The Street Arts


Waj’alnannahara ma’aatsa. Dan Kami jadikan siang untuk mencari kehidupan. [An-Naba’:11]

 

Penduduk Jakarta bisa jadi adalah populasi makhluk hidup yang paling paham ayat ini. Jauh sebelum kelopak jingga bertebaran di cakrawala, maka si sopir angkot sudah harus memegang setir dan menjalankan angkot sewaannya, si pemilik warteg sudah harus mampu menyandingkan oseng kangkung dan tempe goreng di etalase kaca sederhananya, karyawan dan anak sekolah sudah harus kenyang perutnya dan bersiap menanti kendaraan umum, pengemis dan anak jalanan sudah harus mangkal di prapatan. Kalau tidak, maka uang, ilmu, waktu yang berputar di ibukota bisa jadi tidak akan menghampiri mereka.

Seperti biasa, Metromini 71 jurusan Blok M-Bintaro sudah terkapar dengan sopan di hampir setengah badan jalan, membuat klakson alphard menjerit bersamaan dengan motor bebek 80an, angkot, dan mulut-mulut pejalan kaki. Semua melengking membentuk balada khas yang teranomali dari kidung alam yang senyap dan syahdu. Maka halaman ruko dan polsek di samping kiri metromini menjadi jalan ‘alternativ’ bagi mereka yang tergencet di belakang. Sang sopir santai mengepulkan asap rokok sambil mengupas kacang rebus basi peninggalan acara begadangnya tadi malam meski jeritan klakson dan serapah tak berhenti singgah di telinganya. Belum 20 meter beranjak dari metromini, pengguna jalan ekstra sederhana itu dihadang palang melintang merah-putih. YES! Bisa dibayangkan ketika palang itu terangkat, maka jalanan akan mirip pusaran air bah jika dipotret dari atas. Penuh, nyaris tak bisa bergerak.

Debu membumbung, menjadikan mulut pemulung kecoklatan. Meski tak rela, namun tampaknya itulah makanan pembuka yang tak sengaja tertelan hingga ke lambung mereka. Ironis ketika di detik yang sama seorang pejabat tengah disuapi roti gandum beroles coklat oleh wanita simpanannya. Pengemis dan pemulung berusaha menenangkan diri, karena bisa jadi hanya debu yang terproses di pencernaan hingga waktu siang nanti. Entah apakah benar itu itu khusnudzan atau lebih tepat disebut patah arang. Karena usaha matian-matian mereka untuk mencari makan merupakan sebuah ‘output’ bak lumpur hisap meski dua tahun lalu mereka turut mengantri menyumbang suara yang katanya sih demi peningkatan kesejahteraan dan taraf hidup negeri.

Anak-anak berjeans pensil belel, bersneakers belel, berambut belel dengan tindikan sana-sini mulai membentuk koloni, bergantian mereka memasuki satu angkot ke angkot lain. Berkicau menyenandungkan perlawanan pada tirani. Mereka tak jarang bersajak, menyajikan retorika anarcho, meski toh nyanyian, sajak dan retorika itu berpamrih pada keping 100 dan 500 rupiah. Yah, perlawanan tanpa pemikiran, metode, ikatan, dan komando yang jelas pastilah hanya serupa buih, membingungkan, sporadis, dan lekas musnah.

Seorang pegawai food delivery meracau tak karuan dalam hati, pandangan matanya tertindih oleh besi-besi kopaja, mobil dan metromini. Tak ada ruang tersisa di jalanan itu. Padahal masih lekat dalam ingatannya sederet janji manis seorang lelaki bertubuh gempal, berpipi lebar dan berkumis tebal yang kini benar-benar menjadi walikota bahwa lapangan pekerjaan dan jalanan akan TERBUKA LEBAR di ibukota jika ia jadi pimpinan. Kini, jangka lima tahun hampir tergulung habis, namun kemacetan dan pengangguran tetap ‘stay tuned’, padahal jika kali ini ia terlambat sampai tujuan (lagi) maka besok ia akan bebas tidur seharian, tak perlu kerja karena pasti akan diPHK. Bocah lelaki dengan rambut pirang dan kerak ingus di lubang hidungnya datang menghampiri, mengulurkan tangan. Umpatan si pengantar makanan meningkat cepat, kini tidak lagi dalam hati.

Mataku kuyu, kerudungku berdebu, kakiku kaku, cuma jemari yang tersangkut di sepatu karena bagian lain kakiku bengkak, tertekuk syahdu selama tiga jam perjalanan. Metromini belum beranjak, klakson tumpang tindih, umpatan mengudara, miskin papa menopang perut kosongnya…

 

*Bintaro-Blok M-Ragunan-Slipi, terpotret lugas dan makin hingar tak karuan dalam penjara kapitalisme. Sungguh kami rindu dekapan khilafah. Supaya ayat di atas mampu terealisasi tanpa ketakutan, ketakrelaan, dan serapah.

 

[Semburat JINGGA]

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s