Menjauhlah…..!


Menjauhlah. Hadirmu mengHIDUPkan namun musnahmu menguatkan. Adamu melejitkan tapi kupilih TIADAmu yang menentramkan….

Sekian bulan lalu bisa jadi Ipus akan merasa dadanya meletup-letup jika hari selasa tiba. Ia punya alasan untuk merasa bahwa hari itu akan menjadi hari yang istimewa baginya. Hmm, tapi tidak lagi untuk saat ini. Selasa yang menghampirinya tiap minggu sama saja, tak ubahnya seperti hari senin, rabu hingga minggu. Padat agenda, sibuk bolak-balik kampus, mengerjakan tugas, mengkaji ilmu islam, dan dinas di kantor.

Ipus memandangi sebuah miniatur menara yang pada keempat sisinya terukir dua nama dan sebuah perjuangan yang tadinya mengikat komitmen pemilik nama-nama itu. Ketika kesadaran utuh menghampiri otaknya, Ipus segera meraih menara itu dan ‘kraaaaakk!’, ia mematahkannya. Hatinya berdesir saat menyadari benda yang ada di tangannya sudah tidak tegak lagi, sudah patah menjadi beberapa bagian. Tadinya Ipus berencana menyesalai tindakan bodohnya itu. Namun setelah berfikir jernih sekian detik, Ipus memutuskan untuk tidak kecewa atas tindakannya tadi. Ia kenakan jubah army kesayangannya, ia sandang backpack hitam di bahu kanannya, ia raih kunci motor, menstater kendaraan tak bergigi itu dan ia biarkan dirinya melaju menyapa angin dan tenggelam dalam rangkaian majelis ilmu bersama adik-adik kajiannya.

“Mba Ipus…”, Pipit, siswi kelas XI segera menghampiri Ipus saat kajian kamis sore itu usai.

“Ya sayang…”, Ipus balik menyapa dan menatap adiknya itu dengan perhatian penuh

“Hmmm…aku sudah berani mengatakan TIDAK untuk berpacaran mba. Bener isi kalamullah surat Al Israa ayat 32 itu, tentang larangan mendekati zina ditambah dengan Hadits riwayat Ahmad tentang larangan berkhalwat (berduaan) dengan yang bukan mahram.”, ucapannya terhenti. Aura kesedihan jelas menyeruak dan mencipta balur nestapa di wajahnya, namun Pipit mengembangkan senyumnya dan melanjutkan, “Kalau orang lain TIDAK MALU melakukan kemaksiatan di bumi Allah kenapa juga aku harus malu dengan ejekan ejekan pedas senior karena aku memutuskan ketua OSIS di sekolah.”

“Subhanallah..! Allahuakbar!” Segera Ipus meraih tubuh Pipit dalam dekapan. Ipus merasakan ada yang membasah dan tergenang di bahunya, namun ia juga mampu menangkap azzam yang menggeliat dari isakan lemah itu.

“Mba…aku berani mengatakan TIDAK untuk semua hal yang menurut sebagian besar orang adalah kebaikan namun menurutNYA kemunkaran..”

“Kau tau sayang….perasaan indah yang sekian bulan ini mencubit-cubit hatimu bukanlah kesalahan, itu wajar. Ada dua pilihan untuk menyikapinya, pertama, menyalurkan naluri itu tanpa batas, tanpa kekangan dengan mewujudkannya dalam aktivitas-aktivitas yang kini dianggap wajar namun mengundang kelaknatan dari Allah. Kedua, kau mengagungkannya dalam diam, dalam ketaatan dan ketakutan akan azabNYA, hingga kau berani menampik semua kegiatan yang tak ada tuntunannya dalam Al-Qur’an. Pit, kau sudah memilih yang kedua…kau sudah meletakkan ridhaNYA di atas ridha dari selainNYA…”

Pipit menghambur kian dalam di pelukan Ipus. Bahunya naik turun, masih menyisakan isak. Kini bukan isakan kesedihan karena ia telah meninggalkan cintanya dengan ucapan perpisahan “PUTUS”, namun sebuah kekuatan dan pijar kebangkitan karena ia telah  mengikatkan perasaannya dalam lingkaran kepatuhan, belajar tak mempedulikan celotehan sinis dari manusia-manusia yang terlena dengan kebebasan dan melabelkan kata “BOLEH” untuk setiap kegiatan yang umum dilakukan meski sebenarnya RABBnya tak pernah memberi  permisivitas dalam Al-Qur’an.

****

Senja itu Ipus memainkan penanya, ia biarkan kakinya yang terlindungi kaos kaki terendam air asin pantai Depok. Kerudung hitamnya terkibar. Ingatannya tertuju pada Pipit, remaja belia dengan sorot mata tegas telah menemukan hidupnya dalam rengkuhan MABDA ISLAM. Baru kemarin sore Pipit terisak di bahunya melepaskan rasa sakit karena telah berani memilih untuk taat pada Allah tinimbang tunduk pada nafsunya. Ipus yakin Pipit akan segera bangkit, apa yang ia rasakan cuma sementara, rasa sakit itu  wajar karena ia sedang berproses menuju sebuah fase untuk jadi lebih baik lagi.  Ipus tersenyum jika mengingat Pipit yang celingukan di forum remaja yang ia isi empat bulan lalu. Gadis SMA itu malu saat menyadari bahwa hanya rambutnya yang tergerai dari sekian remaja muslimah yang hadir di situ.

Ipus menarik nafasnya dalam. Ia telah merumuskan sebuah keputusan setelah berminggu-minggu pikiran dan perasaannya terforsir dan nyaris hanyut dalam sebuah pergulatan batin yang pernah ia kenang sebagai romansa selasa. Ipus sudah menumbangkan perasaannya sendiri, dan itu bukan lagi niatan. Ia tulis kata singkat dalam diarynya yang penuh coretan.

Untukmu yang pernah datang dengan cinta dan keseriusan…Menjauhlah! Hadirmu memang mengHIDUPkan namun musnahmu menguatkan. Adamu melejitkan tapi kupilih TIADAmu yang menentramkan. Kutitipkan rasaku pada Sang Penggenggam Segala Urusan. Maka menjauhlah. Tak kuberi lagi kau ruang untuk tertabur dan tersemai. Selamat tinggal….

[Semburat JINGGA]

2 thoughts on “Menjauhlah…..!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s