Rinai Hujan Di Sahara


Sebaris kisah manis yang aku rangkum dari dua belas bulan kebersamaanku dengannya di Maktab Al-Adhwa’-

Sosok itu kulihat pertama kali dua tahun lalu. Ia duduk di tangga masjid sambil tersenyum memandangi kehadiranku. Bibirnya tertarik halus seraya menyapaku ramah. Sungguh tidak ada yang istimewa dari penampilan fisiknya. Dia memiliki tinggi tak lebih dari 147 cm, badannya kering, matanya belo, dan hanya sandal jepit atau selop biasa yang diinjak kakinya kemanapun ia pergi. Sosok yang sangat biasa bukan? Ya memang sebiasa dan sesederhana itulah aku mengenalnya sebagai seorang sahabat sejati, kakak tercinta, teman seperjuangan, dan teman berbagi dalam lara dan ceria. Tapi sungguh keistiqomahan dan derita yang dialaminya membuatnya tampak sangat luarbiasa di mataku. Pernah suatu hari –ketika aku mulai belajar islam ideologis- aku datang padanya dan menangis sesenggukan. Aku begitu sedih ketika harus meninggalkan Korps Marching Band, sebuah kegiatan yang sebenarnya sangat berat untuk aku lepaskan. Kuceritakan padanya betapa aku sakit menghadapi semua hujatan dari teman2 kampusku. Ia terdiam. Aku berharap ia akan membelai lembut bahuku dan menarik kepalaku untuk bersandar di pundaknya. Tapi ia hanya diam. Lalu –setelah sekian puluh menit ia membiarkanku menangis tanpa belaian dan kata2 menenangkan- ia membuka mulutnya. ‘emmh, Res…mau aku ceritain sedikit pengalamanku gak? Pengalaman2 yang kalo sekarang aku ingat ternyata membuahkan hasil yang manis…

Dan dari perbincangan itu aku mulai mengenalnya. Dalam dan lebih dalam. Dan ratusan hari setelah hari itu aku tinggal bersamanya, menyaksikan bagaimana ia menjalani hidup. Menyesapi bagaimana ia mengubah cobaan menjadi tumpukan semangat, mentransformasi duka menjadi seulas senyum, merombak cacian menjadi untaian kasih sayang. Namanya sebut saja Intan, tahun 2010 ini ia memasuki umur yang ke-24. Ia tinggal di sebuah perkampungan padat di daerah perbatasan antara Jakarta Selatan dan Tangerang. Keluarga yang dimilikinya mungkin tidak seharmonis yang dimiliki oleh Anda dan orang lain. Kehidupan ekonomi keluarganya juga sungguh sesak. Sejak kecil ia terbiasa sarapan dengan sekepal nasi dan lauk sepotong bakwan yang harus dibagi untuk tiga orang. Ia juga selalu berjalan kaki ke sekolah dengan sepatu yang telah lama menganga. Itulah mungkin sebabnya sampai sekarangpun ia memiliki perawakan yang kurus, pecinta jalan kaki dan sandal jepit. Berawal dari kajian remaja dan perkenalannya dengan seorang ustadzah muda, ia mulai serius mengkaji islam di bangku SMK. Dan sejak itulah, Allah semakin besar mencintainya. Terbukti dengan cobaan yang senantiasa mengetuk pintu kehidupannya. Dulu, saat hari kelulusannya di SMK makin dekat, Kepala Sekolahnya mewajibkan seluruh siswi menanggalkan kerudung untuk foto ijazah, alasannya adalah agar telinga mereka nampak dan itu akan memudahkan mereka memperoleh pekerjaan. Ia yang saat itu telah berjilbab dan berkurudung lebar tentu saja menolak tegas. Hanya ia dan dua orang temannya yang tidak menerima perintah itu, sementara ratusan siswi muslimah lainnya mengganguk pasrah. Bukan hanya guru yang menegurnya, tapi teman2nya pun ikut mencaci karena pendiriannya yang dianggap kolot dan aneh. Dan saat hari pemotretan tiba -ketika muslimah lain melepas hijabnya dan merelakan aurat mereka tersingkap hanya demi selembar foto- ia datang dengan mantap tetap dalam pakaian syar’i seperti biasa (sebuah seragam sekolah yang sudah dijahit menjadi jilbab dan kerudung lebarnya). Guru2 dan Kepsek memarahi dan mencacinya, tapi ia tidak goyah. Ia bahkan sudah berniat untuk lebih baik tidak lulus saja daripada harus membuka auratnya. Dan kau tahu sahabat, perlakuan seperti apa yang diterimanya atas sikap cintanya pada Allah itu? Sang Kepsek menarik kerudungnya dengan paksa, auratnya hampir terbuka tapi ia berhasil melindunginya. Tak puas dengan itu sang petinggi sekolah itu MELUDAHINYA tepat di wajah dan mengatainya dengan deretan kata2 kotor yang tak pantas diucapkan. Tapi Maha Suci Allah yang menguasai hati hambaNya, seorang guru yang iba padanya melobi kepala sekolah dan guru lainnya agar diijinkan saja berfoto dengan kerudung. Dengan pertimbangan yang alot, ia dan dua rekannya diijinkan foto tanpa membuka hijab –tetap dengan cacian dan pandangan sinis orang2 di sekelilingnya.

Ujianpun berlanjut. Lulus dari bangku sekolah berarti beban baru menempel di pundaknya. Ia berkewajiban membantu perekonomian keluarga. Mulailah ia melamar pekerjaan ke berbagai tempat. Tapi sungguh, kapitalisme membuat muslimah berhijab rapat seperti dirinya tak menyisakan ruang kerja sedikitpun untuk mengais rejeki. Ada beberapa tempat kerja yang mau menerimanya dengan syarat harus menanggalkan jilbab dan kerudung. Sebuah syarat yang tentu saja tidak akan pernah dipenuhinya. Akhirnya setelah semua tempat yang didatangi tak bisa menerima dia apa adanya, ditambah lagi desakan dari keluarga atas kesulitan ekonominya, maka ia pun melirik sebuah profesi. Kau tau apa yang dipilihnya sahabat? Menjadi KHADIMAT (pembantu rumah tangga). Pekerjaan yang dianggap sebelah mata oleh sebagian besar orang. Mungkin kebanyakan khadimat menekuni profesi itu karena pasrah dan merasa tidak memiliki ilmu apa-apa, tapi tidak untuknya. Ia memilih pekerjaan itu karena hanya dengan menjadi khadimatlah ia tetap bisa memperoleh rejeki tanpa harus menanggalkan jilbab dan kerudungnya. Ia bukannya bodoh. Sama sekali tidak. Dia tetap kuliah meski hanya Diploma satu.

Ia bangun di saat semua orang masih terlelap. Ia bekerja keras hingga ashar menjelang –karena ada beberapa pintu yang membutuhkan jasanya sebagai khadimat- setelah itu ia bergegas menuju masjid tempatnya mengajar TPA. Dari masjid ia akan berjalan menemui adik2 kajiannya, mengontak ibu2 mereka, dan baru bisa merebahkan badan di saat semua orang sudah tertidur pulas. Itu ia lakukan setiap hari, tanpa henti. Belum lagi ketika ia mulai kuliah, Masya Allah. Begitu padat dan berat. Jangan tanya tentang cibiran dan ejekan tetangga akan pekerjaan yang dilakoninya. Tapi –seperti yang saya katakan sebelumnya- ia merubah gunung cacian itu menjadi sebuah senyum. Subhanallah. Dan lagi-lagi Maha Tinggi Allah dengan kemurahanNya, beberapa saat kemudian mulai ada ibu-ibu yang memintanya untuk mengajar anak2 mereka. Maka Alhamdulillah, tabungan amal dan materinya bertambah. Tiga tahun setelah itu dia mengenalku. Kami mulai sering berdiskusi bersama, masalah dakwah, kuliah, dan banyak hal lainnya. Pernah suatu waktu dia, aku dan beberapa akhwat lain harus mengadakan rapat hingga larut malam membahas acara besar yang akan kami adakan. Waktu itu ia sangat semangat, banyak sekali ide yang terlontar dari bibirnya. Samasekali tak ada tanda murung atau gelisah di wajahnya. Dan aku baru tau beberapa hari setelah rapat itu. Ternyata malam itu ia pulang BERJALAN KAKI, menempuh jarak Pondok Betung-Taman Mangu (bagi anda yang berdomisili di Jakarta atau punya kesempatan ke sana, silahkan anda mengukur betapa jauhnya jarak dua tempat itu. Sangat sangat melelahkan dan hampir tidak mungkin ditempuh dengan jalan kaki). Tapi ia melakukannya, seorang diri di tengah malam dengan keletihan yang teramat sangat setelah aktivitasnya yang sedemikian berat hari itu. Kau tahu sahabat? Ia melakukan itu karena ia tak punya uang sepeserpun untuk naik angkot, dan ia SAMA SEKALI TIDAK MEMBERITAHU KAMI yang malam itu berdiskusi dengannya. ‘Aku tidak mau membuat kalian repot dengan meminjam tiga ribu rupiah. Tenang aja, aku kuat kok’, itulah kalimat yang ia lontarkan ketika kami bertanya karena merasa bersalah. Ya, dia samasekali tidak mau membuat kami khawatir akan keadaannya, padahal jujur aku dan temanku memiliki uang cukup yang kami peroleh dari orang tua dan instansi dimana kami kuliah. Saat kami tinggal bersama di Maktab Al-Adhwa’, aku benar-benar melihat langsung bagaimana ia beraktivitas tiap harinya. Ia sudah siap berangkat di saat aku baru menggeliat bangun. Dan ia baru pulang (dan makan!) saat aku dan seorang temanku sudah siap tidur. Masya Allah. Ia begitu girang ketika seorang sahabat memberinya pinjaman sepeda untuk aktivitasnya. Padahal jarak yang harus ia tempuh ke tempat bekerja, kuliah, mengajar, adik2 kajian sangatlah jauh dari maktab kami. Namun sungguh, hanya rasa kagum yang bisa aku gambarkan untuk semangatnya berdakwah, menuntut ilmu, bekerja, dan membantu keluarganya. Kau tahu sahabat? Hampir tidak pernah ia berkeluh kesah tentang kesulitan atau masalah yang dihadapinya. Padahal aku dan temanku sangat ingin menjadi pendengar cerita dan pemberi semangat untuknya. Tapi sungguh, hampir tidak pernah dia mengeluh atau bercerita. Dia hanya bercerita jika topiknya menyangkut dakwah, strategi, adik2 kajian dan topik serupa itu. Paling, jika ia penat dan punya masalah ia cuma berkata “Res, aku capek deh hari ini, mau tidur aja ah..”. Maka menit berikutnya ia sudah menggilas penat dan dukanya dalam tidur tanpa mengijinkan kami tahu apa yang dia alami. Jangan tanya soal kegiatannya dalam berdakwah. Andai aku punya 100 seratus jempol, maka akan kuacungkan semua untuknya. Mulai dari teman kuliah, majikan2nya, anak didiknya di TPA dan les privat, ibu2 sekitar rumah, orang tua murid, sampai remaja di sekitar kampungnya adalah kontakan yang sebagian besar mau mengkaji islam. Ia begitu dirindukan kehadirannya oleh mereka. Di mataku dia bukan seorang wanita kecil dengan pekerjaan yang rendah, tapi ia adalah seorang wanita dengan ketaqwaan dan rasa ikhlas yang begitu besar. Lima bulan lalu, saat aku lulus kuliah dan harus pergi ke daerah penempatan, ia meneteskan airmata. Baru saat itu aku melihat matanya basah. Tapi ia tidak terisak. “Semoga Allah mengistiqomahkan kita dalam perjuangan ini dan memberikan kita hidup sampai Islam benar-benar tegak di bumiNya. Allah akan memberikan aku sahabat untuk menggantikanmu, begitupun Ia akan memberimu sahabat yang lebih baik untuk menggantikanku” Itu saja. Lalu ia mendoakanku sepanjang jalan sebelum kami berpisah. Nb: untuk mbakku sayang, aku tahu engkau mungkin sangat malas dan enggan untuk belajar menyusuri komputer dan dunia maya ini. Aku juga tahu jauh di sana engkau sibuk dalam semua urusanmu. Maka ijinkan aku menuangkan dan membagi kekagumanku atas dirimu di sini. Aku mencintaimu mbak, sangat mencintaimu, karena Allah…

8 thoughts on “Rinai Hujan Di Sahara

  1. Subhanallah… tak bisa berkata apa2 selain kekaguman atas dirinya. Semoga kita terutama saya yang papa ini, mampu menjadikannya sebagai uswah dalam mengarungi hidup ini..

    • Iya…ada begitu banyak orang yang mampu menginspirasi kita dg sikap2nya, dan alhamdulillah orang2 itu ada di dekat kita…🙂
      Syukran sudah berkunjung… ^_^

  2. semoga Allah memberikanku kekuatan untuk senantiasa menjaganya dalam suka dan duka. semoga perjumpaan di dunia ini terus berlanjut hingga ajal menjemput dan berjumpa kembali di jannahNya. dan semoga Allah meneguhkan kedudukannya sbg hambaNya yg senantiasa istiqomah dalam memegang teguh syari’atNya dan tanpa kenal lelah dalam memperjuangkannya. Aamiin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s