MILAH, Polesan Ketabahan Dalam Diam


Bagiku ritual mengelus dada adalah sebuah gerakan pasti tanpa sugesti yang biasa kulakukan bila telinga ini sudah dijejali dengan curhatan Milah. Kenapa yang namanya ketentraman, keadilan, ketenangan, dan semua jenis kosakata yang punya arti ‘nyaman’ seolah merupakan keadaan yang sulit dicapai dalam riuh rendah hidupnya yang bila kujabarkan mungkin mirip pendakian seorang Soe Hok Gie ke puncak Merbabu, meski aku tak berharap (sama sekali tak berharap) bahwa kisah Milah akan ditutup oleh kematian mirip seperti jurnalis ‘agak melek’ politik yang tercatat sebagai mahasiswa UI di akhir dekade 60-an itu. Tapi sungguh, Milah bagiku telah terpigura dalam potret ketabahan luarbiasa. Bagaimana tidak, ia telah berhasil meyakinkan dirinya untuk tidak sakit hati, padahal selama hampir 27 tahun sebenarnya ia sangat sangat sakit, sakit triple di hatinya, pikirannya, dan badannya. Entah pinjaman kekuatan darimana yang berhasil digondolnya untuk senantiasa membisiki jiwanya yang bernanah luka dengan kata “Ishbir..ishbir..”

Aku kerap merenung di penghujung malam, gelisah memikirkan keadaan sahabatku yang usianya terpaut hampir 30 puluh tahun dariku itu, hingga terkadang aku lupa berwudhu sebelum tidur karna aku telah lebih dulu jatuh tertidur dalam pengembaraan kekhawatiranku. Milah, apa kabarmu kini?

*****

Jika embun jatuh dan terkadang tak sempat menyampaikan isyarat cintanya pada tanah karena angin pagi telah lebih dulu menguapkannya menjadi udara bebas, maka lebih baik seperti itu saja ending story dari bongkahan cinta yang selalu diuji dengan candaan dilema hidup. Bagi Milah mencintai tak ubahnya menelan gula yang telah larut dalam secangkir teh yang tersedia dan diseruput olehnya tiap hari di waktu istirahat pertama. Ia selalu merasakannya, manis, tapi tiap kali itu juga perasaannya akan tertelan, hilang melanglang di dasar hatinya yang berkerak dan dingin.

“Apa yang terjadi dengan suami Anda, bu Milah?”

Milah membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser dan menatap lurus sahabat mengajar yang agak tau perangai suaminya.

“Gak ada apa-apa kok Bu Sur, salah paham saja,” Milah mencoba menarik halus bibirnya, meski yang tersembul adalah sebaris senyum yang tampak dipaksakan.

Gebrakan keras di mejanya kemarin sore bukan penutup bagi senam jantungnya, sederet tuduhan telah mendamprat telinga Milah. Semuanya tersembur lancar dari laki-laki yang telah dipercaya menjadi penjaganya sepanjang hayat. Bukan salahnya jika ternyata Pak Diki yang merupakan partner kerja satu sekolah kebetulan lewat depan kontrakan dan secepat kilat menggendong Gian, bayi Milah, yang entah mengapa terguling di pelataran rumah. Kejadian gendong-menggendong itu telah memantik kecemburuan sang suami yang saat itu bersiap keluar rumah untuk jalan-jalan sore. Saat mengetahui anak lelakinya digendong penuh kasih oleh pria lain yang menaruh hati pada istrinya sebelum mereka menikah, maka seketika itu ia merebut Gian dan meletakkannya di ranjang dan kembali ke pelataran untuk mengusir Pak Diki dengan kasar. Tanpa pikir panjang, lelaki pengangguran itu menjenguk istrinya yang bersiap pulang dari sekolah untuk memuntahkan umpatan dan caci maki yang penuh tuduhan. Sesaat Milah tersadar dari dampratan suaminya, ke mana gerangan si bibi penjaga? Mengapa ia tega membiarkan Gian berguling di pelataran rumah?

Yang terjadi berikutnya adalah Milah berusaha menarik suaminya pergi dari ruang guru sembari menghindari tatapan selidik dan iba dari rekan-rekan seprofesinya. Biar saja hati dan pipinya lebam, asal ia masih bisa menyelamatkan martabatnya sebagai guru cerdas dan cekatan. Sepasang suami istri itu berjalan saling berjauhan. Tanpa memandang, tanpa komunikasi. Sang suami nafasnya tersengal, sementara sang istri tertunduk lesu.

****

            Sebuah renungan : Islam sebagai sebuah pandangan hidup yang sempurna dan paripurna telah meletakkan martabat dan kehormatan seorang wanita pada tempat yang tinggi, hingga syurga seorang anak lelakipun berada di keikhlasan seorang ibu. Sesuai dengan sabda kekasihNya “Al jannatu tahta aqdamil ummahati”. Wanita telah dijamin akan syurga dengan seperangkat amalan yang disiapkan untuk meraih itu. Menjadi ibu, pengayom rumah tangga, pendidik ummat merupakan sederet kewajiban yang berbuah jannah jika saja tiap muslimah mau menjalankan itu dengan maksimal, dengan ketundukan. Namun job description yang terkesan ‘ndeso’ dan ‘sederhana’ itu disalahartikan oleh kaum liberal dan feminis dengan membumbuinya sebagai pekerjaan orang-orang yang tersubordinasi dan termarginalkan. Dari siapa? Dari kaum pria tentunya. Aqidah kapitalisme yang berpijak dari pondasi “Fasluddin ‘anil hayah” (memisahkan agama dari kehidupan) telah menelurkan kaum-kaum intelek yang sama sekali tak mau terikat dengan aturan agama dalam kehidupan umum, apapun bentuknya. Sayang, pola pikir dan pola sikap seperti ini justru ditiru dan diamalkan oleh sebagian besar kaum muslim yang harusnya mereka bersandar pada syariat islam dalam semua urusan. Termasuk dalam peranan dan perbedaan pembagian tugas pria dan wanita, banyak muslim yang meragukan kesetaraan dua kaum satu spesies ini hanya bisa diraih dengan ketaqwaan pada Penciptanya. Padahal untuk mencapai ketaqwaan itu bermuara pada amalan yang tak selalu sama.

Akhirnya sikap tak PEDE dengan ajaran Allah inipun membuahkan sekelompok muslimah yang menginginkan kebebasan dan kesetaraan dengan pria dalam ranah publik, terutama dalam masalah karier. Dan keinginan kuat dari para wanita untuk berkarya dalam pekerjaan demi memenuhi kebutuhan telah membuat sebagian pria (suami) merasa nyaman. NYAMAN YANG KEBABLASAN, hingga mereka terlena dan akhirnya lupa pada kewajibannya untuk menafkahi keluarga. Anak-anak tumbuh dalam buaian pengasuh, jauh dari didikan ibu yang tergenang tsaqofah islam. Mereka tumbuh menjadi generasi sakit, kurang perhatian, dan terabaikan. Remaja-remaja ini terpenuhi materi namun gersang dalam hati. Tak mungkin berharap dan mempercayakan estafet kejayaan peradaban pada manusia yang tak sinkron akal dan hatinya. Ini  merupakan lingkaran setan yang mengerikan. Semua terlahir dari keraguan muslim akan kesempurnaan islam dan pengambilan ide/pemikiran dari luar islam. Permasalahan mendasar yang juga membutuhkan solusi radikal.

****

            Milah mengenakan pakaian dinas barunya. Sebuah rok, blazer lengan panjang dan sebuah kerudung. Belum sempurna pakaian yang akan mengawali niat perubahannya di pagi hari medio September itu, belum seperti apa yang diserukan oleh Pemilik Arsy dalam surat cintaNya di Surat An-Nuur ayat 31 dan Al Ahzab 59. Yah, aku berusaha, dan inilah usaha dari prosesku menuju kesempurnaan pengabdian, itu dalam batinnya. Meski kelak ia pasti akan mentransformasi penampilannya dengan balutan jilbab (gamis) dan kerudung lebar.

Milah menatap buah hatinya dengan gamang, ia telah menemukan pengasuh baru yang tampak lebih muda –dan tentu saja lebih santun- dari seorang bibi penjaga sebelum ini. Gamang karena ia belum percaya sepenuhnya dengan orang baru yang akan diserahi untuk merawat buah hatinya seharian selama ia mengajar. Namun apa boleh buat, ketimbang ia harus memasrahkan Gian pada ayah biologisnya yang memiliki emosi tinggi jauh mengangkangi rasionalitas manusia normal, maka lebih baik Gian berada dalam timangan seorang wanita yang lebih pengertian. Ya, begitu saja.

Seorang wanita gemuk dengan rambut ikal tergerai tiba-tiba sudah berdiri di depan pintu saat Milah telah siap menuju sekolah.

“Mbak Ningsih..?”

Wanita itu adalah kakak kandung suaminya, terlihat pasi dan kebingungan.

“Dek Milah, bisa bantu saya..?”

Lalu menderaslah sebuah cerita tentang hidupnya yang terlilit kekurangan, sesekali ia sesenggukan meratapi kesulitannya menjalani hidup seorang diri tanpa suami, ia melap ingusnya berkali-kali seolah menafikkan fakta bahwa adiknya merupakan malapetaka terbesar yang pernah didapat Milah. Namun bukan Milah jika tak mampu memaafkan, meski beberapa minggu lalu wanita ini pernah menipu dirinya dengan sepanci penuh daging rendang yang susah payah dibelinya dengan 1/5 gajinya 1 bulan. Yah, kini dengan modal barter sebuah oven kue, maka Milah menyerahkan beberapa lembar uang puluhan ribu untuk kakak tirinya itu. Ini artinya ia harus mengoptimalisasi perahan ASI untuk Gian karena anggaran susu formulanya telah hilang sampai dua bulan ke depan.

Sore itu ia pulang dan menyadari sebuah oven telah bertengger di atas meja dapurnya.

“Ibu beli dari Bu Ningsih ya oven ini?” Mbak Mur, pengasuh Gian yang baru bertanya sambil menyuapi Gian dengan pisang ambon.

Milah tersenyum pertanda mengiyakan pertanyaan itu. Alis Mbak Mur terangkat,

“Wealah Bu, tadi saya sudah meriksa ovennya. Tempat loyangnya itu sudah keropos loh, gak kuat lagi buat menyangga loyang. Tutup ovennya juga sudah nda bisa dipasang lagi. Mau-maunya ibu beli oven rusak, kalo beli di toko kan dapet yang bagus Bu..”

Pernyataan Mbak Mur sedikit menerbitkan air mata di hatinya, ini berarti kali kedua Mbak Ningsih menipunya. Mengapa niat tulusnya selalu disepak dengan kebohongan? Bila memang butuh uang dan berniat meminjam, tak bisakah keinginan itu disampaikan tanpa dihiasi dengan kisah barter oven yang penuh penipuan? Hidup berjarak ratusan mil dari orang tua, membuat Milah menjadikan Allah dan air mata sebagai sandaran kokoh tiap kali duka mengombang-ambingkan tubuhnya.

****

            Suaminya, Mas Kardi, telah pergi lebih dari lima hari. Ucapan terakhir yang sempat dititipkan lelaki itu untuknya adalah bahwa ia akan berusaha mencari pekerjaan dengan membangun kontak bersama kenalan-kenalan lamanya. Hanya itu yang ia dengar, setelahnya hari-hari Milah terlewati tanpa kabar dari Mas Kardi. Semua lenyap dibawa pergi mirip debu yang didekap angin kencang penutup tahun yang melanda daerah pesisir pantai Jawa Timur. Di era akhir 80an itu belum ada alat komunikasi berupa telepon genggam, sehingga melacak keberadaan suaminya tak bisa dilakukan dengan cepat dan on-time.

Milah begitu penat. Bertemu dengan puluhan anak SMP dan membangun hubungan intelektualitas dengan mereka merupakan sebuah aktivitas yang menyenangkan. Meski ketika jam 3 sore Milah kembali ke rumah, ia sadar bahwa kesenangannya mengajar telah menguras habis energinya hari itu, ditambah jika keadaan rumah tangga dan hubungan tak sehatnya dengan saudara-saudara suaminya merupakan sebuah realitas yang memaksa Milah tak bisa menenangkan pikiran.

Bukan sekali Mbak Ningsih, Mbak Ina, Mbak Oyik dan beberapa kerabat suaminya bertandang ke rumah dan meledeknya sebagai istri yang tak pandai menyenangkan suami, karena hingga dua minggu kepergiannya, Mas Kardi belum menampakkan tanda-tanda akan pulang. Entah perkataan seperti apa yang selama ini dilantunkan Mas Kardi di depan keluarga besarnya, hingga mereka yang dulu begitu mengelukan Milah sebagai wanita cerdas dan berpendidikan kini menganggap ia tak ubahnya seperti wanita tak ada guna. Tak bisa Milah membela dirinya, pernah hal itu dilakukannya sekali, dan tak ada keluarga yang berpindah ke sisinya. Semua menyalahkan dan menganggap ucapan Milah sebagai omong-kosong. Hidup berdekatan dengan keluarga suami yang begitu menujukkan sikap tak menerima, membuat berat badan Milah turun dengan sukses. Ia tak perlu ahli gizi untuk mendampinginya dalam sebuah program diet. Semua tetek bengek permasalahan adalah obat pencahar yang solutif untuk penghilang lemak dalam tubuhnya.

****

            Sawah adalah sahabat karib bagi anak-anak petani. Di rimbunnya batang padi mereka sering berebutan memungut belalang yang dagingnya terasa begitu gurih saat dibakar. Di sela-sela lumpur yang kehitaman sering bergerombol keluarga keong mas yang bisa dijadikan jajan penambal perut mereka yang belum kenyang meski sudah makan siang. Yah segempal nasi dan sepotong bakwan yang dibagi rata untuk lima orang bukan pengisi perut yang sempurna bukan? Itulah sebabnya beberapa bocah yang rambutnya merah mirip rambut jagung dan hidung nya berkerak karena ingus yang mengering, begitu girang jika orang tua mereka membebaskan satu sore untuk bermain di sawah, bebas dari perintah mengangkut batu kali (sungai) dan memecahnya untuk kemudian dijual ke mandor bahan bangunan.

Sore itu, awan mendung menjadi selimut tebal di cakrawala jingga yang mulai kelabu. Empat orang anak perempuan menggenggam daun genjer yang tumbuh liar di tepi sawah. Perburuan belalang dan keong mas tak mungkin lagi bisa dilakukan, menilik cuaca yang tak bersahabat. Saat kristal hujan akhirnya rebah ke bumi, keempat bocah itu berlarian dan saling berpamitan sebelum akhirnya menuju rumah masing-masing.

Milah membuka pintu kayu rumahnya dan dengan bangga mengangkat seikat genjer sambil melompat-lompat. Itu artinya ia dan kesembilan anggota keluarganya (termasuk ayah ibunya) akan punya lauk tambahan untuk makan malam selain nasi dan garam. Kakak lelaki dan perempuannya tersenyum, haru dengan semangat Milah mencari genjer. Milah adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara, sebenarnya ia merupakan putri keduabelas, namun lima saudaranya meninggal akibat penyakit tak sanggup terobati karena mahalnya biaya.

“Bu, Milah pengin kuliah di Jogja kalo udah lulus SMA”

Semua mata mengarah pada Milah di meja elips kayu yang sudah berlubang sana-sini pada makan malam itu, kemudian semuanya tersenyum. Senyum mereka diartikan sebagai sebuah pengiyaan oleh Milah, padahal orang tua dan kakaknya menghadirkan senyuman sebagai tanda pasrah dan bertujuan untuk menenangkan keinginan membuncah seorang bocah SD. Mereka berharap Milah akan memupuskan sendiri keinginannya itu jika kelak ia sudah besar dan bisa melihat realita keluarganya yang tak jauh dari kemelaratan. Apa yang bisa diharapkan dari penghasilan ayahnya yang cuma penambal ban dan pemilik sawah tak seberapa lebar? Nyaris tak ada. Punya beras yang bisa ditanak untuk hari ini saja merupakan sebuah karunia Allah yang tak berhingga.

-to be continued-

[Semburat JINGGA]

2 thoughts on “MILAH, Polesan Ketabahan Dalam Diam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s