Desah Sunyi Pada Tuhan


Malam…

Aku melihat engkau berlalu kemarin. Meninggalkan pengembaraanku dalam semesta kelam hingga aku tersesat, jauh dalam kelok-liku membingungkan. Aku sudah bilang, aku mengamati kelam bukan untuk menyerapnya menjadi terlalu dalam. BUKAN. Aku hanya ingin menjadikannya pembelajaran, hingga kelak jika aku menjumpainya, aku mampu mengkodifikasikannya, dan tak mencampurnya dengan warna-warna terang. Tak taukah? Namun kupikir engkau akan tetap berlalu di penghujung fajar, meski tiap hari kau muncul bersama karamnya senja.

Siang…

Aku terkadang menunggumu hingga bosan. Meski kau menyembul di batas mega kala singsingan fajar, namun kelabu kerap memelukmu hingga hilang. Warnamu serupa kelam, hampir tak berbeda. Jika kelam malam punya rembulan, maka kau punya mentari. Tapi sungguh tak ada berjeda, tak mendua, bagiku sama saja. Siang dan malam tak kekal, tak memberi manusia keagungan.

Hingga kini…akhirnya aku berdiri di malam-malamku. Menemani kelam dengan air mataku, meminang malam dengan penyerahanku. Kubalut siang dengan usahaku, kubingkai hari dengan luapan ketundukanku. Malam dan siang tak berubah, tapi aku sadar bahwa ada yang berubah. Ada bibit-bibit perombakan yang merevitalisasi isi otakku, pemikiranku, pandanganku, tujuan hidupku. Aku mampu menemukan bahwa ada yang tetap tegak menyemburat di siang dan malam, di awalnya, di akhirnya, di antaranya. Dan kutemukan itu Engkau, TUHAN..!!

Apakah Nietzhe tak malu dengan ucapannya pada hari saat ia berkata telah membunuhMU? Apa Freud tak malu saat menyatakan bahwa menyembahMU merupakan keinginan-keinginan yang sengaja dimunculkan? Apa Lenin dan Stalin tak malu saat mereka menghapusMU dari perundang-undangan? Aku yakin rasa malu mereka kini telah lenyap seiring siksa tak berperi yang akan mereka dapatkan. Aku tau duhai Tuhanku, Engkau tak hilang, tak mungkin lekang, meski malam dan siang berhenti berganti, meski jutaan pengekor Descartes, Feurbach, dan Zeno mampu melahirkan atheis-atheis baru yang lebih gila!!!!

Kau tetap di sini. Menjagaku dari keterpurukan, membelaiku dengan teguran, mengikatku agar tetap dalam islam. Hingga aku tak punya alasan untuk menjauh, untuk mengeluh atau tak mau terjatuh. Aku siap duhai Tuhan, aku akan selalu siap dengan cobaan, cobaan yang akan menghantarku pada MihrabMU yang agung. Seperti malam ini, ketika Kau membuatku mengerti makna keikhlasan, kesabaran, kepasrahan. Illahi Rabbuna, izinkan aku tetap berada dalam deretan orang yang Engkau cintai, yang gemar Engkau ingatkan…aaamiiin…

Semburat JINGGA, dalam renungan dan kepasrahan yang terpintal….


One thought on “Desah Sunyi Pada Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s