bawah, padahal IQ-mu melampaui aku.

Abang…serat-serat waktu yang kupunya selalu merekam kedewasaanmu, ketegaranmu, sosokmu yang melebihi kapasitas dan kewajibanmu sebagai seorang kakak. Aku di umur lima tahun bahkan berpikir bahwa tak mungkin bagiku menghadirkan sosok lelaki lain sebagai kekasih selain engkau di masa datang. Hampir tak kutemui rekaman sosok lain yang begitu banyak tersembul di memoriku selain engkau. Bagaimana engkau menemaniku, meredam amarahku, mengatasi kenakalanku, ikhlas dengan penindasanku, tak pernah melepaskan tanganku, rela menghantam sesiapa yang berani mengejek kulit legam dan badan tambunku. Bahkan ketika mama dan papa menjejak keluar setiap hari demi menunaikan kewajiban, kau mensubstitusi kasih sayang mereka dengan cemerlang. Abang lihat aku sekarang? Aku kuat karena sejatinya abang tidak pernah melepaskan tanganku dalam keadaan tersulit apapun.

Saat dulu badanmu makin kekar, menjulang makin tinggi –hingga berselisih 26 cm dariku- kau menempati peran kakak lebih baik. Setidaknya badanmu tidak lagi kering, tidak lagi kecil, tidak lagi pendek seperti dahulu, sehingga perlindungan fisik bisa senantiasa siaga atas aku. Ditambah saat kau memutuskan menjadi polisi. Kau kian gagah, kian tinggi, kian kekar, kian berwibawa. Tidak seorangpun yang mampu mendekati terlebih menyakitiku. Kau punya perangkat lengkap sebagai seorang kakak, pengasih, penjaga, pelindung.

Abang tahukah kau? Saat kau mengukukuhkan janji dalam al mitsaqan ghaliza, aku hampir tak mampu melihatmu karena penuhnya mata ini dengan bulir keharuan. Sejatinya aku iri, aku sedih, aku marah, aku tak rela, tapi di saat yang sama aku begitu bahagia saat dengan mantap kau meminta wanita itu dari walinya untuk senantiasa berada di sampingmu sebagai tambatan jiwa. Semua perlindungan, kasih sayang, dan waktu yang kau punya tidak lagi tercurah untuk aku dan mama. Akan ada tangan lain yang kau gamit nantinya, bahu lain yang kau peluk nantinya, kening lain yang kau kecup nantinya.

Abang, sudah setahun sejak kau dimiliki oleh tiga wanita. Memang cinta dan kasih itu tak berubah untukku hanya porsi dan intensitasnya yang tak serupa. Aku cuma berdoa semoga hidup abang senantiasa dalam islam. Meski abang belum paham dan setuju dengan dakwah islam yang kuemban, tapi jangan menjauh ya bang. Percayalah, aku tak berniat membuang waktuku di jalan sia-sia pun tak diridhaiNya. Jadi, doakan aku dari jauh ya Bang…

Aku selalu… selalu sayang abang.

Gamping, 15 Agustus 2011

*Ndi kangen banget sama abang, pengen nangis terus karena perselisihan kita kemarin. Maafkan ndi Bang, maafkan ndi yang kurang pintar menjelaskan…

 

[Semburat JINGGA]

3 thoughts on “Cinta Adik Buat Abangnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s