Mencintaimu Lillah…


Tak terbahasakan. Aku tak punya lidah saat ini, ia begitu kelu. Kujelma tiap rasa menjadi bulir bening dan guratan kata. Aku tak ingin menangis, aku berjanji untuk tak tersedu. Tapi kini mataku bagai putaran kran tanpa guna, tak mampu mengatur deras air mata. Biarlah tiap tetes yang bermuara di jilbabku menjadi saksi bisu. Dan tiap kata yang kutoreh di layar datar menjadi lesatan bukti bahwa sebuah rasa indah yang didasari keimanan padaNYA kini bersarang di dadaku, menggelegak di tiap nafasku, menggigit-gigit kekuatanku…

Belum lama mata ini melihat sosoknya. Belum jauh jua aku mengurai identitas yang tak sempat kueja satu demi satu. 22 tahun adalah bentangan waktu yang tak sempat kami lewati bersama, kumpulan detik yang mungkin kami pernah terseok di riuhnya masa kanak-kanak, dan tersesat di rimba pencarian jati diri. 22 tahun adalah masa yang tak sebentar. Masa itu telah mencipta kuncup-kuncup dara yang kini bermekaran, dan mulai matang. Ya, aku dan dia…

Adakah yang lebih perkasa dariNYA? Yang dengan indah mengatur pertemuanku dengannya? Yang menyeretku pada sebuah ikatan syahdu, tak terlekang tua zaman, tak hilang dihisap ruang, tak luntur meski berbentang lautan? TIDAK! Tak ada pembuat skenario yang lebih dahsyat melebihiNYA.

Dia indah. Dengan kekurangan dan kelebihan yang tersemat padanya, dia sungguh indah. Aku gambarkan ketegasannya serupa karang. Aku lukiskan semangatnya serupa guyuran deras Niagara. Aku umpamakan ketulusannya serupa padi menguning yang kian tertunduk. Auranya terpancar, semangatnya membakar. Polesan hidup, manis, asam, pahit, getirnya telah menjelmakan ia sebagai sosok teratai yang tampil memukau meski berkubang air pekat berlumut hijau.

Sari… Nurwanasari Hamzah. Di balik nama itulah sosoknya terpanggil. Di sebaris kata itulah ia kerap terpampang pada absensi sekolah dan presensi kuliah. Ia melebur dengan dunia yang digilainya, dakwah. Ia tercermin dalam bidang yang ditekuninya, farmasi. Ia tergambar dalam aktivitas yang dicintainya, karate dan bacaan tentang sang detektiv flamboyant bermata sipit bertubuh semampai, Kudo.

Gerakku, geraknya, adalah sebuah titian masa yang mencipta dentingan-dentingan indah, tertulis pada lembar-lembar orchestra hidup. Meski tak berbilang tahun, tapi kami punya berbagai warna di sana. Kami berpikir, kami saling bertanya. Kami mengisi, kami saling terbuka. Kami punya gundah, kami kadang gelisah, kami juga merenung, namun selebihnya kami hanyut dalam tadabur kemahabesaranNYA dan rencana-rencana dahsyat untuk menyadarkan manusia akan syariahNYA. Kami berusaha tapaki inci nafas dengan penghambaan penuh pada Sang Pemilik Raga. Saat dia terlena, aku menamparnya dengan cinta. Saat aku jatuh, ia menggapaiku dengan untaian kata bermakna. Tak ada ruang kosong, kami jejali waktu kami dengan santapan-santapan membangun.

Kau tau?? Dua jam lalu dia mengabariku bahwa esok shubuh ia akan pulang ke kotanya. Sebuah tempat berbeda pulau, beratus mile jaraknya dari Jogja. Ia harus kembali demi mengaktualisasi ilmu yang telah ia timba, juga mengibarkan perjuangan ideologis yang tak pernah bosan digenggamnya. Tanpa ada kabar , tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Aku berjanji untuk tak terisak. Aku sudah berjanji padanya, padaNYA. Namun apa mau kukata? Tandon mataku jebol, semua menderas bak semburan lumpur lapindo. Hanya mampu kuresapi lagi apa-apa yang pernah kami rajut bersama, mencoba mengikhlaskan sesosok manusia yang telah menggoreskan cinta, di sini, di dalam dada. Bukan cinta berlumur nafsu pun kesenangan semata. Bukan pula cinta berkalang keegoisan dan bertabiat hura-hura.

Sari, baru sekian jam pesawatmu lepas landas dari tanah Jogja, membawamu pergi dari bumi perjuangan yang bara revolusinyanya kian berkibar. Tetaplah rengkuh mabda HAQ ini, gemakan kegemilangannya di manapun kakimu terpijak, sandarkan aktivitasmu pada lecutannya. Tetaplah lantang menebar retorika, GUNCANGLAH DUNIA! Hingga kelak Allah mengizinkan kita berkumpul di sebuah taman indah tanpa limitasi, tanpa perpisahan, tanpa air mata.

Saudariku….Sungguh aku mencintaimu, karena Allah semata….

Kuikhlaskan jika senja ini jingga tak menyemburat di cakrawala..

Akan kubiarkan jika Parangtritis kehilangan satu pengagum ombaknya..

Kuijinkan bila biscuit TOGO di Jogja berkurang pembelinya…

Tak kuhiraukan jika jalanan Kaliurang kekurangan satu pembalap liarnya…

Kurelakan jika Gamping merana karena ada seseorang yang belum pernah merambahnya..

Kuizinkan jika motorku tak akan lagi menepi di samping kosan berlantai tiga…

Kuikhlaskan jika diri ini tak bisa lagi berteduh seusai kuliah dan aktivitasnya…

Kuikhlaskan, kuikhlaskan, kuikhlaskan… Meski TETAP DENGAN AIR MATA….

[Semburat JINGGA, di kucuran air mata menderas saat perpisahan dengan ukhti terkasihnya]

~ Ingatlah TERIAKAN MAUT kita di bibir parangtritis kala itu.. “..Al khilafatu wa’dullah wa busyra rasulillah…!!” ~

7 thoughts on “Mencintaimu Lillah…

  1. Hiks…sedih baca ini. Turut merasakan kecintaan anti pada saudari anti itu…
    Sunnguh persaudaraan yang diikat atas dasar aqidah merupakan persaudaraan haqiqi, ikatan yang paling kuat….
    Salut untuk kalian berdua…:'(

    • hu’um…baru nyadar pas antum bilang…waktu di pantai kami jadi objek foto sekaligus pengambil gambar…jadi rada bingung ngatur gaya…makasi dah dikasi tau…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s