Aku Bukan Aku yang Dulu…


Matahari yang naik sepenggalah sempat menciumi mataku hingga ia berserak dalam benderang yang menyilaukan. Tanganku tak berkutik hingga kumampu merasai sepasang kaki yang membatu di tanah tempat ia berpijak. Apalagi yang tereja dari bibir, selain kekaguman teramat pada perkasa sang bola pijar. Aku tak berlari meraih kehangatan dan kemilau itu, ia yang memegang sulur-sulur yang tergenggam di jemariku lalu menariknya perlahan, hingga aku bisa menikmati luruhnya batas ruang di antara kami, hasta demi hasta, rinci tiap detiknya..

Kakiku kian mati rasa, ba’al merambat naik ke paha, perut, hingga melucuti gumpalan otakku dari pikirnya. Melepas rasioku dari sadarnya. Sudahlah, aku tetap menggenggam sulur candu yang kurengkuh kian erat di jemari. Karena jika pun ini salah, aku bisa berlari mundur, kencang, hingga tak ada yang tersisa. Maka aku berjalan, mendekat, hingga matahari membakar ubun-ubunku.

Rona pelangi menjadi gugusan penyibak mendung usai gerimisnya, ada warna-warna hidup dan ceria yang menohok mataku karena kudapati tanahku yang hangat namun begitu abu-abu. Jejak langkah yang kubentuk di belakang mirip sebuah rel kereta yang sudah usang, pondasinya karam, kayunya lapuk, besinya terkulai. Begitu sesak. Aku mengutip keraguan dari apa yang telah kugoreskan di tanah. benarkah ini salah?

Kudapati semua kini terdampar pada ruang nisbi hampa udara yang tak ada izin bagi suara untuk terambat ke telinga. SUNYI, bahkan lebih dari itu. Kurasa semua telah mati. Mati berkalang nyanyi-nyanyi sendu yang tergenang di lantai jiwa, mereka telah bosan mengembara di hati yang tersakiti. Aku berdiri tegak. Kugerakkan kakiku yang tadi mati rasa, kufokuskan fikir dan sadarku seperti semula. Aku terpana…Ternyata tiga bulan kemarin aku menjadi musafir di sahara yang terlampau gersang, fatamorgananya bukan hanya menyilaukan namun membuat mataku menukar kerikil menjadi pegunungan.

Setengah sadar aku basuh debu yang menetap di wajah, kupastikan apa-apa yang tersirat dalam dada akan juga menemui ajalnya. Sama dengan sang pemantik cinta yang kini berangsur mundur tak bernyali, mengambang asa teranyam palsu, menikam amanah memburai janji. Semua kini bagai domba yang dikuliti. Jelas. Aku tau harus kukemanakan langkah kaki yang akan menghinggap bumi. Yang jelas bukan di sini, bukan di tanahnya, yang mudah mengobral tekad namun enggan mengusaikan akibat.

Tak ada ruang untuk kepengecutan itu. Bawa saja ia terpanggul di jejak kembaramu. Karena aku sudah bilang, meski dengan merangkak dan harus tercabik, aku akan mengubur segala hingga tak menyisa.  ^^v

[Semburat JINGGA]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s