Ketika Kasihnya Tak Seindah Lagu


~ Oleh Semburat Jingga ~

Kasih ibu kepada beta,

Tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

*********

“Ibu butuh berapa ?”, sebisa mungkin kupendam kecewa dan membiarkan perasaan itu larut dalam tiap hembus nafasku. Kupandangi wanita yang sejenak tadi matanya berpendar girang saat kutanyakan berapa rupiah yang dibutuhkannya. Hanya uang yang bisa membuatnya senang, ia hampir tidak menggubris keberadaanku.

“Sejuta lima ratus ribu ya cah nggantheng, kontrakan ibu nunggak delapan bulan”, wanita itu cepat-cepat mengoleskan lagi bedak murahan pada mukanya setelah lelaki yang sedang menunggunya di ujung jalan mulai melambai tanda tak sabar. Sambil mengeluarkan uang, aku menyadari bahwa wanita ini sebenarnya tak lagi muda, namun sapuan bedak tebal itu menunjukkan betapa wanita itu berusaha keras menutupi kerut senja di dahi dan matanya.

“Ini Bu…”, wanita itu segera menarik lima belas lembar ratusan ribu dari tanganku.
“Suwun ya Ahyan, kamu memang anak yang berbakti. Ati-ati yo, ibu tak pergi sek”
Seulas senyum buru-buru yang lepas dari bibir wanita itu membatalkan keinginanku untuk mencegahnya pergi. Tak mungkin bisa membiarkan ibu pergi…, batinku. Wanita itu segera bergelayut di pundak lelaki yang sedari tadi menunggunya. Tawa keduanya memecah keheningan jalanan yang baru saja disapa hujan. Aku memandang mereka dari jauh dengan embun dingin di pelupuk mata..

*********

Sembilan belas tahun yang lalu aku melihat bocah itu untuk pertama kalinya di pelataran masjid Ar-Royan. Kerasnya angin dan gelegar guruh seolah terkalahkan dengan tangisan bocah itu. Ia tergugu dalam tangisnya bertelekan selimut kumal sambil memeluk erat bungkusan plastik hitam. Kesepian menari tersendat pada mata bocah itu saat aku menatapnya. Ia memanggil guruh dengan tangisannya, mungkin ia ingin mengadu bahwa apa yang dialaminya lebih hebat dari suara guruh. Tanpa perlu bertanya aku tahu kesedihan yang dirasakan bocah itu memang lebih dingin dan dalam dari air hujan.

Ahyan. Begitulah bocah itu mengenal dirinya. Ia tak ingat lagi dua penggal kata di belakang namanya, ia sudah lupa. Usianya yang kala itu baru empat tahun membatasi daya ingatnya meski terkadang ia bilang bahwa wanita yang meninggalkannya sendiri di pelataran masjid sering mengeja nama lengkapnya sebelum ia tidur dengan bentakan. Entah wanita berhati batu mana yang tega membiarkan Ahyan menggigil menahan lapar dan sedih di tengah hujan badai.
Tak banyak yang bisa aku tawarkan padanya sejak malam itu. Aku hanya penjual es dawet di pinggiran jalan kawasan wisata Baturraden. Tapi Ahyan kecil tidak mengeluh, ia mengikutiku sepanjang hari aku berjualan. Senyum tulus yang selalu menggantung di bibir merahnya seolah meyakinkanku bahwa kami bisa menjalani ini berdua. Ahyan kecil menyalakan lagi ruang gelap dalam jiwaku setelah sekian lama aku memang membiarkannya kosong karena kematian suamiku. Tak ada lagi kata hampa, sekarang hidupku mulai jelas dan terarah karena Ahyan selalu memberiku dorongan harus bagaimana aku bersikap. Mungkin dialah yang dikirimkan Allah sebagai jawaban doa-doa panjangku. Aku hanya meminta kesedihanku sirna, tapi ternya Allah memberiku lebih…

******

Kulihat seorang wanita dengan dandanan norak sedang bercanda dengan lelaki tengah baya di depan kontrakan kumuh itu. Asap rokok dihembuskannya berulangkali dengan nikmat sambil sesekali tawanya pecah menyaingi deru kendaraan yang melintasi jalanan tol di belakang pemukiman ini.

“Diakah orangnya…?”, tanyaku berulang kali, berharap alamat yang diberikan Bang Yol, kuli angkut Pasar Kebayoran, salah. Tapi sudah empat kali aku menanyakan pada orang yang lalu lalang di sekitar situ dan mereka menjawab Kampung Naga ya di sini dan rumah Mbak Warni -begitulah orang menyapa wanita itu- memang yang kini ada di hadapanku. Aku berusaha mengelak, tapi tawa renyah wanita itu memang mengingatkanku pada tawa seorang wanita yang belasan tahun lalu terdengar dari bilik kamarku saat menemani laki-laki. Suaranya juga sama dengan suara wanita yang rajin memenuhi gendang telingaku dengan gertakan tiap saat aku sedikit melakukan kesalahan. Aku berusaha meneropong ke masa lalu, berusaha mengingat bayangan wanita yang selalu meninggalkanku tiap malam menjelang. Mencari serpihan rindu yang dulu acapkali kurangkai di ujung ranjang, meski lebih banyak rasa nyeri yang hadir jika kuingat wanita itu. Dulu sekali aku kerap memanggil mesra wanita itu dengan panggilan ‘Ibu’. Dengan ucapan basmalah tak henti, kucambuk kakiku yang terasa berat untuk melangkah mendekati kontrakan itu. Paras wanita itu kini makin tertangkap jelas di mataku. Matanya yang keruh karena asap rokok, bibirnya yang dilapisi gincu tebal, dan juga guratan di dahinya. Salamku menghentikan perbincangan antara wanita itu dengan lelaki yang akan mengencaninya.

“Lu dah janjian ma yang laen War ?! Busyet dah!! “, lelaki tengah baya itu menegakkan tubuh dan meninggalkan wanita di hadapannya dengan kesal. Lelaki itu melewatiku dengan mata merah dan pandangan nanar, deru nafasnya meninggalkan aroma alkohol yang kental.

“Bang Dar, tunggu! Warni gak janjian sama laki ini kok Bang. Bang Dar, Bang Dar….!!!”
Wanita itu berusaha mengejar tamunya, namun yang dipanggil sudah membaur dengan seliweran orang di pemukiman ini. Wanita itu kembali dengan wajah lelah yang dibalut kecewa. Ia hendak mengungkapkan kekesalannya karena kedatanganku menghilangkan sumber uangnya. Tapi mulutnya yang tadi menganga mendadak terkunci rapat saat ia menekuri wajahku dan matanya menatap lekat tahi lalat di ujung bibirku.

“Ahyan….???!!!”

******

Anak lelaki kebanggaanku datang membuka pintu sambil mengucap salam. Senyum segera terbentuk di bibirnya saat ia melihatku. Ia mendekatiku dan mencium tanganku takzim, kebiasaan yang tak pernah dilupakannya sejak dulu. Lingkaran hitam di bawah matanya melebar, ia pasti sangat lelah.

“Bunda, tadi pulang kerja Ahyan mampir ke kontrakan Ibu”, ucapnya melebur kesunyian, “Tapi bukan keadaan Ahyan yang Ibu tanyakan, yahh seperti biasanya Ibu cuma ingat uang.”
Aku tau Ahyan tak bisa menutupi rasa kecewanya yang dalam, parau suaranya membuktikan bahwa ia berusaha menelan kesedihannya. Aku tau itu karena aku telah ikut melihatnya tumbuh dewasa seperti sekarang. Jatuh dari sepeda, bentakan dari guru, nilai ulangan yang jelek, bukanlah hal-hal yang bisa membuat Ahyan bersedih. Tapi jika menyangkut Yu Warni, pasti mata Ahyan selalu basah dibuatnya.

Ya, Yu Warni, ibu kandung anak lelakiku yang belasan tahun dicarinya tak memberinya sedikitpun tempat untuk merasakan belaian seorang ibu. Tak ada kata sayang yang meluncur dari wanita itu padahal Ahyan selalu mengharapkannya usai pencarian panjang hingga kami harus pindah ke Jakarta. Tak ada waktu dari wanita itu dimana Ahyan bisa menceritakan perjuangannya hingga ia bisa menjadi desainer interior terkenal seperti sekarang. Sebenarnya sembilan belas tahun ini aku sudah berusaha sebaik mungkin memberikan apa-apa yang Ahyan butuhkan dari seorang ibu kandung. Tapi aku sadar bahwa memang kasih sayangku saja tak akan pernah cukup, ia pasti juga menginginkan itu langsung dari wanita yang melahirkannya.
Entah pergi ke mana naluri ibu pada wanita itu. Setelah meninggalkan Ahyan hanya karena takut tak bisa menghidupinya, sekarang pun hatinya tak tergerak untuk mengasihi Ahyan seperti halnya ibu-ibu lain. Mungkin kasih sayang wanita itu telah ditukarnya murah dengan rayuan genit dan cumbuan mesra pada lelaki yang menghampirinya tiap malam hanya demi lembar puluhan ribu rupiah. Naudzubillah,,padahal aku bisa memberikan Ahyan kehidupan yang baik dan halal dengan modal rasa khusnudzanku pada Allah. Cuma berkhusnudzan bahwa Allah pasti memberikan jalan keluar di tiap-tiap ujung masalahku, cuma itu. Dan Allah memang selalu sesuai dengan prasangka hambaNya…

Kuangkat muka anakku itu, “bagaimanapun dia itu ibu kandungmu, Yan”

******

Mataku tak bisa diajak berhenti memandangi laki-laki muda yang juga berdiri kaku di hadapanku. Inikah Ahyan ? Tapi tahi lalat di ujung bibirnya itu…dia memang Ahyan. Sungguh di luar dugaan, bocah kecil yang dulu kutinggalkan di sebuah masjid di daerah Purwokerto dengan hanya berbekal beberapa lembar pakaian kini telah tumbuh jadi lelaki tampan ,sehat dan gagah!! Kemeja yang dipakainya tak mungkin berharga puluhan ribu, aku bisa tau dengan sekali lihat. Tangan kanannya menjinjing kopor kecil, barang bawaan yang biasa dibawa kaum elite yang kerja gedongan. Apa isi kopor itu, laptopkah atau uangkah ???!! Wah dahsyat, kalau isinya uang entah berapa rupiah isi kopor itu, bisa puluhan juta. Keturunan Bang Roim, preman terminal Lebak Bulus itu bisa juga jadi orang kaya. Whuahahaha….riangku dalam hati.

“Ia Bu, saya Ahyan…”, akhirnya ia berbicara juga setelah dari tadi ia juga sama-sama terpaku meneliti keadaanku. Aku hanya bisa menyodorkan senyumanku yang terlebar, ya sebuah senyuman paling manis setelah aku menyadari bahwa Ahyan bisa kujadikan sumber pundi-pundi uangku. Jadi aku tak perlu terlalu ngoyo melayani empat sampai lima lelaki dalam semalam. Luarbiasa…mimpi apa aku semalam.

“Ya ya ya Ahyan, ini memang Ibumu. Ibu yang melahirkanmu dengan susah payah. Sini Nak, peluk Ibu, sini…. Akhirnya kita ketemu…”, kuraih tubuh anakku yang sebenarnya sudah belasan tahun kulupakan. Tapi wajahnya yang tampan ini selalu mengingatkanku pada ayahnya, Roim, preman tak bertanggungjawab yang telah menghantarkanku pada kehidupan kupu-kupu malam…

******

Ahyan selalu membayangkan hal-hal yang indah jika suatu saat ia bertemu ibu kandungnya. Mungkin ibu akan memeluknya dengan limpahan kasih yang meluap, atau ibu akan segera mengantarkannya ke toko es krim dan mengijinkannya makan es krim sampai puas hingga ia tak bisa berdiri karena kekenyangan, atau mungkin ibu akan langsung mengajaknya tinggal bersama seterusnya. Dia terus tumbuh dengan harapan yang indah itu sejak kecil, ia menitipkan renda-renda impian itu pada langit dan bunda yang menggantungnya tinggi-tinggi. Bunda tak henti menyemangatinya, mengajarinya, mendidiknya, hingga ia rela mengayuh sepada kumbangnya kuat-kuat untuk berjualan es dawet. Kian hari Ahyan bisa melihat kaki bundanya makin mengeras dengan tonjolan urat hijau di sana-sini. Kalau bunda yang bukan ibu kandungnya saja bisa memberiku kasih sebesar ini, maka pasti ibu akan menyayangiku lebih dari ini. Itulah impian yang dipupuknya…

Tapi dua bulan yang lalu saat Ahyan menemukan ibu setelah sembilan belas tahun pencariannya, perlahan impian itu sirna. Ahyan hanya berharap apa yang ibunya lakukan adalah akibat akumulasi kelelahannya menjalani hidup. Tapi ketika setiap bertemu hanya rupiah yang dituntut oleh ibunya, maka Ahyan pun sadar bahwa seharusnya ia tak punya impian saja. Sekarang lelaki itu harus kembali ke kontrakan ibu, ingin ia melihat wanita itu. Meski untuk melihatnya berarti ia harus siap dengan permintaan ratusan ribu.
Ia membuka pintu kontrakan setelah berulang kali salamnya tak dijawab. Ia melihat ibunya sedang berhias di depan cermin yang karatan.

“Kok Ibu gak jawab salam Ahyan?”

“Males, Ibu lagi sibuk. Gak liat po?”

Ahyan menarik nafas, “Ahyan kan udah bilang Bu, Ibu ikut Ahyan aja tinggal sama Bunda. Ibu gak perlu kerja kayak gini”

“Ibu juga bilang bolak-balek sama kamu, Ibu gak mau. Titik. Gak usah mekso”
“Bu, kenapa Ibu kaya gini ? Kenapa kok Ibu kayaknya gak sayang sama Ahyan. Padahal Ahyan selalu ingat dan nyari ibu kemana-mana”

Wanita di hadapannya menyipitkan mata sambil memandang sinis, “Bukan kayaknya, Ibu memang gak sayang sama kamu!”

“Kenapa Bu?”, Ahyan lemas menahan tangis. Dia tak ingin membuka matanya lama-lama, karena ia takut ini mimpi. Dan bulir bening yang jatuh melewati pipinya menyadarkannya kalau memang ini bukan mimpi…

“Tanya tuh sama bapakmu!”, suara wanita itu meninggi.

“Bapak Ahyan siapa, Bu? Kenapa bapak bikin Ibu benci sama Ahyan?”
Wanita itu memandang Ahyan makin sinis, seringai senyumnya mengukuhkan kebenciannya pada Ahyan, “Bapakmu, orang yang memperkosa ibu sampe lahir kamu. Belum juga ilang rasa sakit habis lahiran, dia sudah jual ibu ke temen-temennya. Kamu itu lambang sakit hati ibu, tiap liat kamu Ibu ingat bapakmu yang brengsek itu!!”

Wanita itu menjinjing tas dan menatap tajam pada Ahyan, “Ibu mau kerja, kamu mau ngapain lagi!? Cepet pergi!” Ahyan tak bisa menjawabnya, ia hanya terus meneteskan air mata. Sunyi. Satu dengusan keras mengantar wanita itu keluar, ia meninggalkan Ahyan yang mematung di kursi. Ia berlalu begitu saja, seolah tanpa dosa. Berharap langganan yang menunggunya di ujung jalan sana bisa memaklumi keterlambatannya.

Perlahan Ahyan bangkit, berjalan terseok melewati pintu. Seorang wanita tengah baya berdiri gemetar di sudut luar kontrakan. Tangannya mendekap erat mulut agar tangisan perihnya tak sampai terdengar. Tak kuasa ia menahan kesedihan setelah dari luar ia mendengar apa yang dikatakan seorang wanita pada anak lelaki kebanggaannya. Dari belakang ia pandangi bahu Ahyan yang tersedu, sama seperti yang ia lihat sembilan belas tahun lalu saat menemukan bocah itu.
Seorang wanita berdandan menor menemui laki-laki yang menginginkan tubuhnya. Seorang wanita lain berdiri termangu mengusap kesedihannya. Dan seorang lelaki muda menatap langit luas, ingin meminta kembali impiannya yang benar-benar sirna. Baginya kini, kasih seorang ibu lebih indah didengarkannya lewat lagu…

*********

Kasih ibu kepada beta

tak terhingga sepanjang masa

Hanya memberi tak harap kembali

Bagai sang surya menyinari dunia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s