TUNAS PERADABAN GEMILANG


Unik & cerdas. Cuma itu yang sering terlintas di benakku jika kudengar celotehan dan cerita-cerita lucu dari jundi-jundi cilik penyemarak kehidupan rumahtangga musyrifah dan rekan perjuanganku. Kenapa unik? Tentu karena jundi-jundi itu tidak lahir dari orang-orang yang ber-mindset kebanyakan, tapi lahir dari rahim wanita-wanita pengemban mabda islam. Ibu yang terdidik dengan mabda dan tsaqofah islam tentu memiliki thariqah dan uslub yang khas dalam mendidik anak-anak mereka. Bukan pendidikan ala kadarnya ataupun jenis pendidikan yang umum diterapkan ibu-ibu era sekarang, tidak. Tapi jenis pendidikan yang sarat akan aqidah dan tsaqofah islam, melalui proses pendidikan yang panjang, sabar, telaten.

Kenapa cerdas? Karena meski cuma berceloteh, namun kandungan dari celotehan itu mencerminkan bahwa aqidah islam telah terpancang kuat dalam benak dan menjadi qiyadah dalam pola berfikir mereka. Jundi-jundi ini terbiasa mengaitkan segala fakta dan realitas yang mereka temukan dengan nilai-nilai islam. Mereka akan bertanya banyak hal dengan polos namun menuntut akal mereka terpuaskan.

Salah satu contoh jundi unik dan cerdas yang ada di dekatku bernama Laits. Nama lengkapnya Laits Al Faruq. Saat ini Laits sudah hampir menginjak usia 4 tahun. Saat pertama datang ke Jogja 18 bulan lalu, aku langsung berinteraksi intens dengannya karena kebetulan umi Laits adalah musyrifahku.

Suatu waktu saat pertama kali aku mengajaknya jalan-jalan sore mengendarai sepeda motor, Laits berdiri di bagian depan dan langsung menyapaku,

“Amah, aku mau hafalan surat pendek. Hafalanku itu waktu naik motor”

Aku terheran juga namun tetap mendengarkannya menghafal beberapa surat pendek di juz 30 dan beberapa hadits pilihan. Ternyata kebiasaan inilah yang ditumbuhkan oleh uminya pada Laits. Saat itu umi Laits sedang hamil muda, beliau juga sedang menempuh magister pendidikannya, ditambah lagi aktivitas dakwahnya yang membumbung karena memang beliau ada konseptor dan orator yang handal. Dengan terbatasnya waktu yang dimiliki, Umi Laits tidak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai madrasatul ula bagi Laits. Beliau merancang banyak strategi supaya kewajibannya sebagai ummu wa rabbah al-bayt tetap bisa terjalankan maksimal dan bisa selaras dengan aktivitas dakwah dan kuliahnya. Salah satu strategi yang beliau miliki adalah menetapkan saat berkendara sebagai saat hafalan bagi Laits. Jadi kapanpun, di manapun, dan dibonceng oleh siapapun, ketika sudah melaju di atas motor maka Laits akan langsung terstimulus untuk memperbaiki hafalan surah pendek dan haditsnya.

Laits juga sangat suka berfikir. Ia akan memperhatikan dengan seksama berbagai hal yang ada di sekelilingnya. Sebenarnya untuk ukuran seorang anak lelaki, Laits tergolong sangat lembut dan sensitif, untungnya dia suka berfikir dan mengkritisi sesuatu. Sering aku membawanya bermain ke kontrakan, dan walhasil teman satu kontrakanku (yang jadi sasaran pertanyaannya) menjadi kewalahan menanggapi kritisisme Laits.

“Amah kenapa kalo kabel (ricecooker) dicolokin terus nasinya bisa matang?”

“Amah wanita yang di TV itu muslim bukan? Kok roknya sepaha?”

“Amah kenapa ada laba-laba di atap? Kok rumah laba-laba kayak jaring? Kok nempel? Cara bikinnya gimana Amah..?

“Amah…….!!!!”

Tak perlu saya teruskan, karena akan ada berlembar-lembar pertanyaan Laits. Dan yakinlah bahwa dia tidak akan berhenti jika jawaban yang kita berikan ala kadarnya dan tidak mampu memuaskan akalnya. Laits akan terus bertanya sampai ia paham. Ini produk pendidikan yang melatih anak berfikir ‘amiq (mendalam). Umi Laits biasa memberikan banyak ma’lumat tsabiqoh (informasi awal) pada Laits dan dilanjutkan dengan menjangkau fakta yang ada lalu dihubungkan dengan keajaiban penciptaan & pemeliharaan Allah atas makhlukNya. Laits punya banyak sekali informasi karena kesukaannya memperhatikan dan menonton acara berkualitas, jadi dia tidak bisa dibohongi dan orang-orang terdekatnya tidak bisa asal memberi jawaban.

Suatu waktu saat berdua mengendarai motor dengan Laits, ada pengendara lain yang begitu serampangan hingga membuat kami nyaris terpental, saking kesal dan takut akan keselamatan Laits, aku bersungut sambil mendesis, “Asem!”

Laits nyeletuk, “ Apanya yang asem amah? Amah marah yah? Baca ta’awudz”

Masya Allah begitu malunya diri ini karena dikuasai setan hingga harus dingatkan oleh jundi cilik.

Hal yang lucu banyak terjadi ketika Laits mulai masuk homeschooling playgroup. Awalnya ia belajar di sebuah playgroup berbasis aqidah islam, namun karena letaknya yang sangat jauh, maka Laits dipindahkan ke playgroup biasa yang dikelola oleh masyarakat di kampungnya. Ada saja cerita yang disampaikan guru pada Umi Laits tiap harinya.

Suatu waktu saat menjemput laits, sang guru bercerita pada Umi Laits. Salah satunya adalah saat Laits mengingatkan dengan tegas kawan lelakinya yang tidak mau berbagi mainan dengan teman perempuannya. Si anak perempuan ini sampai menangis, lalu Laits mendatangi anak lelaki itu sambil berkata, “Kamu nda boleh gitu. Wanita itu wajib dilindungi. Laki-laki itu tidak boleh menyakiti wanita. Lagian kan ada haditsnya supaya kita banyak memberi”

Pernah juga suatu waktu kelas Laits mendapat pertanyaan kasuistik ‘APA YANG AKAN KALIAN LAKUKAN JIKA BERTEMU DENGAN PENGEMIS?’. Teman-teman Laits menjawab dengan aneka jawaban, diantaranya ada yang akan memberi uang, memberi makanan, memberi baju, dan mengajak tinggal di rumah. Laits mengangkat tangannya dan memberi jawaban yang benar-benar di luar dugaan dan bahkan tak terfikirkan oleh teman dan gurunya. Mau tau apa jawabannya?? ^_^ Ini loh jawaban Laits, “Kalau memberi ya tidak apa-apa bu guru, kan memang tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. TAPI PENGEMIS ITU ADA KARENA YANG DIPAKE ITU SISTEM THAGHUT BUKAN SISTEM ISLAM, DAN SISTEM THAGHUT ITU PASTI AMBRUK.” Dan semua mata tertuju padanya dengan mulut menganga.

Tiga bulan lalu saat playgroupnya mengadakan acara peringatan Hari Kartini, Laits ikut lomba mewarnai figur ibu Kartini. Semua anak begitu antusias melaburkan crayon dengan beragam warna, Laits juga begitu. Saat seorang guru mendekati Laits untuk menyemangatinya, guru muslimah tersebut cuma melongo, karena seluruh potret Ibu Kartini yang berkonde serta bagian leher dan dada diblok dengan warna coklat oleh Laits. Ketika ditanya, kenapa mewarnainya seperti itu? Laits menjawab, “BU KARTINI KAN MUSLIMAH, TAPI NDA MENUTUP AURAT, JADI LAITS BIKINKAN KERUDUNG SAMPE MENUTUP DADA BIAR NDA DOSA”

Dengan kecerdasannya itu Laits jadi juara pertama mewarnai meski sebenarnya hasil mewarnainya ‘memprihatinkan’. Tapi satu hal yang membuat Laits menang, yaitu ARGUMENnya. Hehe…

Cerita terakhir yang kudengar bulan lalu adalah ketika Laits berdiskusi dengan ibu dari teman playgroupnya. Si ibu yang menjemput anaknya pulang sekolah tidak mengenakan kerudung, sontak Laits yang saat itu juga sedang menunggu dijemput sang umi menyapa ibu tersebut,

“Ibu muslim?”, Laits bertanya. Ibu tersebut menjawab ‘ya’

“Ibu tau nda kalo muslimah itu wajib menutup aurat?”, ibu itu terdiam

Laits lalu melanjutkan, “ Muslimah kalo keluar rumah harus pake kerudung lebar sama jilbab, biar nda dosa”

Begitulah laits. Ia meninggalkan sang ibu dengan perasaan gemes-gemes gimana gitu…hihihi..

Masya Allah, keren kan? Jujur aku banyak belajar dari keluarga Umi Laits tentang bagaimana mengatur keluarga dan pendidikan anak.

“Kita harus menyiapkan anak-anak kita menjadi generasi unggulan dek, mereka yang kelak akan menaklukkan Roma dan menjadi pengisi daulah khilafah. Tidak mungkin kita meninggalkan generasi yang hedon dan ‘biasa’ untuk kehidupan islam yang luar biasa. Kita harus memberikan yang terbaik untuk peradaban yang gemilang itu. Dan dari sekaranglah kita banyak berperan, wajib menjadi ummu, daiyah wal imadul bilad yang handal, supaya generasi yang kita tetaskan adalah tunas-tunas yang gemilang,” tutur Umi Laits padaku suatu waktu.

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim. Rabbana hablana min azwajinaa wa dzurriyatinaa qurrata a’yun waj’alna lil muttaqiiena imaama. Aamiin…

ALLAHUAKBAR!

[Semburat JINGGA]

Wajahnya si Laits

One thought on “TUNAS PERADABAN GEMILANG

  1. Subhanallah.
    Ukht…bisa dikorek-korek nggak itu kiat2 apa yg dijalankan ummi-nya sampai bisa menghasilkan generasi yang hebat?🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s