Islam dan Ilmu BERSENYAWA!!


 

Pagi ini, Rabu 22 September 2010 saya masuk kuliah pertama untuk mata kuliah Kristal Mineralogi. Kebetulan dosen yang diberi amanah untuk mengajar mata kuliah ini adalah seorang Doktor yang terkenal disiplin dan cerdas. Beliau juga merupakan dosen wali saya, sehinga sebelum pagi ini, saya pernah berbincang dan bertatap muka.
Kuliah dimulai dengan perkenalan, beliau memaparkan perjalanannya dalam dunia akademisi. Bagaimana dahulu beliau yang berasal dari desa dengan background keluarga proletar, hanya lulus di Perguruan Tinggi Swasta, sementara teman-temannya yang satu perjuangan berhasil menembus Gerbang ITB dan UGM. Namun berkat kehausan akan ilmu yang begitu dahsyat, akhirnya beliau mampu menamatkan S3nya sementara teman kuliah maupun SMAnya belum ada yang memiliki sepak terjang setara dengan beliau.
Beliau memulai materi dengan perkenalan struktur bumi, di sinilah MABDA ISLAM yang tertancap dalam AKAL dan HATI saya mulai berontak dengan tiap kata yang terlontar dari pemaparan yang beliau jelaskan.

“Tak perlu membawa tendensi agama di sini. ini kelas science, pengetahuan! Dan pengetahuan itu berasas tak puas, tak mengikat. Berbeda  dengan  agama yang asasnya adalah harus percaya. Agama dan pengetahuan memiliki alur yang berbeda, tak searah, tak bisa disatukan”

“Andai kalian menyatukan pengetahuan dan agama, maka gak akan pernah ada yang namanya HP, gak akan ada yang tahu secara rinci mineral penyusun bumi, dll.  otak kalian akan mandeg  sampe situ, gak ada kelas kuliah, gak ada UJIAN. Karena ya memang AGAMA hanya MENCUKUPKAN PENGETAHUAN pada kaidah2 yang sesuai saja, jadi kita tidak bisa mendebatnya”

Ngek Ngok!! BENARkah Pengetahuan dan Agama itu terpisah? Jika YA, mengapa demikian? Jika tidak, mengapa DOSEN SAYA (dan mungkin juga sebagian dari ANDA) menganggap demikian? Cari tahu yuukkkz… ^_____^

 

1. Asal-Usul Pemisahan Pengetahuan dari AGAMA

Pada abad 15 Eropa mulai didominasi oleh Kristen yang terkenal keras dengan doktrin gerejanya. Saat itu hanya ada satu kebenaran yang diakui, yakni segala sesuatu yang diinterpretasi benar oleh gereja, di luar itu maka akan otomatis salah.  Sumber ketidakpercayaan yang mendalam terhadap ajaran gereja bermuara dari begitu banyaknya korban akibat memegang keyakinan secara membuta terhadap dogma gereja beserta segenap ajarannya, tanpa dilandasi dengan fakta yang objektif. Begitu banyak orang yang dipenjarakan, disiksa bahkan dibunuh karena memegang fakta yang diyakini mereka sebagai kebenaran, yang berbeda dengan kebenaran yang diwartakan oleh gereja, yang waktu itu diyakini bersumber dari kitab suci. Melawan ajaran gereja sama artinya melawan kitab suci, DAN ITU BERARTI MELAWAN TUHAN! Mereka dianggap sebagai tersesat dan kalau mengaku salah serta bertobat, baru mendapatkan pengampunan.

Gereja pada waktu itu betul – betul menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak untuk interpretasi atas kebenaran dan pengetahuan. Zaman ini dikenal dengan zaman kegelapan Eropa, karena akal dan taraf berfikir manusia waktu itu tak boleh melebihi dan berkreasi di luar dari apa yang telah ditetapkan gereja.

Galileo Galilei, seorang ilmuwan muda pada awal tahun 1600 – an berhasil membuat teleskop modern yang pertama di Eropa. Melalui teleskop tersebut, Galileo melakukan pengamatan terhadap alam semesta. Ilmu astronomi kala itu merupakan ilmu yang bagi kebanyakan orang masih dipandang berbau magis dan sekaligus ilmu pengetahuan. Sebelum Galileo, tidak ada alat yang mencukupi untuk mempelajari alam semesta secara lebih rinci. Orang pada waktu itu mengikuti sistem Ptolomeus untuk menjelaskan alam semesta. Teori Ptolomeus mendapatkan dukungan dari Gereja karena menyatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Matahari, bulan dan bintang berputar mengelilingi bumi. Teori ini memberikan penjelasan yang waktu itu berdasarkan logika Aristoteles, cukup masuk akal. Apalagi apa yang dinyatakan oleh teori Ptolomeus tersebut mendapatkan pembenaran dari Kitab Suci.

Tentu saja pendapat Galileo yang mendukung hipotesis Copernicus mendapatkan tentangan dari pihak Gereja. Pada tahun 1616 Gereja mengumumkan bahwa hipotesis Copernicus yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, secara formal sesat karena dengan jelas bertentangan dengan ajaran Kitab Suci baik menurut arti harfiahnya maupun berdasarkan penafsiran umum Bapa – bapa Gereja. Namun Galileo tetap saja mengembangkan pendapatnya yang diyakininya sebagai kebenaran, meskipun dengan hati – hati. Pada tahun 1610 Galileo menerbitkan buku yang berjudul Siderius Nuntius, yang menjadi kontroversi mengenai alam semesta. Akhirnya dia mendapatkan hukuman semacam tahanan rumah. Pada bulan tanggal 22 Juni 1633 teorinya secara resmi dikecam oleh Gereja dan dinyatakan sebagai sesat. Galileo dipaksa sambil bersumpah akan menolak kepercayaan pada alam semesta heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) dan bahwa bumi tidak bergerak mengelilingi matahari. Pemaksaan ini perlu agar bisa menghindari hukuman pengucilan dan bahkan mungkin kematian yang lebih dini (dan tidak wajar).

Sejak itulah kaum intelektual tidak mau diatur berdasar doktrin gereja. Maka dibuatlah asas jalan tengah  atau yang sekarang kita kenal dengan istilah sekulerisme,  di mana agama tidak boleh ikut campur dalam ranah kehidupan manusia. Penemuan baru dan kesesuaian dengan fakta telah membuat kalangan ilmuwan semakin merasa nyaman dengan kebenaran  yang terungkap melalui penelitian, hingga mereka makin merasa tak perlu lagi diatur oleh agama kecuali dalam wilayah spirituil.

 

2. Dampak dari Pemisahan Agama dengan Kehidupan (Sekulerisme)

Sayang sungguh sayang, ide pemisahan agama dari pengetahuan dan kehidupan telah juga diadopsi oleh muslim, baik kalangan intelektualnya maupun kalangan awamnya. Ketika seseorang telah merasa tak terikat dengan aturan agama dalam kehidupan maka dipastikan ia tidak mampu memikirkan hakikat penciptaannya, hakikat akan kehidupan sebelum dan sesudah dunia, dan hubungan antara kehidupan dunia dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia. Manusia-manusia yang seperti ini akan merasa bahwa Tuhan itu ada saat di rumah ibadah saja, keluar dari situ maka ia menafikkan keberadaan Tuhan, karena ia meyakini ide pemisahan agama dari kehidupan tersebut.

Manusia yang hanya takut pada Tuhan dalam rumah ibadah saja maka ia tidak akan lagi berfikir tentang kaidah dan tata caranya berbuat dalam kehidupan sehari, Apakah perbuatannya sesuai dengan perintah tuhan atau tidak. Bagi kalangan intelektual ide semacam ini tentu sangat berbahaya. Target atau pencapaian final dalam penelitiannya tidak berujung pada semakin tunduknya ia pada Tuhan, namun akan makin menjauhkannya dari itu. Akan tercipta manusia-manusia sombong dan pragmatis yang akalnya tidak mau tunduk pada penciptanya sendiri.

Hal ini jugalah yang juga diamini oleh Dosen saya yang notabene luarbiasa cerdas tadi, beliau menampik mentah-mentah doktrin dan campurtangan agama dalam dunianya yang akrab dengan science. Beliau sama sekali tak percaya bahwa agama bisa menjadi qiyadah (pemimpin) bagi tegaknya ilmu dan pengetahuan (Yah didukung dengan kenyataan bahwa agama yang dianutnya hanya mengatur masalah ibadah ritual)

 

3. BAGAIMANA ISLAM MEMANDANG PENGETAHUAN?

Sebagai seorang MUSLIM, maka kita wajib mengetahui hakikat islam, ilmu, dan korelasi  antara islam dengan ilmu agar kita tidak terjebak dalam pola pikir pragmatis dan sama saja dengan pemeluk kepercayaan lain maupun kaum agnoistik.

a. ISLAM adalah MABDA (IDEOLOGI)

Istilah sekulerisme sebenarnya hanya tepat bila disematkan pada AGAMA dan KEPERCAYAAN LAIN, mengapa??? Karena AGAMA/KEPERCAYAAN  LAIN hanya terbatas pada pengaturan individu dengan dirinya dan dengan TUHANnya. Jadi wajar jika dahulu selalu ada pertentangan antara ilmuwan dengan pihak gereja, karena memang dokrin gereja tidak paripurna mengatur kehidupan manusia. Berbeda dengan ISLAM. Islam bukan sekedar agama yang hanya mengatur hubungan individu dengan ALLAH saja, ISLAM adalah sebuah mabda’ (ideologi). Ia mengatur hubungan antara manusia dengan dirinya sendiri, dengan Allah, dan dengan manusia lain. Seluruh aspek kehidupan manusia dari urusan kamar mandi hingga pemerintahan, ISLAM PUNYA ATURAN DAN SOLUSI. Jadi tidak ada istilah PEMISAHAN ISLAM DARI KEHIDUPAN/PENGETAHUAN (fasludin ‘anil hayah). Bagaimana mungkin MUSLIM terpisah dari ISLAM dalam kehidupannya, sementara tiap tindakan, tiap ucapan, tiap langkap, tiap inci tubuhnya TERPAUT DENGAN ATURAN ALLAH???

 

b. Menuntut Ilmu Adalah WAJIB bagi tiap individu MUSLIM

Dari urusan pergaulan, pernikahan, penampilan, makanan, ekonomi, hingga pemerintahan, ISLAM punya aturan, termasuk dalam pendidikan/ILMU PENGETAHUAN.

“Apakah  sama  orang-orang  yang mengetahui  dengan  orang-orang  yang  tidak mengetahui?  Sebenarnya  hanya  orang  yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran”. (Al-Quran Surat Az-Zumar: 9)

“Mencari  ilmu  itu  wajib  atas  setiap muslim”. (HR. Ahamad dan Ibnu Majah).

Dari dua dalil di atas bahwa islam MEWAJIBKAN ummatnya untuk menuntut ilmu, tak ada pengecualian dari sisi jenis kelamin, umur, ras, bahasa, maupun pekerjaan, semua DIWAJIBKAN menuntut ilmu. WAJIB di sini adalah ketika dia tidak melakukannya, maka IA BERDOSA. Jadi SUNGGUH TAK BENAR jika sebagian orang masih MENGANGGAP bahwa ISLAM identik dengan BODOH, karena Demi ALLAH, ISLAM menuntut setiap penganutnya untuk menjadi manusia yang CERDAS dengan jalan menuntut ilmu.

 

c. ISLAM mendorong Ummatnya untuk BERFIKIR

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (TQS Al An’am : 99)

“Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwa sesungguhnya Kami telah menjadikan malam supaya mereka beristirahat padanya dan siang yang menerangi? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (TQS An-Naml : 86)

“Sesungguhnya pada pertukaran malam dan siang itu dan pada apa yang diciptakan Allah di langit dan di bumi, benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan-Nya) bagi orang-orang yang bertakwa.” (TQS Yunus : 6)

Coba telaah maksud ayat di atas. Ketiganya hanya sebagian dari isi Kitabullah Al-Qur’an yang menyuruh manusia untuk BERFIKIR sambil MENGAMATI CIPTAAN ALLAH. Adakah benar kalimat yang menyatakan bahwa ISLAM dan PENGETAHUAN itu BERTOLAK BELAKANG?? NONSENSE! Islam justru menyuruh muslim untuk senantiasa memikirkan penciptaan Allah yang terhampar di langit dan di bumi. Memikirkan di sini tentu dengan cara mengkajinya, menelitinya, hingga kita paham betul hakikat dari segala seuatu yang terhampar di hadapan kita.

 

d. Ilmuan ISLAM dan TEMUAN Spektakulernya.

Semakin kita meyakini keterikatan kita dengan ISLAM ditambah dengan kedudukan ILMU, maka tidak ada istilah bahwa Islam terpisah dari pengetahuan.  Justru Islam mewajibkan kita untuk menuntut ilmu dan senantiasa memikirkan penciptaan Allah.  Saat Islam benar-benar dijadikan pedoman dan tolok ukur dalam naungan khilafah Islamiyah (saat muslim berpegang teguh pada islam dan belum terjangkiti virus SEKULERISME), lahir cendekiawan-cendekiawan muslim yang temuannya begitu populer dan dijadikan acuan oleh masyarakat barat dalam ilmu pengetahuan modern. Cendekiawan2 ini adalah manusia CERDAS yang dia memahami hakikat kehidupan, hakikat  Pencipta dan tidak menafikkan keberadaanNYA dalam kehidupan, sehingga ia menggunakan akalnya untuk menciptakan sesuatu yang makin MENEBALKAN KEIMANANNYA pada ALLAH dan berguna bagi ummat.

Silahkan lihat ilmuwan2 yang lahir dalam masa kegemilangan Islam di bawah ini:

http://www.facebook.com/note.php?note_id=423434727250

http://www.forumbebas.com/thread-56855.html

So, ILMU tak bisa DIPISAHKAN dari AGAMA (baca : ISLAM), karena ISLAM yang mewajibkan kita menuntut ilmu Allah yang tersebar agar kita berfikir tentang kekuasaanNYA yang tak terbatas. ISLAM memeri keleluasaan yang selebar-lebarnya bagi muslim untuk mengaplikasikan ilmu yang didapat agar ia bisa menghasilkan sesuatu yang berguna bagi ummat.  Masih berfikir bahwa islam dan ilmu pengetahuan itu beda jalur???? Hehehe…. (^_^)d

 

[Semburat JINGGA]

One thought on “Islam dan Ilmu BERSENYAWA!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s