Ada Apa Dengan Mereka?


Malam sabtu merupakan satu waktu yang kualokasikan untuk beranjangsana dan ‘menularkan kebaikan’ pada adik-adikku yang masih SMP dan SMA. Yap, aktivitas ini sering disebut halqoh, kajian, liqo’, or whatever the name..🙂. Sayang, aku harus sedikit kecewa (bukan kecewa karena tak ikhlas) karena ada dua adikku yang tidak hadir halqah (lagi). Tidak malam ini saja dua remaja itu tak menampakkan diri. Minggu lalu, 2 minggu lalu, 3 minggu lalu, mereka juga tak tampak. Padahal halqah di malam sabtu merupakan ujung dari pergonta-gantian waktu halqah demi mencari titik senggang waktu mereka. Aku berusaha untuk menomorduakan dinas dan kuliahku untuk urusan ini, Insya Allah. Hanya sesekali saja dua muslimah itu  menyambut ajakanku, itupun (mungkin) setelah orang tua mereka benar2 tak tahan lagi dengan sikap mereka yang belum siap (jika tidak kukatakan malas ^_^) halqoh..

Yap, dua orang itu adalah adik-adik kajianku yang masih dalam tahap pedekate sama ISLAM. Jujur, kelompok kajian remaja yang kupegang ini lebih menantang dan berliku, amat beda rasanya dengan kelompok mahasiswa dan ibu-ibu. Entahlah, mungkin faktor usia dan ‘energi berlebih’ di masa remaja membuat adik-adikku ini benar-benar memacuku untuk pintar membuat strategi (ehehehe,,,).  Sebenarnya kelompok kajian ini terdiri dari 4 orang, tapi hanya dua yang kulihat semangat dan memiliki ketertarikan lebih dalam mengkaji islam. Namun dua orang lainnya, lebih senang bergelut dengan aktivitas sekolah dan larut dalam dunia remaja.

Well, sikap dua adikku itu sempat membuatku sering muhasabah, sering berpikir, sering merenung,,,Jika memang keengganan mereka datang kajian adalah murni karena kemalasan untuk mengkaji islam, kurasa itu wajar. Aku sangat bisa mengerti faktor ‘malas’ itu. Tak dipungkiri aku pernah mendapati diriku melanglang bebas dalam arena remaja seperti yang mereka tapaki sekarang. Aku merasa bahwa diriku pun tak kalah energik, tak kalah bergairah, dan tentu saja tak kalah bandel dari mereka dalam urusan ‘mengelak diajak kajian’ (wataww, itu kan doeloe…=p).  Atau jika faktor yang menyebabkan mereka tak bisa hadir kajian adalah karena alasan sekolah, tentu saja aku bisa maklum. Aku sebagai seorang yang dididik untuk menentukan semua jenis agenda dengan menggunakan aulawiyat (prioritas di hadapan Allah) tentu gak bisa menuntut adik-adikku yang masih berusaha melirik islam untuk menggunakan konsep aulawiyat itu dalam menentukan aktivitas-aktivitas apa yang harusnya mereka dahulukan. Dan jika ternyata jam kajian bentrok dengan jadwal les atau waktu belajar karna besoknya mereka ada ujian, maka aku berusaha untuk menghargai itu, karna aku sadar mereka masih belum bisa diikat secara pemikiran. Maka usahaku untuk menimbulkan kecintaan mereka pada islam dan ilmu adalah membuat halqah seatraktif mungkin. Ada power point slide, ada game, ada pembagian buletin, ada nonton film, ada ‘not-prepared’ quiz, ada berbagai hal yang kulakukan untuk membuat mereka semangat menghadiri halqah. Bentuk pengikatan emosional tak lupa aku lakukan dengan jalan mengirimkan sms-sms sapaan ataupun taushiyah. Namun tampaknya usahaku agak (bukan nihil samasekali) tak berhasil pada dua gadis itu. Terbukti mereka hanya datang sesekali.

Namun, yang jadi bahan renunganku adalah, bagaimana jika ternyata keengganan mereka datang halqah adalah impact atau manifestasi dari kemaksiyatan yang aku lakukan? Ya Allah, sungguh hal inilah yang tak terbayangkan, hal inilah yang sangat mengusik jiwa, perasaan, pikiranku. Karna aku ingat betul pesan berharga dari Dr Najih Ibrahim dalam bukunya ‘Pesan-Pesan Menggugah Untuk Pengemban Dakwah’, beliau menyatakan bahwa dosa kita -sekecil apapun itu- akan sangat berpengaruh pada dakwah dan jamaah dakwah. Allahu Rabbuna…

Aku tentu saja bukanlah orang yang sempurna, tidak jarang aku mendapati diri ini lalai, enggan melakukan shalat malam, berprasangka pada saudara, terkadang lupa pada kewajiban untuk menjadikan dakwah sebagai poros kegiatan, dan puluhan maksiyat lain yang jika saya kumpulkan tentu sangat banyak. Inilah yang sering membuat aku takut, bahwa kemaksiyatan itu yang memberi ‘efek malas’ di hati adik-adik kajianku. Rabbighfirliy…Rabbighfirliy…

Sangat malu rasanya jika ternyata dakwah kita yang sukar diterima masyarakat pun keluarga ternyata merupakan pengaruh dari dosa-dosa yang masih kerap kita lakukan. Jikalau Allah itu bukan Maha Pemurah, maka akan kita kemanakan dosa-dosa yang tertumpuk itu? Akan kita kemanakan tanggungjawab kita pada Allah mengenai dakwah ini? Ya Allah, ampuni hamba…ampuni hamba… T.T

[Semburat JINGGA]

2 thoughts on “Ada Apa Dengan Mereka?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s