Langkah Yang Tak Pernah Mati


oleh: bungarevolusi

Matahari diatas kepalaku semakin menyengat, basahan air wudhu yang menyejukan sudah tak kurasakan lagi. Semakin lama semakin panas, tenggorokan ku pun tak merasakan puas, walaupun beberapa botol air mineral sudah ku tenggak. Aku hanya bisa menghela nafas. Beberapa batu bekas intifadah tadi pagi masih terselip di saku celanaku.

“Fayyad……….!” panggilan Abu Aziz menganggetkan lamunanku.
“ya abu” jawabku dengan sedikit terpapah, karena letih masih bersarang di tubuhku.
“Imam wafat”
“innalillahi wa’inailahirajiun”
“dia waffat, ketika kau sholat dhuzur tadi. Sempat dia memanggil namamu sebelum dia menyebutkan kalimat Syahadat” jelas abu Aziz. aku langsung menundukan kepalaku, aku tau bahwa itu konsukuensi seorang mujahid yang terjun dimedan perang. Tapi rasa sedih ini adalah manusiawi. Kota ini menjadi kota darah, bagiku ini adalah sebuah langkah yang sangat menyenangkan, langkah yang tak akan pernah mati. Palestina harus terselamatkan, jiwa dan raga inilah taruhanya.

Air mataku tertahan, aku tertunduk.
“Fayyad, mari kita gotong Jenazahnya ke makam para syahid” ajak abu Aziz. Aku masih tertunduk, dan tak berani menengadahkan kepalaku. Abu aziz pun mengerti, karena Imam adalah sahabatku, sahabat dekatku. 8 tahun kami hidup dalam satu atap, sejak ibu kami melepaskan kami untuk pergi berjuang bersama diNegeri suci ini. Waktu kami dilepas oleh ibu, aku dan imam sedang berumur 12 tahun. Cinta karena Allah lah semua terasa menjadi indah.
“Fayyad…” Abu Aziz memegang punggungku. Seolah dia tau betapa beratnya aku membopong mayat sahabatku sendiri.
“Abu…..” aku menengadahkan kepalaku,

“Fayyad, dia sudah berjuang keras, dia sudah gugur, dan dia syahid. Apa lagi yang kau beratkan. Dia kembali dengan wajah tersenyum. Mari Fayyad” Abu Aziz menemani langkahku menuju pembaringan terkahir imam. Dia terbaring kaku, senyum kebahagian merona dibibir tipisnya, kulit putihnya sudah tampak pucat. Tembakan dari Zionis masih membuat perutnya mengeluarkan darah, dan sedang dibersihkan oleh teman teman yang lain.

“Fayyad, mari kita mandikan jenazahnya. Darahnya sudah dibersihkan. Yakinlah Fayyad, aku, kamu dan teman teman yang lain, suatu saat akan menyusul imam. Dan insya Allah dipertemukan di Jannahnya, La Tahzan. Allah mempunyai janji yang indah, dan Allah bukan pengingkar Janji” mendengar ucapan Abu Aziz, aku langsung bangkit dan menguatkan diri.

“Bismillah….”
Selesai mengurus jenazah. Kamipun berdo’a bersama, keheningan menjadi sebuah bingkisan untuk imam, tangisan menjadi sebuah hadiah kecil dari kawan – kawan untuk imam. Selamat jalan imam, semoga kita dipertemukan dalam ruang yang luas, dalam cahaya yang terang dan dalam senyum yang gembira menatap wajah Rabb kita. Amin.



***


(Dua hari Kemudian)

Tenda yang tidak terlalu sempit sedang dipenuhi oleh beberapa mujahidin dari beberapa Organisasi Islam Dunia, rapat tertutup sedang diadakan untuk penyerangan kesebuah kota kecil diPalestina yang sedang dikuasai oleh Zionis Laknatullah. Abu Aziz diamanahkan menjadi benteng perintah pusat saat perlawanan berjalan.

“Fayyad, apa kamu siap untuk menjadi pengintai?” pertanyaan Abu aziz membuatku kaget? Pengintai? Salah satu posisi yang begitu berani yang belum aku rasakan.
“Insya Allah siap!” jawabku lantang
“Takbir….” Seru Abu Aziz,
“Allahu Akbar” Teman Teman pun ikut berseru

Setelah semua teman diberikan amanahnya masing-masing. Kami segera pergi ke tenda kesehatan untuk memeriksakan keadaan kami. Diperjalanan menuju tenda kesehatan, tiba-tiba Raihan terjatuh lunglai. Memang sedari tadi aku melihatnya pucat, tak sempat aku menanyakan kenapa dia, karena tadi aku dan kawan-kawan sibuk rapat mempersiapkan perlawanan.

“Raihan,,,,!” tersentak Abu Aziz mengangkat Raihan yang lemah, untung saja tenda kesehatan sudah tak jauh lagi, kami memang harus bersembunyi ketika ingin medirikan segala sesuatu yang berkaitan dengan para mujahidin perlawanan anti zionis.

“Masya Allah, satu nyawa lagi terenggut” ujar abu Aziz.
“INNALILAHI…..”
bukan hanya imam dan raihan saja yang sudah menghadap Rabb, tapi sudah ratusan bahkan ribuan para syahid yang menghadapNya. Maka sekali aku katakan Langkah ini tak akan pernah mati, setiap hari selalu bertambah dan bertambah para mujahid yang sadar akan makna JIHAD yang sesungguhnya. Allahu Akbar.

Pemekaman Raihan baru saja selesai, aku sungguh tak pernah meduga. Ajal memang tak pernah tau kapan datangnya, perang atau tidak perang dia pasti akan datang. Abu aziz adalah seorang laki-laki yang sudah lumayan tua. Tapi Ghirahnya, subhanallah. Aku saja bias dikatan kalah jauh dari belaiu, Komandan Jihad yang Allah kirimkan untuk kami memang dahsyat. Abu Aziz meninggalkan enam oarang anak dan satu orang istri disebuah Kota di Negeri Iraq, kebetulan beliau ditugaskan memandu kelompok Jihad di negeri Paestina. Subhanallah.

***


(Empat hari Kemudian)

Hari ini adalah hari dimana strategi dijalankan.Seperti biasa, ketika perlawanan akan dimulai. Abu Aziz selalu menulis surat untuk keluarganya, aku pernah bertanya untuk apa surat itu, dan jawabanya simple,
“untuk kenangan keluargaku jikalau aku mati dalam misi ini”
sebuah jawaban yang menyentuh.

Tidak, hari ini……hari ini aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari hari-hari biasanya Abu Aziz menulis surat, dia menitikan air mata hari ini. Baru kali ini aku melihat Abu Aziz menulis surat dengan menangis, biasanya beliau meronakan sebuah senyuman pada setiap kata dalam surat. Entahlah, mungkin beliau sangat merindukan keluarganya, dan aku sangat memahaminya. Akupun sesekali sering mengirim surat kepada ibu, sekedar membertahukan bahwa aku masih bernafas, dan surat terakhir aku kirim mengabarkan wafatnya Imam. Ibu, aku merindukanmu, Ayah, aku yakin aku akan mengejar cinta Allah, dan mendapatkan Syahid sepertimu. Adik-Adikku, aku juga yakin kalian akan menjadi muslimah pencetak mujahid selanjutnya.

“Fayyad, sedang apa kau disini. Istrihatlah. 6 Jam lagi kita akan mengemban misi besar!” suara Abu Aziz mengagetkanku.
“Iyya Abu!” Jawabku singkat.
“Fayyad!” tiba-tiba Abu Aziz memanggilku ketika langkahku bergerak menuju tempat istirahatku.
“ada apa Abu?”
“ini…” Belaiu menyodorkan sebuah amplop berwarna putih kepadaku.
“Apa ini Abu?” tanyaku heran
“ini surat untuk keluargaku, kirimkan setelah misi selesai, dan sebelum dikirim. Kau bacalah dulu, supaya menjadi semangat untukmu” jelas Abu Aziz.
“Lho, biasanya Abu yang mengirimkan surat ini langsung?”
“Aku capek pergi kekantor POS, maukan Bantu aku?” tanyanya.
“Dengan Senang hati abu” Abu Aziz melemparkan aku sebuah senyuman dan pelukkan kasih sayang seorang pejuang.

Enam Jam berlalu, aku segara bersiap. Sebuah Ikat kepala bertuliskan tauhid kukenakan, inilah penyemangatku. Tak berapa lama kemudian kami sudah tiba diarea perlawanan, sebuah kota mati dinegeri Palestina, dimana semua orang muslim tunduk dengan peraturan zionis, padahal ini adalah wilayah muslim, entah fikiran ku berkecamuk saat ini, aku harap akan ada mujahid yang semakin banyak berdatangan untuk membela negerinya sendiri.

Aku melangkah menuju tempat pembidikan. Abu Aziz menyertaiku.

“Fayyad, Allah dan malaikatnya bersama kita” Ujarnya.
Perkataanya semakin membuatku kuat, sekuat karang ditengah laut yang diterjang gemuruh ombak yang dahsyat.
“Bagaimana? Mereka semua pada lengah?” Tanya abu aziz sebelum menyerang.

Aku mengangguk,

Disebuah pertokaan, dilorong anak tangga kami bersembunyi. Dan ketika sudah siap kami akan maju dengan senjata seadaanya, kalau-kalau kami kehabisan peluru, kami memakai mengantongi batu.

“Allahu Akbar” takbir ini bertanda kami menyerang, pertempuranpun terjadi, zionis kaget dan kalang kabut dibuatnya, jumlah kami tidak lebih dari 50 orang, dan jumlah tentara mereka terlihat lebih dari 300 orang. Peretmpuran yang begitu dahsyat, hanya suara tembakan dan takbir, serta komando-komando dari beberapa komandan lapangan. Seketika itu aku melihat Abu Aziz sedang terengah-engah karena kelelahan. Musuh- musuh kami memakai senajat yang super canggih, disbanding kami dengan senjata sederhana.

“Allahu…akbar….Allahu Akbar….” Teriakan para mujahidin begitu menggema suara bom terdengar disepertiga jalur Gaza itu. aku menumpahkan beberapa peluru ku, menembus para zionis laknatullah alaih. Aku mengendap-ngendap menelusuri area lawan, untuk memasang sebuah bom dengan detonator jarak jauh, dan aku berhasil ditemplekan ke dalam sebuah jeep Israeli Defense Forces (IDF) tak lama beberapa menit kemudian bom itu meledak saat memasuki perbatasan Gaza. Dan kurang lebih aku menumbangkan 50 tentara Zionis.

“Fayyad,,, Allahu Akbar” teriak Abu Aziz, ternyata beliau melihatku memasang bom itu.

Tak berapa lama kemudian, beberapa helikopter tempur dari negara Zionis datang, mereka sudah mengetahui adanya konflik ini.
Abu Aziz memberikan perintah untuk segera mundur dari peperangan. Tetapi aku masih muak dengan para zionis itu. Beberapa peluru yang masih tersisa. ku tembaki mereka dengan membabi buta. peluru habis aku langsung mencari tempat perlindungan.

Beberapa tentara Zionis masih menembaki aku, dan aku masih berusaha berlari untuk mencari tempat perlindungan. saat itu bukan aku takut untuk menjadi syahid sekarang, tapi aku masih ingin membunuh mereka dengan tanganku sendiri.

“Ya Allah, jika Kau memperkenankan ku syahid hari ini, maka ambilah aku dengan keadaan khusnul khatimah, tapi jika tidak ya Allah, berikanlah pertolongan untuk diri ini” aku masih terengah-engah. nafasku seperti roda kereta yang berjalan kencang. Tunggu, aku ada dimana? dibelakangku sudah sepi. sudah tidak ada lagi yang mengejarku, tapi aku ada dimana?

selama delapan tahun aku belum oernah menginjak tempat ini. kota apa ini?
aku telusuri jalan, dikota itu, sepi. semua hening. tak ada satupun orang berada disini.
Ah,,,,aku tak boleh berfikir panjang lagi. aku harus segera menemui teman-temanku.
ku terus selusuru jalan, tak kurang dari tiga jam aku menemui teman temanku, sedang berkerumun dan menangis. Itu adalah suatu hal yang biasa terjadi ketika kami melakukan perlawanan.
“Fayyad,,, Ya ALlah Fayyad, kami kira kamu sudah mati, atau sudah tertangkap oleh zionis!” seru salah seorang teman perjuanganku.
“ALhamdulillah Allah ma’ana”
“Alhamdulillah ya Fayyad”
“Berapa yang gugur?” tanyaku sedikit menahan beberapa rsa sakit yang disebabkan oleh goresan-goresan benda tajam.
“25”

“Allahu AKbar, mereka insya Allah SyaHid” teriakku itu membuat semua orang termangu, hey….mengapa mereka seperti tak semangat.biasanya mereka paling bersemangat diantara aku pasca perlawanan.
“Abu Aziz salah satunya Fayyad” Ujar Umar.
Aku langsung terbelalak kaget, sore itu terasa menghimpit nafasku, aku tak tau lagi harus bagaimana.
“Ya Allah Ya Rabb, innalilahi wa’inailahi rajiun,dimana sekarang mayatnya?” tanyaku tergesa. mataku masih mencari-cari sosok beberapa jenazah yang terkulai lemah.
Aku melihat sosok mayat yang begitu tegap, banyak goresan luka diwajahnya. Sungguh ini kali aku tidak kuat melihatnya. Abu, kenapa kau meninggalkan aku saat aku tak berdaya seperti ini. Ya Allah, lapangkanlah hatiku untuk menerima semua ini.

Aku yakin, inilah yang terbaik untuk Abu Aziz.

Selesai pemakaman, aku merenungkan diri. Dan teringat akan amanah Abu Aziz, yah, SURAT. Surat itu masih ada disaku celanaku. Aku segera membuka isi surat itu.

Assalama’alaikum mujahida sholehahku….

Bagaimana kabar bidadari syurga ketika membaca surat ini? Aku mengharapkan
bidadari ini baik-baik saja. Sayang, bagaimana ke 5 jundullah kita? Aku berharap juga mereka baik-baik saja? Kapan kau akan melepaskan mereka untuk menyusulku keNegeri ini? Negeri dimana tumpahan darah menjadi saksi bisu akan kerasnya dunia?
Aku tak tau, ketika kau membaca surat ini aku masih bernafas atau tidak, karean seperti biasa aku mengirimi mu surat setelah peperangan. Tapi kali ini aku menulis surat ini sebelum peperangan.
Bidadari syurgaku, obat-obat yang kau kirim selalu ku minum, kangker yang bersarang diotakku semakin mengganas, tapi tenang sayang! Aku merasa baik baik saja, karena Allah selalu melindungiku dank u yakin kamu percaya itu

Aku kaget bukan kepalang!
“Abu Aziz? Kangker Otak? Mengapa beliau tak pernah bercerita. Ya Allah. Begitu tegarnya beliau, dalam kondisinya yang sedang sakit. Kangker otak pula, beliau masih tetap tegak berjuang!” pantas saja, sempat beberapa kali aku memergokinya sedang meminum beberapa tablet obat, dan alasanya itu adalah Vitamin. Ah….Abu Aziz, kau adalah Umar masa kini.
Ku sapu air mata yang sempat menetes dipipiku, lalu kulanjutkan membaca suratnya.

Karena aku yakin, kau dan anak-anak kita akan berkumpul bersama disyurga, Aku mohon kau segera mengikhlaskan Ali untuk bertempur, berkumpul dengan para mujahid disini. Disini ada seorang pemuda pemberani bernama Fayyad, dan ketika surat ini sudah selesai kau baca, tolong segera persiapkan Ali untuk segera berangkat ke Palestin. Aku yakin kau akan ikhlas melepasnya, karena kau adalah mujahidah sejati, yang diciptakan Allah untukku. Didunia dan di Akhirat.

Aku mencintaimu setulus hatiku,

SALAM SAYANG

AziZ

Subhanallah,
Aku yakin langkah ini tak akan pernah mati hingga tiba saatnya nanti. Dimana kaum muslimin akan bersatu untuk menghabiskan para tiran. Dimana kaum muslimin akab berjaya. Dimana orang-orang akan berbondong-bondong masuk dalam dien yang mulia ini. Ya Allah ya Rabb, aku yakin kau akan menghadirkan Abu Aziz – Abuz Aziz yang lain. Yang tak pernah putus asa walaupun sebenarnya dia sekarat. Selamat tinggal Abu Aziz. Semoga kita bertemu untuk bersama – sama memandang wajah Rabb yang Maha Besar. Allahu Akbar.

2 thoughts on “Langkah Yang Tak Pernah Mati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s